347 research outputs found

    FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMINTAAN BERAS DI KABUPATEN ACEH SINGKIL

    Get PDF
    ABSTRACTRice is the staple food of the majority of the Indonesian population, especially in Aceh Singkil Regency. Therefore, the demand for rice increases every year following the increase in population. This study aims to determine the factors that influence the demand for rice in Aceh Singkil Regency, collecting data using secondary data obtained from the Central Statistics Agency (BPS) of Aceh Singkil Regency and other related agencies from 2005-2020. The analytical method applied in this research is multiple regression. The results showed that simultaneously the correlation analysis obtained a termination coefficient (R2) of 0.996, meaning that the variables of rice price, corn price and population were able to explain the variation that occurred in the amount of rice demand. Simultaneously, the variables of rice price, corn price and population have a significant effect on the amount of rice demand with F value = 1.022 while F table = 0.05 = 3.49; and Ftable = 0.01 = 5.95. While partially, only the population has a significant effect on the amount of rice demand in Aceh Singkil Regency Keywords: Rice, Request, Price, Total population  ABSTRACTBeras merupakan makanan pokok mayoritas penduduk Indonesia, khususnya di Kabupaten Aceh Singkil. Maka dari itu, jumlah permintaan beras dari tahun ke tahun meningkat mengikuti jumlah penambahan penduduk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan beras di Kabupaten Aceh Singkil, pengumpulan data menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Aceh Singkil dan Dinas terkait lainnya mulai tahun 2005-2020. Metode analisis yang diterapkan dalam penelitian ini adalah regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara serempak analisis korelasi diperoleh koefesien diterminasi (R2) sebesar 0,996, artinya variabel harga beras, harga jagung dan jumlah penduduk mampu menjelaskan variasi yang terjadi terhadap jumlah permintaan beras. Secara serempak variable harga beras, harga jagung dan jumlah penduduk berpengaruh nyata terhadap jumlah permintaan beras dengan nilai F = 1.022 sedangkan F tabel α = 0,05 = 3,49; dan Ftabel α = 0,01 = 5,95. Sedangkan secara parsial, hanya   jumlah penduduk yang berpengaruh secara signifikan terhadap jumlah permintaan beras di Kabupaten Aceh Singkil. Kata Kunci: Beras, Permintaan, Harga, Jumlah Penduduk

    ANALISIS RANTAI NILAI DAN DAYA SAING GULA MERAH TEBU DI KABUPATEN ACEH TENGAH

    Get PDF
    Produk pertanian dalam bentuk bahan mentah memiliki nilai ekonomi yang rendah. Oleh karena itu pengembangan pertanian masih memberikan kontribusi yang kecil terhadap pendapatan masyarakat. Peran komoditas terhadap pendapatan masyarakat dapat dilihat dari faktor transfer input dan output, faktor teknologi dan nilai tambah produk akhir pertanian tersebut. Semakin besar nilai tambah produk pada subsistem produksi tersebut maka semakin besar pula perannya terhadap peningkatan pendapatan masyarakatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi rantai nilai gula merah tebu, seberapa besar nilai tambah ekonomi (EVA) gula merah tebu pada rantai pasok yang berlaku menganalisis tingkat daya saing komparatif gula merah tebu di Kabupaten Aceh Tengah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei, menggunakan data primer dan data sekunder yang berkaitan dengan rantai nilai dan daya saing gula merah tebu Kabupaten Aceh Tengah. Model analisis yang digunakan dengan metode deskriptif, Analisis Economic Value Added (EVA) dan menggunakan Biaya Sumberdaya Domestik (BSD). Hasil penelitian rantai nilai yang di Kabupaten Aceh Tengah terdiri dari 3 pelaku yaitu petani, industri dan pedangang gula merah, berdasarkan analisis EVA, menunjukan bahwa nilai tambah petani lebih besar dari nilai tambah yang diperoleh pabrik pengolahan maupun pedagang gula merah tebu yaitu sebesar 83,53%, petani merupakan faktor penentu dalam rantai nilai gula merah tebu. Usahatani tebu di Kabupaten Aceh Tengah memiliki keungulan komperatif dengan nilai KBSD antara 0,496 sampai 0,596. Setelah dilakukan analisis sensitivitas, nilai KBSD masih lebih kecil dari 1, aktivitas ekonomi tersebut mempunyai keunggulan komparatif. Analisis sensitivitas, menunjukan bahwa usahatani tebu di Kabupaten Aceh Tengah memiliki keungulan komperatif dengan nilai KBSD < 1. Artinya suatu aktivitas ekonomi gula merah tebu tebu, efisien secara ekonomi dalam pemanfaatan sumberdaya domestik, atau suatu aktivitas ekonomi tersebut mempunyai keunggulan komparatif.Kata kunci : Gula Merah Tebu, Rantai Nilai, Sumberdaya Domestik, Keunggulan Komperatif

    Perbandingan Tingkat Produktivitas dan Pendapatan Petani Kopi Arabika yang Melakukan Teknik Pemangkasan Rutin dan yang Tidak di Kecamatan Bener Kelipah

