101 research outputs found
Populasi dan Keanekaragaman Mesofauna Serasah dan Tanah Akibat Perubahan Tutupan Lahan Hutan di Resort Pemerihan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan
This research was conducted to study about abundance and diversity of soil and litter mesofauna to the effect of forest cover change that occurred in the Pemerihan Resort, Bukit Barisan Selatan National Park. This research was compiled in a completely randomized design (CRD) and there were four different lands, which were: (1) primary forest, (2) coffee plantation, (3) corn field, and (4) grassland. The observation of mesofauna was taken in soil and litter from four different lands cover. The variable of observation were mesofauna abundance and diversity index, soil chemical properties (pH, organic carbon, total nitrogen, P available, and exchanged potassium), and soil physics properties (bulk density, soil temperature, humidity, and porosity). Data were analyzed using F test and further test using least significant differences (LSD) at 5%. The results showed that the different of lands cover affect the diversity index of litter mesofauna, the abundance of litter and soil mesofauna, yet did not affect the diversity index of mesofauna underground. However, the abundance and diversity index of soil and litter mesofauna in the primary forest was higher than the other lands
Populasi dan Keanekaragaman Cacing Tanah pada Berbagai Lokasi di Hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (Tnbbs)
Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) merupakan salah satu hutan di Indonesia yang memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi. Sebagai kawasan konservasi, TNBBS diharapkan dapat menjadi kawasan pemeliharaan dan perlindungan bagi keanekaragaman hayati yang secara tidak langsung berarti dapat melestarikan keanekaragaman jenis floradan fauna yang terdapat di dalamnya, termasuk cacing tanah. Cacing tanah sendiri dapat menjadi indikator kelestarian hutan.Penelitian ini dilakukan menggunakan metode survey, yaitu dengan cara melihat kondisi lokasi penelitian dan pengumpulan data langsung dari beberapa lokasi di hutan TNBBS. Pengambilan sampel dilakukan di 3 lokasi, yaitu Bukit Camp Rhino, BukitKilometer 26, dan Pemerihan Kecil. Pengambilan sampel dilakukan di 3 lokasi, yaitu Bukit Camp Rhino, Bukit Kilometer 26, danPemerihan Kecil. Hasil survei menunjukkan bahwa populasi cacing tanah tertinggi terdapat di lokasi Pemerihan dan populasiterendah terdapat di lokasi Bukit Kilometer 26 (KM 26) bagian atas. Biomassa cacing tanah yang tertinggi terdapat di lokasiBukit Camp Rhino bagian bawah dan biomassa terendah terdapat di lokasi Bukit Kilometer 26 (KM 26) bagian atas. Populasidan biomassa cacing tanah berkorelasi positif dengan C-organik tanah, tetapi sifat kimia dan sifat fisik tanah yang lain tidakberkorelasi positif. Dari identifikasi cacing tanah hanya terdapat 2 famili cacing tanah, yaitu famili Megascolecidae dan famili Glossoscolecidae. Famili Glossoscolecidae hanya ditemukan di lokasi Pemerihan
Pengaruh Sistem Olah Tanah Dan Aplikasi Mulsa Bagas Pada Pertanaman Tebu (Saccharum Officinarum L.) Terhadap Populasi Mikroorganisme Pelarut Fosfat Di PT. GMP Lampung Tengah
Sugarcane plantation atPT Gunung Madu Plantation (GMP) has done intensive tillage since 1975. To maintain sustainable production and soil fertility is necessary to manage soil according to good soil conservation. The good choice to maintaince soil quality is no-tillage and mulching system. The research was carried out since July 2010,phosphate solubilizing microorganismwere observedat9 and 12 months after ratoon one, in April and July 2012. The research was designed as a split plot with a randomized block design (RBD) with 5 replications . Main plot are tillage system that consists of no-tillage (T0) and tillage (T1). The subplots were application of baggase mulch. Consisting ofwithout bagasse mulch application (M0) andwith 80 t ha-1baggase mulch (M1). Data were analyzed by analysis of variance at the level of 1% and 5%, which previously had been analyzed with the Bartlett test forHomogeneity and Additivity with Tukey test, and followed by LSD test at the level of 1% and 5%. The results showed that the tillage system and bagasse mulch application did not give significant effect on the population of phosphate solubilizing microorganism. Correlation test results showed that the phosphate solubilizing microorganism population has no correlation with organic C, total N, soil pH, soil moisture, soil temperature, and available P
