43 research outputs found
Waheed Syariah Resort Bandungan
Today, Indonesia’s tourism is increasing every year. Recorded during the period of 2013-2016 has increased Gross Domestic Product (GDP) of ± 1% every year. However, the increase in tourism is not offset by an increase in accommodation, especially syariah-based lodging. Bandungan district is one of the tourist destinations in Semarang regency. The number of tourist attractions in Bandungan is not balanced with the sharia accommodation that is being encouraged and attracted public interest, especially Muslims. In Bandungan, there are no other hotels, homestays, resorts, and inns that are sharia or based on Islamic law. So Waheed Syariah Resort Bandungan is designed to facilitate accommodation especially Muslims. Sharia Resort is a hotel located in the mountains, on the banks of the river, by the beach, or by the lake which has various facilities based on Islamic law. Facilities provided at sharia resorts for example restaurant facilities that sell halal food (not containing pork and dog) and followed the sharia principles (not providing alcoholic beverages, providing only halal food and providing various supporting facilities for worship such as Al-Qur’an as well as Qibla directions in each room)
Pengembangan Fasilitas Wisata Pada Kawasan Industri Seni Ukir Di Desa Mulyoharjo, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara (Pendekatan Islami)
Desa Mulyoharjo terletak di Kabupaten Jepara yang merupakan salah
satu Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah memiliki lanskap budaya (cultural
landscape) dan sejarah (historical landscape) dengan nilai serta keragaman yang
tinggi, baik yang terkait dengan perjalanan kehidupan sosial, ekonomi, budaya
masyarakatnya. Disektor industri kerajinan meubel dan ukir Jepara, Kabupaten
Jepara sangat berpotensi untuk dijadikan salah satu tujuan daerah wisata
industri bagi para wisatawan domestik dan mancanegara serta diharapkan akan
menjadi “icon”nya Jepara sebagai Kota Ukir.Dalam islam seni patung di
haramkan karena patung sering di artikan berhala (barang yang di sembah).
Oleh sebab itu seni patung Mulyoharjo di arahkan menuju seni dekoratif islami
secara bertahab karena di desa tersebut mayoritas memeluk agama islam. Seni
patung yang di maksud adalah seni patung makhluk hidup selain tumbuh
tumbuhan. Dari berbagai lokasi desa Mulyoharjo yg paling berpontesi untuk di
kembangkan sebagai kawasan wisata industri. Karena Desa Mulyoharjo
merupakan salah satu wujud dan bentuk nyata industri kreatif yang
mengedepankan talenta, toleransi dan teknologi. Selain itu desa mulyoharjo
merupakan asal mula adanya ukiran di jepara. Kurang maksimalnya pewadahan
dan fasilitasnya dan kurang berkembang dalam bidang hasil indrustri, karena
kemampuan untuk mengintegrasikan daya kreatifitas masyarakat mulyoharjo
sangat minim. Maka di perlukan suatu wadah dan strategi untuk pengembangan
kawasan wisata industri ukir dan patung mulyoharjo agar dapat berkembang dan
maju. Di harapkan adanya perancangan dan perencanaan ini dapat membuat
kawasan wisata industri seni ukir Desa Mulyoharjo yang mempunyai fasilitas
penunjang dan juga perencanaan dan perancangan ini dapat meningkatkan daya
kreatifitas serta karya – karya yang di hasilkan tidak melangar kaidah kaidah
islam
Dasar Program Perencanaan Dan Perancangan Arsitektur (DP3A) Redesain Kawasan Wisata Telaga Sarangan Sebagai Wisata Permainan Air Dan Wisata Kuliner
Redesain kawasan wisata air dan kuliner yaitu mendisain ulang kawasan untuk dibangun ulang atau membuat rancangan baru yang disediakan untuk rekreasi yang didalamnya terdapat suatu permainan dan wisata kuliner yang dilengkapi berbagai macam permainan dan fasilitas pendukung seperti taman, kolam, masjid dan lain sebagainya, sarana edukasi yang terletak di Magetan yang menggunakan konsep desain post modern.