    Get PDF
    Pemangkasan tanaman kopi arabika oleh para petani di Kabupaten Bener Meriah dilakukan sebagai upaya meningkatkan produksi. Petani kopi melakukan pemangkasan sebagai upaya pembudidayaan kopi secara profesional. Umumnya, pemangkasan tanaman kopi dilakukan secara rutin empat kali dalam setahun. Namun, kegiatan ini tidak dilakukan oleh semua petani kopi di Kabupaten Bener Meriah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kegiatan pemangkasan terhadap tanaman kopi arabika, untuk mengetahui sistem pemangkasan yang telah diimplementasikan di Kabupaten Bener Meriah dan membandingkan perbedaan produktivitas dan pendapatan petani kopi arabika yang yang melakukan teknik pemangkasan secara rutin dengan petani yang tidak melakukan teknik pemangkasan secara rutin. Penelitian mengambil lokasi di Kecamatan Bener Kelipah, Kabupaten Bener Meriah dengan responden sebanyak 30 petani. Teknik pengambilan data dilakukan menggunakan stage sampling dan simple random sampling. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis data deskriptif dan uji hipotesis dua sampel saling bebas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan pemangkasan dilakukan hanya sebatas pada pemangkasan bentuk dan pemangkasan produksi (pemeliharaan). Pemangkasan rejuvenasi (peremajaan) hanya dilakukan oleh 13% petani menggunakan metode full stumping (potong habis). Model pemangkasan yang diimplementasikan yaitu model pemangkasan berbatang tunggal (single stem). Produktivitas tanaman kopi yang dipangkas secara rutin lebih besar dibandingkan dengan tanaman kopi yang tidak dilakukan pemangkasan secara rutin, sehingga pendapatan yang diperoleh petani yang melakukan pemangkasan secara rutin lebih tinggi dibandingkan dengan petani yang tidak melakukan pemangkasan secara rutin

    The Implications of the Establishment of New Autonomous Regions Based on Act 23/2014

    Full text link
    Consequences of the implementation of the Act Number 23 of 2014 on Regional Government spawned extraordinary complexity of the problems in some areas. One of the problems that arise is a rampant discourse of regional expansion that occurs both at the provincial and district/city. In essence, the establishment, merger, and abolition of the area aim to improve public services to be more optimal, shorten the span of control, and accelerate the welfare of society in strengthening the integrity of the Unitary Republic of Indonesia. The purpose of this study was to determine the implications of the establishment of new autonomous regions in the frame of the Republic of Indonesia based on Act Number 23 of 2014 on Regional Government; and to understand the implications of the establishment of new autonomous regions preparation for improving people's welfare by Act Number 23 of 2014 on Regional Government. This type of research is a normative legal research. Methods and techniques of data collection through library studies or studies document. Mechanicalanalysis of legal material is a descriptive qualitative. Conclusions from this research are that the implications of the establishment of regional preparation of new autonomous within the framework of the Unitary Republic of Indonesia before Act Number 23 of 2014 on Regional Government due to the local communities feel there is an imbalance of equity and fairness between regions with each other in the local government areas. Implications of the establishment of new autonomous regions preparation for improving people's welfare by Act Number 23 of 2014 on Regional Government that in order to establish an area or region of the expansion needed a measure as the basis for the determination. Establishment and expansion of new areas should be based on the divisions that are objective with those aspects of the financing of Human Resources and other support facilities

    Konsep Rechtsstaat dalam Negara Hukum Indonesia (Kajian terhadap Pendapat M.T Azhari)

    Full text link
    Pembahasan hukum negara telah memiliki rute yang panjang di tingkat yang ideal, mulai dari Yunani Kuno ke zaman modern. Namun, implementasinya di setiap negara berbeda, meskipun pada umumnya telah dikelompokkan dalam kelas Anglo-Saxon dan Benua Eropa. Khususnya di Indonesia, menurut pandangan Azhari, hukum negara (rechtsstaat), meskipun tidak banyak berbeda dari dua kelompok, tetapi hukum Indonesia, lebih khusus, negara hukum yang berdasarkan Pancasila, di mana nilai-nilai yang ditemukan di a sila Pancasila ditempatkan sebagai landasan untuk menjalankan pemerintahan berdasarkan huku

    Strategi Pengembangan Bubuk Kopi Gayo di Kabupaten Aceh Tengah

    Get PDF
    Potensi luas lahan dan kegiatan pengolahan kopi memang menjadi landasan ekonomi masyarakat, namun belum memiliki dampak langsung terhadap proses pengembangan produk inovatif kopi, sedangkan produk kopi arabika Gayo yang dipasarkan saat ini masih didominasi dalam bentuk green bean saja. Penelitian berlokasi di Kabupaten Aceh Tengah dengan pertimbangan besarnya potensi pengembangan produk olahan kopi Gayo. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik FGD (Focus Group Discussion) untuk menghasilkan faktor kekuatan dan kelemahan, serta peluang dan ancaman sebagai dasar penyusunan strategi pengembangan produk bubuk kopi Gayo. Rumusan strategi pengembangan produk bubuk kopi Gayo dari matriks SWOT adalah a) Mengembangkan wilayah sentra produksi kopi Gayo di Aceh Tengah yang didasari indeks geografis dengan sistem tanam varietas sejenis dengan karakteristik rasa yang beragam serta mempromosikan kopi arabika Gayo melalui event seperti pameran, b) Pengusaha industri bubuk kopi nasional perlu didukung sistem permodalan dan riset untk upaya diversifikasi dan  pengembangan inovasi produk olahan, c) Pengembangan inovasi varian rasa bubuk kopi Gayo sesuai selera konsumen, d) Mengurangi intensi persingan di antara daerah penghasil kopi, perlu dilakukan segmentasi pasar bubuk kopi berdasarkan negara tujuan dan target pelanggan, perlu standardisasi proses sertifikasi sistem industri kopi arabika berdasarkan selera negara tujuan.Kata kunci: Kopi Bubuk Gayo, Strategi Pengembanga
    • …
    corecore