587 research outputs found
BEBERAPA FAKTOR INDIVIDU YANG BERHUBUNGAN DENGAN KASUS CARPAL TUNNEL SYNDROME (CTS) PADA PEKERJA BATIK ( STUDI KASUS PADA INDUSTRI BATIK DI DESA KALIBARU KECAMATAN CIREBON BARAT KABUPATEN CIREBON)
Pekerjaan mencetak batik merupakan pekerjaan dengan gerakan-gerakan berisiko terkena CTS seperti gerakan berulang, bertekanan, deviasi ulnar, fleksi dan ekstensi. Dengan demikian para pekerja pencetak batik merupakan komunitas pekerja yang mempunyai resiko terkena kejadian CTS. Oleh karena itu peneliti melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara beberapa faktor individu terhadap CTS pada pekerja pencetak batik di Desa Kalibaru Kecamatan Cirebon Barat Kabupaten Cirebon. Jenis penini termasuk Explanatory dengan pendekatan cross sectional dengan menggunakan populasi total sebagai sampel 40 orang.
Hasil penelitian diketahui faktor-faktor individu yang merupakan faktor risiko terjadinya CTS pada pekerja pencetak batik yaitu umur, pengalaman kerja, hobi/aktifitas lain di luar kerja, riwayat trauma pad atangan dan riwayat pekerjaan. Dari beberapa faktor individu menunjukkan tidak ada hubungan dengan kejadian CTS pada pekerja. Disarankan pdpen selanjutnya untuk menggunakan sampel yang lebih besar dan memasukkan faktor risiko pekerjaan dan kondisi kesehatan sehingga dapat diketahui faktor-faktor yang sebenarnya berpengaruh terhadap kejadian CTS itu.
Kata Kunci: CTS, FAKTOR INDIVID
PROSES PRODUKSI PROGRAM METRO 10 DI STASIUN TELEVISI METRO TV ( Periode 5 April – 5 Juni 2010 )
Media massa pada hakekatnya merupakan alat atau sarana dalam komunikasi massa.
Oleh karena perannya sebagai sarana, ia bertugas membawa pesan yang harus disampaikan
kepada massa.
Media massa memiliki ideologi yang berorientasi kepada massa. Maka pada abad modern
ini, media massa telah menjadi lembaga sosial yang paling berpengaruh terhadap berbagai sisi
kehidupan masyarakat modern, seperti intelektualitas, jadwal kegiatan, persepsi, orientasi politik,
budaya, nilai nilai kemasyarakatan, pola-pola hubungan kemanusiaan, dan pola perilaku yang
lain.
Media massa banyak jumlahnya, mulai dari yang tradisional sampai yang modern yang
dewasa ini banyak dipergunakan. Media ini meliputi kentongan, bedug, pagelaran kesenian,
surat, papan pengumuman, telepon, telegram, pamflet, poster, spanduk, surat kabar, majalah,
film, radio, dan televisi yang pada umumnya dapat diklasifikasikan sebagai media tulisan atau
cetakan, visual, audio, dan audio-visual.
Pada perkembangannya, televisi menjadi media yang paling efektif dan pengaruhnya
semakin bertambah besar dewasa ini. Efektifitas televisi disebabkan oleh sifat audio-visual yang
dimilikinya. Dengan suguhan audio-visual kita dapat lebih mudah menangkap informasi yang disampaikan tanpa perlu banyak bepikir. Bahkan menurut Dr. Jack Lyle, Direktur Institut
Komunikasi East West dari East West Centre, Honolulu, Hawai, televisi bertindak sebagai agent
of displacement. Ia menjelaskan bahwa di Amerika Serikat, televisi menggantikan kebiasaan
menonton bioskop. Di Indonesia, tentu yang digantikan adalah radio dan surat kabar. Pada tahun
1978, UnHas mengadakan penelitian mengenai arus informasi ke wilayah pedesaan di Sulawesi
Selatan. Hasil penelitian di antaranya mengatakan bahwa pengetahuan tentang kejadian-kejadian
di luar negeri dan di kalangan pemerintahan hampir seluruhnya diperoleh pertama kali dari
televisi (97%). Dimana terdapat televisi, maka disitu perhatian terhadap radio dan surat kabar
boleh dikatakan “terkubur sama sekali”.