Screening of Cultivable Indigenous Fungi Which Responsible for Decomposing of Rice Straw
The experiment was conducted to screen potentials indigenous fungi for rapid decomposing of rice straw. Seven isolates of dominant fungi were isolated from the burying rice straw on the 2.5 cm soil depth after 30 days incubation on the paddy fields. Five dominant isolates were tested for their potential to decompose rice straw by assessing their value of decreasing C/N ratio and dry weight of rice straw. Fungal inoculums treatments were arranged in a Completely Randomized Design with four replications. The results showed that the dominant cultivable fungi that isolated from decomposed rice straw were Trichoderma sp., Fusarium sp., Mucor sp., Aspergillus sp., and Penicillium sp. Among the tested fungi, Trichoderma sp. had the biggest ability to decompose rice straw compared to others indigenous fungi. The C/N ratio was reduced to 39.47 from an initial value of 73.33 of control treatment in 10 days of biodegradation process in laboratory scale, thus showing the potential of indigenous Trichoderma sp. for use in large-scale composting of rice straw.Keywords: Cultivable, decomposer, indigenous fungi, rice straw[How to Cite: Isnaini S, A Niswati and Maryati. 2012. Screening of Cultivatable Indigenous Fungi which Responsible for Decomposing of Rice Straw. J Trop Soils 17 (1): 61-66. doi: 10.5400/jts.2012.17.1.61] [Permalink/DOI: www.dx.doi.org/10.5400/jts.2012.17.1.61
Pengaruh Sistem Olah Tanah Dan Aplikasi Mulsa Bagas Terhadap Respirasi Tanah Pada Lahan Pertanaman Tebu ( Saccharum Officinarum L) Akhir Ratoon Kedua Dan Awal Ratoon Ketiga
Penurunan kualitas tanah telah terjadi pada tanah perkebunan tebu PT GMP yang telah diusahakan secara intensif sejak tahun 1975. Oleh karena itu, USAha untuk memperbaiki kualitas tanah perkebunan tebu PT GMP perlu diusahakan antara lain dengan memanfaatkan mulsa limbah tebu (bagas) dan sistem olah tanah konservasi dalam bentuk tanpa olah tanah (TOT). Penelitian ini bertujuan untuk menduga pengaruh sistem olah tanah dan pemberian mulsa bagas terhadap aktivitas mikroorganisme tanah, dalam hal ini respirasi tanah.. Penelitian ini dirancang menggunakan RAK dan disusun secara split plot dengan 5 kali ulangan. Petak utama yaitu sistem olah tanah, yang terdiri dari tanpa olah tanah (T0) dan olah tanah intensif (T). Anak petak adalah penggunaan mulsa bagas, yang terdiri dari tanpa mulsa bagas (M0) dan mulsa bagas 80 t ha-1 (M). Adapun kombinasi perlakuan yang diterapkan adalah sebagai berikut: T0 M0 = tanpa olah tanah + tanpa mulsa bagas, T0 M1 = tanpa olah tanah + mulsa bagas 80 t ha-1, T1 M0 = olah tanah intensif + tanpa mulsa bagas, dan T1 M1 = olah tanah intensif + mulsa bagas 80 t ha-1. Semua perlakuan diaplikasikan pupuk Urea dengan dosis 300 kg ha-1, pupuk TSP 200 kg ha-1, pupuk KCl 300 kg ha-1, dan aplikasi bagas, blotong, dan abu (BBA) segar (5:3:1) 80 t ha-1. Data yang diperoleh diuji homogenitas ragamnya dengan Uji Bartlet dan aditivitasnya dengan Uji Tukey, serta anara dan dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan sistem olah tanah dan aplikasi mulsa bagas tidak berpengaruh nyata terhadap respirasi tanah baik pada umur 7 bulan setelah ratoon kedua dan umur 1 bulan setelah ratoon ketiga
Pengaruh Sistem Olah Tanah Dan Aplikasi Mulsa Bagas Terhadap Populasi Dan Biomassa Cacing Tanah Pada Pertanaman Tebu (Saccharum Officinarum L.) Ratoon Ke-2
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh sistem olah tanah (TOT) dan aplikasi mulsa bagas pada lahan pertanaman tebu (Saccharum officinarum L.) terhadap populasi dan biomassa cacing tanah di PT Gunung Madu Plantations, Lampung Tengah pada ratoon 2. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2013. Percobaan dilakukan di lahan pertanaman tebu PT Gunung Madu Plantations dengan perlakuan sistem olah tanah dan aplikasi limbah pabrik gula jangka panjang dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2020. Analisis cacing tanah dilakukan di Laboratorium Biologi Ilmu Tanah dan analisis contoh tanah dilakukan di Laboratorium Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Unversitas Lampung. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dan disusun secara split plot dengan 5 ulangan. Sebagai petak utama adalah perlakuan sistem olah tanah (T) yaitu T 0 = olah tanah intensif, T 1 = tanpa olah tanah, dan anak petak dalam penelitian ini adalah penggunaan limbah pabrik gula yaitu : M 0 = tanpa mulsa ; M 1 = mulsa 80 ton ha -1 bagas (C/N ratio 86). Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam yang sebelumnya telah diuji homogenitas ragamnya dengan Uji Bartlett dan aditivitasnya dengan Uji Tukey. Rata-rata nilai tengah diuji dengan uji BNT pada taraf 1% dan 5%. Untuk mengetahui hubungan antara populasi dan biomassa cacing tanah dengan C-organik, pH, kadar air tanah, dan suhu tanah dilakukan uji korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Sistem olah tanah tidak berpengaruh terhadap populasi dan biomassa cacing tanah pada pertanaman tebu; (2) pengaplikasian mulsa bagas berpengaruh terhadap populasi dan biomassa cacing tanah pada pertanaman tebu; (3) terdapat 2 famili cacing tanah yang didapat dari hasil identifikasi, yaitu famili Megascolecidae dan famili Glossoscolecidae; (4) tidak terdapat interaksi antara sistem olah tanah dan aplikasi mulsa bagas terhadap populasi dan biomassa cacing tanah
Pengaruh Sistem Olah Tanah Dan Aplikasi Mulsa Bagas Terhadap Respirasi Tanah Pada Lahan Pertanaman Tebu (Saccharum Officinarum L.) PT Gunung Madu Plantations
Respirasi tanah merupakan suatu proses yang terjadi karena adanya kehidupan mikroorganisme yang melakukan aktifitas hidup dan berkembang biak dalam suatu masa tanah. Respirasi tanah yang mencerminkan tingkat aktivitas mikroorganisme tanah dapat digunakan sebagai salah satu indikator dari pengaruh sistem perawatan yang dilakukan terhadap lahan pertanaman tebu di PT Gunung Madu Plantations (PT GMP). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai Juli 2012 pada lahan pertanaman tebu di PT GMP. Penelitian ini dirancang secara split plot dalam rancangan acak kelompok (RAK) dengan 5 kali ulangan. Petak utama yaitu sistem olah tanah yang terdiri dari dari tanpa olah tanah (T0) dan olah tanah intensif (T1). Anak petak adalah aplikasi mulsa bagas, yang terdiri dari tanpa mulsa bagas (M0) dan mulsa bagas 80 t ha-1 (M1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem olah tanah dan aplikasi mulsa bagas tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap respirasi tanah pada saat tanaman tebu berumur 9 bulan dan 12 bulan setelah perlakuan (BSP). Berdasarkan uji korelasi menunjukkan bahwa respirasi tanah tidak mempunyai korelasi dengan C-organik tanah, pH tanah, suhu tanah dan kelembaban tanah
Pengaruh Sistem Olah Tanah Dan Pemupukan Nitrogen Jangka Panjang Terhadap Jumlah Spora Mikoriza Vesikular Arbuskular Dan Infeksi Akar Tanaman Padi Gogo Varietas Inpago-8 Pada Musim Tanam Ke-46
Mikoriza vesikular arbuskular (MVA) merupakan fungi yang mampu bersimbiosis mutualisme dengan akar tanaman. Keberadaan MVA di dalam tanah dipengaruhi oleh beberapa kegiatan pertanian seperti pengolahan tanah dan pemupukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh sistem pengolahan tanah terhadap jumlah spora MVA dan infeksi akar tanaman padi gogo, mempelajari pengaruh aplikasi pupuk N terhadap jumlah spora MVA dan infeksi akar tanaman padi gogo,mempelajari pengaruh interaksi antara sistem olah tanah dan aplikasi pupuk N terbaik terhadap jumlah spora MVA dan infeksi akar tanaman padi gogo, dan mempelajari korelasi antara beberapa variabel pertumbuhan tanaman dan sifat-sifat tanah dengan jumlah spora MVA dan infeksi akar tanaman padi gogo. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK), yang disusun secara faktorial (2x3), dengan 4 ulangan. Faktor pertama adalah olah tanah intensif (T 1 ), olah tanah minimum (T 2 ) dan tanpa olah tanah (T 3 ); dan faktor kedua adalah tanpa pupuk N (N 0 ) dan pemberian pupuk 100 kg N ha -1 (N 1 ). Homogenitas ragam diuji dengan uji Bartlet dan Additifitas ragam dengan uji Tukey. Data yang diperoleh, dianalisis ragam dan dilanjutkan dengan menggunakan uji beda nyata terkecil (BNT) pada taraf 5%. Uji korelasi dilakukan terhadap variabel utama dan variabel pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan T 2 dan T 3 memiliki persen infeksi akar lebih tinggi dibandingkan dengan T 1 . Perlakuan N 0 memiliki jumlah spora MVA lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian pupuk N 1 , serta tidak terjadi interaksi antara sistem olah tanah dengan pemupukan N terhadap jumlah spora MVA dan persen infeksi akar. Tidak terjadi korelasi antara jumlah spora MVA dan persen infeksi akar dengan variabel pendukung, kecuali kadar air tanah yang memiliki berkorelasi positif dengan persen infeksi akar
- …
