9 research outputs found
Pengaruh Kedalaman Pemotongan Terhadap Keausan Pahat HSS pada Proses Pembubutan Baja Aisi 1040 Menggunakan CNC Turning
Proses produksi di industri tidak lepas dengan penggunaan mesin perkakas, salah satunya mesin bubut untuk proses pembubutan. Ketika pahat tidak diperhatikan tekait kemampuan untuk melakukan pembubutan dengan kedalaman pemotongan yang tepat dan dipakai terus-menerus lambat laun akan terjadi keausan pahat. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kedalaman pemotongan terhadap keausan tepi, keausan kawah, dan massa aus pahat. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pahat bubut HSS Bohler Mo Rapid Extra 1200 Molibdenum M2 yang sudah diasah membentuk pahat rata kanan sesuai geomeri dan digunakan untuk proses pembubutan Baja Aisi 1040 sepanjang 100 mm. Proses pembubutan menggunakan variasi kedalaman pemotongan 0,5 mm untuk pahat A, 1 mm untuk pahat B, dan 1,5 mm untuk pahat C dengan Vc dan feeding tetap masing-masing sebesar 21 m/min dan 0,02 mm/putaran. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa nilai keausan tepi tertinggi didapat dari pahat C sebesar 0,0302435 mm, kemudian pahat B sebesaar 0,0240594, dan pahat A sebesar 0,0175976 mm. Nilai keausan kawah tertinggi didapat dari pahat C sebesar 0,007836 mm, kemudian pahat B sebesaar 0,00668 mm, dan pahat A sebesar 0,004416 mm. Nilai massa aus tertinggi didapat dari pahat C sebesar 0,085 gram, kemudian pahat B sebesaar 0,057 gram, dan pahat A sebesar 0,039 gram. Kata kunci: Keausan Pahat; Kedalaman Pemotongan; HSS; Pembubuta
PENINGKATAN KETERAMPILAN GURU PRODUKTIF SMK DALAM PENDIDIKAN 4.0 MELALUI PELATIHAN PEMBUATAN DAN PUBLIKASI VIDEO PEMBELAJARAN DI YOUTUBE
ABSTRAKPendidikan 4.0 merupakan paradigma pendidikan masa depan, dimana pembelajaran cybergogy yang diterapkan. Pembelajaran ini memerlukan teknologi digital dan internet dalam penerapannya. Salah satu teknologi digital tersebut adalah video pembelajaran. Salah satu SMK Negeri di Kabupaten Tegal siap mendukung pendidikan 4.0 dengan menerapkan pembelajaran interaktif dengan menggunakan video. Tujuan dari pengabdian ini yaitu untuk meningkatkan keterampilan digital guru produktif SMK.. Ada 3 tahapan dalam pengabdian ini yaitu persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap persiapan dilakukan dengan (1) mengumpulkan informasi situasi di SMK, (2) mengatur waktu dan tempat pelatihan, dan (3) mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan saat pelatihan, lembar kuesioner dan soal pretest & posttest. Tahap pelaksanaan menggunakan beberapa metode, yaitu ceramah, demonstrasi, dan praktik langsung. Evaluasi dilakukan dengan memberikan pretest dan posttest, mengisi kuesioner kebermanfaatan pengabdian, dan pengamatan selama proses pelatihan. Hasil pengabdian ini menunjukan bahwa pelatihan ini diadakan pada tanggal 27 Juli 2023 dengan jumlah peserta 15 guru dapat meningkatkan pengetahuan peserta pelatihan dari 56,00 menjadi 77,33 dari skor maksimal 100. Selama proses pelatihan peserta pelatihan termotivasi. Peserta pelatihan merasa sangat puas dengan pelatihan yang dilakukan. Kata kunci: pendidikan 4.0; SMK; video pembelajaran; youtube ABSTRACTEducation 4.0 is a future educational paradigm, where cybergogy learning is applied. This learning is not only assisted by digital technology but uses the internet in its use. One of these digital technologies is learning videos. One State Vocational School in Tegal Regency is ready to support education 4.0 by implementing learning using videos. The purpose of this service is to improve the productive digital skills of SMK teachers. There were 3 stages in this service, namely, preparation, implementation, and evaluation. The preparatory phase was carried out by (1) gathering information on the situation at the SMK, (2) arranging the time and place for the training, and (3) preparing the tools and materials to be used during the training and the pretest & posttest sheets. The implementation phase used several methods, namely lectures, demonstrations, and direct practice. Evaluation was carried out before, during and after the activity by providing pretest and posttest, observing during the training process, and assessing the performance of the trainees. The results of this service showed that this training held on July 27 2023 with a total of 15 teachers participating can increase the training participants' knowledge from 56.00 to 77.33 from a maximum score of 100. During the training process the training participants were motivated. The training participants were very satisfied with the training carried out.. keywords: education 4.0; learning video; vocational high school; youtub