Berbagai macam produk jurnalistik televisi disuguhkan kepada masyarakat untuk
memenuhi kebutuhan mereka akan informasi. Diantaranya terdapat News (program berita). News
merupakan hasil dari proses jurnalistik yang meliputi pencarian, pengolahan, analisis, dan
penulisan berita, kemudian menyampaikannya kepada publik melalui sarana media massa.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa News merupakan esensi dari media massa, karena di
dalamnya mencakup semua fungsi media massa terutama fungsi menyiarkan informasi (to
inform), selain itu juga fungsi mendidik (to educate), fungsi menghibur (to entertain), dan fungsi
mempengaruhi (to persuade). Maka dari itu, setiap stasiun televisi memiliki acara khusus berita,
baik itu televisi pemerintah, swasta, maupun lokal. Sebagai contoh, di SCTV terdapat program
Liputan 6, Trans TV memiliki program Reportase, RCTI dengan Seputar Indonesia, dan
sebagainya.
Metro TV merupakan stasiun televisi yang menyajikan format berbeda dengan stasiun
lainnya. Metro TV memilih menjadi stasiun televisi berita pada awal kemunculannya. Sampai
sekarang, Metro TV tetap konsisten sebagai pioneer televisi berita di Indonesia. Maka terlihat sekali profesionalitas awak medianya dalam pemenuhan kriteria penyajian berita seperti
Accuracy (Tepat), Brevity (Singkat), Clarity (Jelas), Simplicity (Sederhana), dan Sincerity
(Jujur).
Penyajian berita yang baik tentu harus didukung proses pembuatan berita yang baik.
Maka dari itu penulis melakukan kegiatan magang di stasiun televisi Metro TV untuk
mempelajari proses pembuatan hingga penyajian berita dengan baik sekaligus menerapkan ilmu
yang diperoleh sewaktu kuliah
RANCANG BANGUN INVERTER SATU FASA TOPOLOGI PUSHPULL VARIABLE VOLTAGE
Pada penelitian ini dilakukan perancangan serta pengujian inverter satu fasa topologi pushpull dengan variable voltage. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui cara merancang dan melakukan simulasi rancang bangun inverter satu fasa topologi pushpull variable voltage serta hasil keluaran inverter tanpa beban dan dengan beban. Untuk membangkitkan sinyal yang dapat diubah duty cycle nya digunakan TL 494 yang keluarannya dihubungkan dengan driver MOSFET IR2110. Hasil perancangan dan pembuatan rangkaian menunjukan bahwa inverter dengan variable voltage berhasil dibuat, dimana keluaran dari inverter adalah modified sinusoidal dengan frekuensi sebesar 50 Hz. Efisiensi alat yang telah di buat sebesar 33%. Pada saat menggunakan beban lampu pijar dengan beban sebesar 35 W terlihat bahwa tegangan output keluaran mencapai 200 V. Selanjutnya pada saat menggunakan beban lampu LHE dengan beban sebesar 40 W terlihat bahwa tegangan output keluaran mencapai 200 V. Pada saat menggunakan beban lampu LED dengan beban sebesar 15 W terlihat bahwa tegangan output keluaran mencapai 213 V dan tegangan ini masih sesuai dengan batas minimal tegangan jala-jala yang diperbolehkan sebesar 10%. ;--- In this research, design and testing of single phase inverter pushpull topology with variable voltage. The purpose of this study is to learn how to design and simulate design a single phases inverter pushpull topologies variable voltage and the output of the inverter no-load and load. To generate a signal that can be modified duty cyclenya used the TL 494 output associated with IR2110 MOSFET driver. The results of the design and manufacture a series of shows that inverter with variable voltage has been established, in which the output of the inverter is modified sinusoidal with a frequency of 50 hz. Efficiency tools that have been created by 33. When using an incandescent lamp load with a load of 35 W seen that the output voltage output reaches 200 V. Next, when using LHE light load with a load of 40 W seen that the output voltage output reaches 200 V. When using LED lamp load with a load of 15 W output is seen that the output voltage reaches 213 V, and this voltage is in accordance with the minimum threshold voltage of the grid is allowed by 10%
ANALISIS RANTAI NILAI TEMBAKAU DI KABUPATEN TEMANGGUNG (Studi Kasus Kecamatan Ngadirejo, Tembarak, Bulu, Kabupaten Temanggung)
Tobacco plant is one of the plants that is very reliable by residents who
are in District Bulu, Ngadirejo, Tembarak in order to live his family. Tobacco
planted in the kecamatan is a tobacco plant type kemloko 1,2,3 but the farmers
there mostly wearing tobacco type kemloko 2.