Lokasi perencanaan berada di Kabupaten Magetan, tepatnya di desa plaosan. Alasannya karena kawasan ini terdapat telaga yang sangat indah dan berpotensi untuk dikembangkan selain itu juga karena lokasi ini masih memiliki udara yang bersih dan hawa yang sejuk yang sesuai sebagai tempat beraktivitas maka dari itu di ciptakan tempat sebagai area rekreasi permainan air dan kuliner
Konsep bangunan yang diterapkan yaitu bangunan yang berkonsep post modern yaitu dengan bentuk bangunan yang menggabungkan antara konsep bangunan lama dengan yang baru seperti ada unsur bentuk tradisional dan modern penggunaan listrik tenaga mikrohidro dan memaksimalkan penggunaan pencahayaan dan penghawaan alami untuk menghemat listrik dari PL
Dasar – Dasar Program Perencanaan Dan Perancangan Arsitektur (DP3A) Redesain Terminal Kartasura
Tujuan dasar-dasar program perancangan dan Perancangan Arsitektur (DP3A) ini adalah untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan kepada masyarakat, untuk mendapatkan kemudahan dalam hal transportasi, khususnya
angkutan bus, memberikan wadah untuk menarik para pengunjung dengan penambahan tata lansekap, dan merencanakan sirkulasi yang aman dan nyaman serta lancar sehingga tidak terjadi crossing antara kendaraan yang akan masuk dengan yang akan keluar serta di dalam terminal itu sendiri. Kondisi Terminal Kartasura saat ini bisa dikatakan jauh dari ideal sebagai terminal Tipe B. Hal ini dapat dilihat dari kurang maksimalnya pelayanan yang
diberikan karena terjadi pergeseran-pergeseran fungsi. Permasalahan di dalam terminal Kartasura antara lain : 1) Bercampurnya arus sirkulasi orang (penumpang) dengan arus sirkulasi kendaraan, 2) Belum terdapat tempat penurunan penumpang, 3) Tempat penurunan dan jalur pemberangkatan menjadi satu tempat sehingga sirkulasi manusia bercampur aduk, 4) Fisik dan struktur bangunan yang mulai mengalami kerusakan dan tidak terurus untuk perawatannya, 5) Ruang terbuka terminal yang tidak terdapat pepohonan atau
rumput yang dapat mengurangi polusi udara dan menyerap air.
Untuk menganalisa perkembangan angkutan dan penduduk, maka di Kartasura dibutuhkan redesain terminal bus yang lebih representatif, sesuai dengan kaidah-kaidah arsitektural dengan mempertimbangkan struktur bangunan terminal, lansekap pada terminal dengan konsep bangunan melalui green
architecture. Dalam mengantisipasi sirkulasi di dalam terminal Kartasura maka akan di ambil redesain terminal Kartasura dengan sistem parkir gergaji untuk jangka waktu pengoperasionalan selama ± 20 tahun ke depan. Terminal Kartasura maka perlu sebuah pola sirkulasi, sehingga dapat dapat disimpulkan bahwa pola sirkulasi pada terminal Kartasura yang akan diterapkan pada redesain dengan menggunakan sistem pembagian jalur arah yang berjalan atau searah agar dapat menghindari crossing antara arus armada dengan manusia, sedangkan dalam struktur bangunan, terminal Kartasura saat ini perlu terjadinya perbaikan, seperti
pelataran yang kurang efisien, struktur bangunan yang perlu di perbaiki, sehingga perlu teori khusus struktur untuk merencanakan dalam meredesain terminal Kartasura dengan menggunakan struktur rangka ruang, karena bus dan
pengunjung Terminal Kartasura nantinya membutuhkan akses yang luas, aman dan nyaman
Dasar Program Perencanaan Dan Perancangan Arsitektur (DP3A) Penataan Dan Pengembangan Wisata Kampung Rebana Di Tanubayan, Bintoro, Demak
Latar belakang kampung Tanubayan merupakan sentra pembuatan alat musik rebana, akan tetapi tidak didukung dengan fasilitas dan insfrastruktur yang baiki dan kurang dikemas dengan konsep yang baik, sehingga nampak seperti perkampungan biasa. Permasalahan yang muncul adalah cara menata dan mengembangkan kampung Tanubayan ini yang memiliki potensi di bidang kepariwisataan dengen komoditas utamanya alat musik rebana. Tujuan dari penulisan ini adalah menjadikan kampung Tanubayan ini menjadi wisata kampung rebana di Kabupaten Demak, dengan fasilitas yang
mendukung. Selain itu, kampung ini sebagai pusat pelatihan, pengembangan, dan pemasaran alat musik rebana. Menjadikan kampung rebana ini menjadi brand image di Kabupaten Demak dengan konsep bangunan yang mengambil ide konsep
dari bentuk bangunan Masjid Agung Demak. Keluaran yang ingin dicapai dari Penataan dan Pengembangan Wisata
Kampung Rebana di Tanubayan, Bintoro, Demak ini adalah suatu penataan dan pengembangan kawasan wisata dengan komoditas utamanya adalah rebana
Dasar Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur (DP3A) Islamic Green Garden City di Purwosari, Kudus