EDUKASI DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT: PENGENALAN PENGOLAHAN LIMBAH KULIT DURIAN MENJADI SABUN PADAT
Limbah kulit durian yang masih mengandung berbagai vitamin, flavonoid, saponin, selulosa, lignin, pati, dan kandungan lain sangat berpotensi untuk di olah menjadi berbagai produk diversifikasi. Kulit durian diketahui mengandung selulosa yang tinggi (50-60%) dan lignin (5%) serta pati (5%). Bagian dengan porsi 60-75% dari keseluruhan buah ini masih belum dimanfaatkan secara maksimal dan hanya dibiarkan menjadi limbah atau dibakar begitu saja. Salah satu produk olahan yang dapat bermanfaat untuk digunakan sehari-hari ataupun menjadi produk yang dapat dijual adalah sabun. Kandungan flavonoid dan saponin yang dimiliki kulit durian merupakan bahan yang biasanya dibutuhkan dalam pembuatan sabun sebagai bahan anti bakteri dan aditif pembuat busa sabun. Dengan adanya vitamin dan bahan organik lain yang terkandung, sabun hasil olahan juga berguna untuk memberikan nutrisi pada kulit. Metode yang digunakan pada produksi sabun adalah metode cold process dimana metode ini memiliki kelebihan, yaitu mudah untuk dilakukan dan dapat membuat sabun dengan ketahanan lama. Berkaitan dengan permasalahan tersebut maka dilakukanlah upaya inovasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat di wilayah Kelurahan Mangunsari, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang yang merupakan salah satu sentra produsen durian di Semarang. Upaya inovasi tersebut diprioritaskan pada: pemberian edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan limbah yang baik dan potensi dari limbah kulit durian, pelatihan keterampilan pada masyarakat mengenai teknologi pembuatan produk sabun berbahan dasar limbah kulit durian menggunakan metode cold process, pembekalan wawasan kewirausahaan terkait produk sabun
Understanding the Impact of Curing Duration on Characteristics of Durian Extract-Based Solid Soap
This study aims to understand the effect of curing duration on the characteristics of durian extract-based solid soap. Durian extract-based soap has unique properties that can be affected by the curing process, namely the duration of drying and maturation of the soap after manufacture. In this study, soap was produced using durian extract as the main ingredient, with curing time variations ranging from 2 weeks to 6 weeks. During the curing process, the water content in the soap decreased, and the saponification reaction between alkali and free fatty acids from durian extract took place further. The characteristics of the soap analyzed included hardness, pH, free fatty acid content, and foam durability and quality. The results showed that the soap became more challenging as the curing time increased, with a more stable pH and lower free fatty acid content. In addition, the durability of the soap increased, and the foam quality became more optimal. Longer curing durations were also associated with increased stability and safety of the resulting soap. This study provides new insights into the development of durian extract-based soap. It can be used as a reference to improve the quality of natural soap products through proper curing process management
Peningkatan kualitas hasil pengecatan melalui penerapan mesin rotary polisher di bengkel Yunex Paint desa Gesing Temanggung
Abstrak Tingginya jumlah penjualan kendaraan bermotor di Indonesia yang mencapai 94.067 unit pada tahun 2023 dapat menyebabkan berbagai permasalahan seperti kemacetan dan kecelakaan. Selain menimbulkan korban jiwa kecelakaan lalu lintas juga menyebabkan kerugian materi berupa kerusakan pada kendaraan seperti goresan atau penyok pada panel bodi mobil. Kerusakan tersebut dapat diperbaiki melalui proses pengecatan ulang untuk mengembalikan ke kondisi semula. Kualitas hasil pengecatan yang baik dapat dilihat dari nilai lekat dan nilai kilapnya. Nilai kilap menandakan kualitas hasil pengecatan yang dapat meningkatkan estetika dari sebuah kendaraan. Bengkel Yunex Paint yang beralamat di Desa Gesing Temanggung dipilih menjadi mitra pengabdian karena bergerak di perbaikan bodi dan pengecatan yang setiap minggunya mampu mengerjakan 2 unit mobil dengan total waktu pengerjaan 4-6 hari untuk pengecatan ulang panel bumper maupun kap mesin. Bengkel ini masih banyak menghadapi berbagai permasalahan pada proses produksi seperti hasil pengecatan yang kurang mengkilap karena finishing masih dilakukan secara manual sehingga jumlah mobil yang dikerjakan tidak mengalami peningkatan menyebabkan perkembangan usahanya kurang signifikan. Mengatasi permasalahan tersebut maka