4 research outputs found
Pendugaan Model Pertumbuhan Dan Penyebaran Spasial Populasi Rusa Timor (Cervus Timorensis De Blainville, 1822) Di Taman Nasional Alas Purwo Jawa Timur
Timor deer is ruminant mammals' species with high adaptability which enable them to be introduced easily in to new habitat. The animal was experiencing population decrease which put them in the rare status. The research was aimed at the estimation of demographic parameter, population growth model, and the determination of spatial distribution pattern of the timor deer population in Alas Purwo National Park (APNP). Animal inventory was conducted using strip transect method with sample unit of 1.5 km length and 100 m width strips. Analyses were conducted on demography parameter (size and density, sex ratio, birth rate/natality and mortality), spatial distribution pattern, and population growth model estimation. The result showed that timor deer in APNP has population size of 8157 ± 1224 individuals with population density of 0,20 ± 0,03 individuals/ha. Population size in general was 1 – 8 individuals/group. The age structure of the population was progressive population with reproductive sex ratio of 1 : 2.3. Rough birth rate/natality was 0.19, while juvenile and fawn mortality was 0.13 and 0.31. The population was spatially distributed in group. Growth model of Timor deer was logistic model, with population growth rate of 0.22 in 38,844 individuals/year habitat carrying capacity
Pola Hujan Di Bagian Hulu Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo Dalam Perencanaan Pemanfaatan Sumber Daya Air (Rainfall Pattern for Water Resources Utilization Planning in the Upperstream of Bengawan Solo Watershed)
Informasi mengenai fluktuasi hujan sangat penting terutama bagi masyarakat lokal yang masih bergantung pada sumberdaya alam. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pola hujan di bagian hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo. Informasi ini dapat digunakan sebagai dasar dalam perencanaan pemanfaatan sumberdaya air. Data curah hujan tahun 1990-2016 dari 14 stasiun penakar hujan dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui fluktuasi hujan dan pergeseran musim. Curah hujan tahunan di hulu DAS Bengawan Solo bervariasi antara 1.433,5 mm hingga 3.231,2 mm dengan rerata mencapai 2.224,6 mm. Tidak terjadi Perubahan awal musim hujan maupun musim kemarau, namun demikian durasi musim hujan mengalami peningkatan dari 7 bulan (Oktober-April) pada periode 1990-1998 dan 1999-2007, bertambah menjadi 8 bulan (Oktober-Mei) pada periode 2008-2016. Sebesar 90% curah hujan terkonsentrasi pada musim hujan. Pemanenan air hujan dapat dilakukan untuk mengurangi runoff di musim hujan sekaligus sebagai upaya penyediaan sumberdaya air di musim kemarau