Kecamatan Bulu, Ngadirejo, Tembarak is the largest producer of tobacco plant in
Temanggung Regency. The high potential of production of Tobacco plants in
Bulu, Ngadirejo, Tembarak is not accompanied by the processing of Tobacco so
that the Value Chain stalled. This study aims to analyze the Value Chain of
Tobacco Commotion so as to increase the productivity of Tobacco commodities in
Bulu, Ngadirejo, Tembarak, District Temanggung, Central Java.
The method of analysis used in this study is Value Chain Analysis (Value
Chains Analysis), The sample used is the quota sampling with the number of
respondents 100 farmers tobacco by Snowballing method for tobacco farmers
respondents.
The results showed that in the Value Chain of Tobacco Commitment in
Temanggung Regency with the margin of tobacco farmers and wholesalers is 0
due to large traders acting as commissioners. Margin for merchants with factory
representatives is 5,000, a significant margin increase is due in the representative
of the factory there is Value added
Strategi Pengembangan Agribisnis Komoditas Padi dalam Meningkatkan Ketahanan Pangan Kabupaten Jember
Tujuan dari penelitian ini adalah 1) menganalisis kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman untuk mengembangan komoditas padi dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan; 2) melakukan analisis rumusan alternatif strategi yang tepat untuk pengembangan komoditas padi dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan; 3) menentukan prioritas strategi yang seharusnya dipilih untuk pengembangan komoditas padi dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan; 4) memberikan rekomendasi kebijakan yang harus dilakukan pemerintah pusat/ daerah untuk meningkatkan ketahanan pangan. Analisis SWOT digunakan untuk menentukan alternatif strategi yang dapat dilakukan pemerintah. Analisis QSPM berfungsi menentukan pilihan strategi prioritas dalam mengembangkan agribisnis padi di Kabupaten Jember. Metode deskriptif digunakan untuk menjelaskan studi kasus pada Dinas Pertanian Kabupaten Jember dengan sampel responden sebanyak 35 orang. Motivasi petani merupakan kekuatan utama yang dimiliki oleh pemerintah Kabupaten Jember. Kelemahan utama yang harus diperbaiki adalah kondisi finansial yang lemah. Peluang utama yang dimiliki adalah peningkatan permintaan beras dan ancaman utamanya berupa serangan organisme pengganggu tanaman. Alternatif strategi yang dapat dilakukan oleh pemerintah diantaranya: 1) Intensifikasi USAhatani padi, 2) Sinergi antara petani, pengusaha dan pemerintah, 3) Penguatan kebijakan pangan daerah yang berpihak kepada petani, 4) Revitalisasi sarana dan prasarana, 5) Diferensiasi produk. Strategi yang menjadi prioritas utama dalam penelitian ini adalah strategi intensifikasi USAha tani padi
Rancang Bangun Sistem Informasi Lowongan Kerja di Jpc Polinema dengan Metode Quick Sort
Informasi batas waktu lowongan kerja JPC di Facebook keberadaanya bertumpuk dengan informasi-informasi yang baru. Sehigga sulit untuk menemukan informasi lowongan kerja yang sudah melewati batas waktu dan informasi lowongan kerja yang sesuai dengan kriteria pelamar.Dari permasalahan tersebut maka dibuat aplikasi Lowongan Kerja Di JPC Polinema yang mampu menampilkan informasi lowongan kerja berdasarkan batas waktu dan kriteria pelamar. Metode yang digunakan untuk mensorting semua informasi lowongan kerja yang masuk menggunakan metode Quick Sort. Hasil dari penelitian ini akan menampilkan lowongan kerja setelah melalui sorting dengan batas waktu dan kriteria data pelamar. Kriteria ini terdiri dari 6 kriteria yang berupa gender, jurusan, jenjang, umur, IPK, dan pengalaman kerja
Pros and Cons of Learning Style: an Implication for English Language Teachers
Learning style becomes a familiar theory for many English language teachers. With the hypothesis of matching instructions and learning styles resulting in effective learning, many of the English language teachers apply the learning style theory within their teaching practices. However, recent studies found that learning style is a myth since there were flaws that appeared in the learning style instruments and hypothesis. This study presents in-depth discussions about the pros and cons of learning styles. Detailed descriptions about the implication for English language teachers entailed at the end of the discussions. This study concluded that English language teachers may focus on (1) assessing students’ background knowledge and interests, (2) identifying students’ lacks and necessities, (3) provide more engaged teaching media and learning materials, (4) boosting students’ autonomy rather than merely getting involved in the raging debates of learning style
- …
