1 research outputs found

    KONSELING KELUARGA DALAM MEMBANTU PENERIMAAN ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK TUNANETRA

    Get PDF
    Penerimaan orang tua terhadap keberadaan tunanetra melalui proses psikologis yang cukup rumit. Konseling keluarga merupakan alternatif pendekatan untuk menegaskan ulang peran dan fungsi dalam keluarga. Belum semua anggota keluarga memiliki keterampilan praktis dalam mendampingi aktivitas dan belajar, seperti keterampilan berkomunikasi, keterampilan melatih mobilitas, adaptasi, dan teknik-teknik belajar. Munculnya permasalahan yang dialami oleh anggota keluarga yang memiliki anak tunanetra, dapat diidentifikasi: bahwa keberadaan tunanetra di keluarga adalah bagian minoritas karena ketunanetraannya tersebut, sehingga belum semua memahami karakteristik, harapan, dan potensinya. Tujuan penelitian ini mempotret fakta empirik keadaan penerimaan orang tua yang memiliki anak tunanetra sebelum mengikuti konseling keluarga, program konseling keluarga yang sesuai, dan dinamika yang terjadi, serta fenomena yang muncul setelah orang tua mengikuti konseling keluarga. Melalui studi kasus dideskripsikan tiga subyek yang memiliki anak tunanetra yang terfokus pada keadaan penerimaan orang tua pada aspek 1) menghargai anak sebagai individu secara utuh, 2) menganggap anak sebagai diri yang unik, 3) mengenal kebutuhan-kebutuhan anak dan mencintai sebagai individu yang mandiri, 4) mencintai anak tanpa syarat. Orang tua yang menjadi subyek pada penelitian ini memiliki keragaman kondisi anak disabilitas dengan keadaan tingkat penerimaan yang berbeda-beda yaitu: tidak menerima, kurang menerima, menerima, sangat menerima. Temuan lain pada penelitian ini adalah adanya fenomena yang terjadi pada orang tua yaitu intensitas keadaan penerimaan setiap orang tua berbeda, keadaan orang tua yang memiliki anak tunanetra adalah disabilitas juga, kondisi disabilitas orang tua tersebut diperoleh dari gen orang tuanya (pembawa karier disabilitas), dan kondisi tingkatan keadaan disabilitas yang terjadi sangat bervariasi bahkan terdapat anak dengan multiple disability visual impairmen (MDVI). ;---Acceptance towards the existence of blindness goes through a quite complicated psychological process. Family counseling is an alternative approach to reaffirm the role and function of a family. In addition, not all family members have practical skills to assist in activities and learning, such as communication skill, mobility coaching skill, adaptation, and learning techniques. The emergence of these issues experienced by family members with visually-impaired children may be identified: that the existence of visual impairment in a family is a minority due to their visual impairment, so not all members understand their characteristics, expectations and potentials. This study aims at capturing empirical facts of the acceptance of parents with visually-impaired children before they attend a family counseling, appropriate family counseling programs, and dynamics that occur, as well as phenomena occuring after the parents attend the family counseling. Through this case study, three subjects with visually-impaired children are described, focusing on the parents’ acceptance in the aspects of 1) respecting a child as a whole person, 2) thinking of the child as unique, 3) being familiar with the child’s needs and love him/her as an independent individual, 4) loving the child unconditionally. Parents who become the subjects of this research have a variety of children’s disability conditions with different levels of acceptance, they are: not accepting, less accepting, accepting, and very accepting. Another finding in this research is the phenomena experienced by parents that are the intensity of every parent’s acceptance is different, parents’ condition whose children are visually-impaired is a disability too, parents’ disability is obtained from the parents’ genes (disability carrier bearer), and levels of disabilities vary greatly, even there are children with multiple disability visual impairment (MDVI)
    corecore