diusulkan penerapan mesin rotary polisher yang diharapkan dapat meningkatkan efisiensi waktu dan kualitas hasil pengecatan, sehingga meningkatkan daya saing dan produktivitas Bengkel Yunex Paint. Pengabdian ini melibatkan 11 orang termasuk dengan pekerja bengkel. Metode pelaksanaan meliputi ceramah, demonstrasi, praktik langsung serta pendampingan, dan pengambilan data. Data hasil ukur daya kilap yang didapatkan yaitu 24,7 sebelum finishing, 85,3 sesudah finishing manual dan 94,1 sesudah finishing menggunakan mesin rotary polisher. Dari data yang didapatkan mesin rotary polisher dapat menambah nilai kilap hasil finishing pengecatan. Kata kunci: kualitas pengecatan; nilai kilap; mesin rotary polisher. Abstract The high number of motor vehicle sales in Indonesia, which reached 94,067 units in 2023, can cause various problems such as congestion and accidents. In addition to causing casualties, traffic accidents also cause material losses in the form of damage to vehicles such as scratches or dents on car body panels. The damage can be repaired through the repainting process to restore it to its original condition. The quality of good painting results can be seen from the adhesion value and gloss value. The gloss value indicates the quality of the painting results that can improve the aesthetics of a vehicle. The Yunex Paint workshop located in Gesing Village, Temanggung, was chosen as a service partner because it is engaged in body repair and painting which every week is able to work on 2 units of cars with a total processing time of 4-6 days for repainting bumper panels and hoods. This workshop still faces many problems in the production process such as painting results that are less shiny because finishing is still done manually so that the number of cars being worked on has not increased causing insignificant business development. Overcoming these problems, the application of a rotary polisher machine is proposed which is expected to increase the efficiency of time and quality of painting results, thereby increasing the competitiveness and productivity of the Yunex Paint Workshop. This service involved 11 people including workshop workers. The implementation method includes lectures, demonstrations, hands-on practice and mentoring, and data collection. The gloss measurement data obtained were 24.7 before finishing, 85.3 after manual finishing and 94.1 after finishing using a rotary polisher machine. From the data obtained, the rotary polisher machine can increase the gloss value of the painting finishing results. Keywords: painting quality; gloss value; rotary polisher machine
Effect of alkalization time on the toughness and strength of jute sack waste lamina composite as an alternative car bumper material
Alkaline conditions, such as the concentration of Sodium Hydroxide (NaOH) and the duration of soaking time, significantly affect the mechanical properties of natural fiber and its composites. The objective of this study is to investigate the effect of alkali treatment on the impact toughness and tensile strength of laminated composites made from jute sack (burlap) waste woven fibers, which can potentially be used as a substitute material for vehicle bumpers. The experimental group comprised specimens that were alkalized by manipulating the duration of soaking and the concentration of alkali in the woven fibers of jute sack waste, with a fiber orientation pattern of 0°/+90°/0°/+90°/0°. The fiber immersion time is 24 hours, 48 hours, and 72 hours when using a 5% NaOH concentration. Epoxy resin serves as a composite matrix, specifically epoxy resin and epoxy hardener. Two sets of specimens underwent tests to measure their tensile and impact strengths. The result of the study reveals that the jute sack laminated epoxy composite with a fiber orientation of 0°/+90°/0°/+90°/0° had the maximum tensile strength and impact strength after a 48-hour alkaline treatment at 14.99 MPa and 0.010 J/mm2, respectively. The alkali treatment has successfully enhanced the tensile strength of the jute fiber by approximately 42.49% and 39.66% when compared to the untreated jute fiber. The study concludes that the utilization of alkaline process with NaOH improves the surface area of the fiber, compatibility with polymer matrix and mechanical strength
Pengaruh Kelengkapan Fasilitas, Pengelolaan Bengkel, dan Kompetensi Guru terhadap Prestasi Belajar Praktik Bubut Siswa SMK Se-Kabupaten Kebumen
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari kelengkapan fasilitas, pengelolaan bengkel, dan kompetensi guru terhadap prestasi belajar praktik bubut siswa SMK se- Kabupaten Kebumen.
Penelitian ini termasuk penelitian ex-post facto. Subjek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI pada Kompetensi Keahlian Teknik Pemesinan di SMK se- Kabupaten Kebumen yang berjumlah 1.035 siswa. Pengambilan data menggunakan angket dengan model skala Likert dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis regresi ganda.
Hasil penelitian menunjukkan empat temuan. (1) Terdapat pengaruh yang signifikan dari kelengkapan fasilitas terhadap prestasi belajar praktik bubut siswa pada taraf signifikansi 0,000 ≤ 0,05, dan kontribusi terhadap kenaikan prestasi belajar praktik bubut siswa sebesar 32,37%. (2) Terdapat pengaruh yang sigfinikan dari pengelolaan bengkel terhadap prestasi belajar praktik bubut siswa pada taraf signifikansi 0,026 ≤ 0,05, dan kontribusi terhadap kenaikan prestasi belajar praktik bubut siswa sebesar 21,43%. (3) Terdapat pengaruh yang signifikan dari kompetensi guru terhadap prestasi belajar siswa pada taraf signifikansi 0,000 ≤ 0,05, dan kontribusi terhadap kenaikan prestasi belajar praktik bubut siswa sebesar 23,71%. (4) Terdapat pengaruh yang signifikan dari kelengkapan fasilitas, pengelolaan bengkel, dan kompetensi guru secara bersama-sama terhadap prestasi belajar siswa SMK se- Kabupaten Kebumen, pada taraf signifikansi 0,000 ≤ 0,05, dan kontribusi terhadap kenaikan prestasi belajar praktik bubut siswa sebesar 40,1%
Peningkatan produktivitas jahe instan IRT Bekti Pertiwi melalui penerapan mesin pengaduk dan mesin timbang otomatis
Abstrak Jahe (Zingiber officinale) merupakan tanaman tropis yang telah digunakan selama ribuan tahun sebagai bahan obat tradisional, rempah, dan tambahan dalam makanan serta minuman. Salah satu produk olahannya adalah minuman jahe instan, yang kini semakin berkembang. IRT Bekti Pertiwi di Desa Gesing, Kabupaten Temanggung, merupakan industri rumah tangga yang memproduksi jahe instan. Namun, produksi mereka terbatas akibat keterbatasan peralatan, hanya mampu memproduksi 2 kg jahe per hari dalam waktu 5 jam. Untuk meningkatkan produktivitas, Tim Dosen dari Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang (UNNES) bersama dua mahasiswa, mengembangkan mesin pengaduk adonan jahe dan mesin timbang otomatis. Mesin pengaduk adonan berkapasitas 5-10 kg menggunakan motor listrik, sedangkan mesin timbang otomatis berbasis Arduino dilengkapi dengan sistem kontrol untuk mengukur dan menyesuaikan berat jahe yang dimasukkan ke dalam kemasan. Penerapan teknologi ini dilaksanakan melalui program pengabdian masyarakat yang mencakup sosialisasi, pelatihan, dan evaluasi. Melalui kegiatan pengabdian ini, produksi jahe instan di IRT Bekti Pertiwi mengalami peningkatan hingga lima kali lipat. Diharapkan, kegiatan ini dapat berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan memperbesar kapasitas produksi serta meningkatkan daya saing produk jahe instan. Kata kunci: jahe instan; pelatihan; mesin pengaduk adonan; mesin timbang otomatis. Abstract Ginger (Zingiber officinale) is a tropical plant that has been used for thousands of years as a traditional medicinal ingredient, spice, and addition in food and beverages. One of its processed products is instant ginger drink, which is now growing. Bekti Pertiwi home industry in Gesing village, Temanggung district, produces instant ginger. However, due to limited equipment, they can only produce 2 kg of ginger per day in 5 hours. To increase productivity, a team of lecturers from the Faculty of Engineering, Universitas Negeri Semarang (UNNES), together with two students, developed a ginger dough mixer and an automatic weighing machine. The dough kneading machine with a capacity of 5-10 kg uses an electric motor, while the Arduino-based automatic weighing machine is equipped with a control system to measure and adjust the weight of ginger put into the packaging. The application of this technology is carried out through a community service program that includes socialization, training, and evaluation. Through this community service program, the production of instant ginger in Bekti Pertiwi's IRT has increased up to five times. Hopefully, this activity can contribute to improving the welfare of the community by enlarging production capacity and increasing the competitiveness of instant ginger products. Keywords: instant ginger; training; dough mixer; automatic weighing machine
Inovasi alat press dan cetak tahu pada UKM tahu Ngaran
Abstrak UKM Tahu Ngaran berlokasi di Kelurahan Pakintelan Kecamatan Gunungpati Semarang dan memproduksi tahu secara mandiri mulai tahun 2002. Tahu Ngaran setiap proses produksi membutuhkan 10 kg kedelai dan menghasilkan 6 peniris tahu, dimana setiap tahu dijual dengan harga Rp. 40.000,- per peniris. Tahu Ngaran setiap harinya mampu produksi 5-10 kali proses produksi, yang dipasarkan ke daerah Bangetayu Semarang. Permasalahan mitra yaitu 1) UKM belum menggunakan teknologi, 2) Alat cetak tahu masih terbuat dari anyaman bambu, 3) Pemasaran tahu belum menggunakan kemasan. Solusi yang ditawarkan meliputi; 1). Pembuatan alat press dan cetak tahu terbuat stainless steel, 2). Tahu dikemas sehingga produk tetap higienis dan pemberian label kemasan. Tujuan dari kegiatan PkM meningkatkan produktivitas dan higienitas tahu pada Tahu Ngaran, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan perajin serta masyarakat Pakintelan Kecamatan Gunungpati pada umumnya. Metode yang dilakukan meliputi 1). koordinasi tim dengan mitra pelaksanaan kegiatan PkM; 2). Sosialisasi proses pembuatan tahu yang higienis ;3). Fasilitasi alat press dan cetak tahu berbahan stainless steel ;4). Pembuatan label kemasan; 5). Praktek penggunaan alat press dan cetak tahu hasil PkM; 6). Pendampingan; 7). Evaluasi pelaksanaan dan keberlanjutan program. Hasil kegiatan PkM yaitu modifikasi alat press dan cetak tahu berbahan stainless steel, sehingga mudah dibersihkan dan mempercepat proses cetak tahu. Alat cetak tahu sebelumnya menggunakan pemberat batu yang membutuhkan waktu sekitar 35 menit, sedangkan dengan alat hasil PkM dapat mempersingkat waktu menjadi 15 menit. Dengan demikian dengan alat hasil PkM dapat meningkatkan produksi Tahu Ngaran. Kata kunci: tahu; cetak tahu; higienis; stainless steel. AbstractUKM Tahu Ngaran, located in Pakintelan Village, Gunungpati District, Semarang, has been independently producing tofu since 2002. Each production cycle requires 10 kg of soybeans and yields six trays of tofu, with each tray sold for Rp. 40,000. Tahu Ngaran conducts 5 to 10 production cycles per day, distributing its products to the Bangetayu area in Semarang. Several challenges have been identified in the production process: (1) the absence of modern technology adoption, (2) the use of woven bamboo as the primary material for tofu molding equipment, and (3) the lack of proper packaging in the marketing strategy. To address these issues, the proposed solutions include: (1) the development of stainless steel tofu pressing and molding equipment to enhance hygiene and efficiency and (2) the implementation of hygienic packaging with labeling to improve product quality and marketability. This community program (PkM) aims to enhance the productivity and hygiene of tofu production at Tahu Ngaran, thereby contributing to the well-being of tofu artisans and the broader community in Pakintelan Village, Gunungpati District. The methodology employed in this study consists of several stages: (1) coordination between the research team and SME partners, (2) dissemination of information on hygienic tofu production processes, (3) provision of stainless steel tofu pressing and molding equipment, (4) development and application of product labeling, (5) training in the use of the improved tofu press and mold, (6) continuous mentoring, and (7) evaluation of program implementation and sustainability. The outcomes of this PkM initiative include the successful modification of tofu pressing and molding equipment using stainless steel, which facilitates cleaning and enhances production efficiency. The traditional tofu molding process relied on stone weights, requiring approximately 35 minutes per cycle. In contrast, the newly developed equipment reduces processing time to 15 minutes. This technological improvement significantly increases production capacity and contributes to the overall enhancement of the tofu manufacturing process at Tahu Ngaran. Keywords: tofu; tofu mold; hygienic; stainless steel