Public space is a space that can accommodate the interests of the public or the general public, for example communicating with colleagues, meeting certain informal communities, taking walks, relaxing, seeing parks and greenery, just watching people pass by or observing the activities of people around the space, it could be just hanging out watching the hustle and bustle of the city while eating snacks and drinks that you bring yourself or buy from street vendors nearby. The purpose of this study is to design unused land that will be used as green open space based on the concept of Green City and Islamic architecture to make sugar factory idle land into a recreational and educational green open space, organize and add infrastructure to add to the beauty of the city and provide quality in the area to become an integrative and environmentally friendly environment. contextual. The method used in this research is observation by coming directly to the location for field surveys and data searching
Dasar Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur (DP3A) Pekalongan Convention Center dengan Konsep Arsitektur Vernakular
Exhibition and conference activities are one of the activities that are useful to improve the level of the economy and the progress of a region. The convention building is one of the things that must exist to facilitate exhibition and conference activities so that it can be facilitated properly. Pekalongan or often called the city of batik is one of the cities in Central Java, known as a city of culture. In addition to locations that are in close contact with the pantura, Pekalongan Regency will host the opening and closing of the International Sufi Ulema Conference or 'Al-Muntada as-Sufy al-Alamy'. The conference is planned to be opened by the Indonesian Minister of Defense, General of the Armed Forces (Ret.) Ryamizard Ryacudu. The conference will be attended by 85 Sufi scholars from abroad and 1,500 from within the country. This area will host the opening of an international Sufi multaqo. This is a gathering of world Sufism scholars. From abroad came 85 Sufi scholars and 1,500 from within the country. This area will host the opening of an international Sufi multaqo. This is a gathering of world Sufism scholars. From abroad came 85 Sufi scholars and 1,500 from within the country. The broad aim of holding this project is to accommodate events that are often or will be held in the city of Pekalongan. Through the comparative descriptive method with two variables as the object of reference, writing and summarizing this concept is expected to produce good planning results
Cafe and Chocolatte Factory di Pacitan dengan Pendekatan Arsitektur Kontem[porer
Pacitan is one of the largest cocoa producing regions in East Java, amounting to 2,254 tons per month in the last decade. The development of 400 hectares of cocoa land in Pacitan was started by the East Java Provincial Government in 2006. In addition, demand for processed chocolate products on the market in East Java has increased by 7% as reported by the Provincial Government in 2019. Therefore, a building design that can fulfill chocolate production activities and a place to enjoy a variety of chocolate foods as well as recreational educational tourism facilities for tourists visiting Pacitan. This design is based on literature studies, observations and precedents related to existing problems. To produce a representative and innovative design, the designer's and architectural approaches must be taken into account. This approach must take into account the structure of the building, the emphasis on modern design, the landscape, technological advances, the demands of the times, and the harmony between design and human needs. And all these aspects are in the Contemporary Architectural Style which will be used as a reference in designing Cafes and Chocolate Factories in Pacitan
Wisata Kuliner Kreatif Di Kecamatan Tambak Banyumas Dengan Pendekatan Arsitektur Ekologi
Banyumas has a vision, which is to make Banyumas progressive, prosperous, and independent. Listed in one of the missions of Banyumas Regency, namely realizing economic independence by moving the populist industry, tourism and creative industries based on local resources. So to achieve economic independence, an effort is needed, namely the concentration of city products that can give characteristics to an area with a local-based tourism method. There are still few people from inside and outside the region who know the history and processing of Banyumas culinary specialties, especially duck satay. So that Creative Culinary Tourism can be developed into educational tourism, namely providing understanding and teaching about culinary knowledge to the community so that distinctive culinary delights can be preserved and continue to develop. The objectives in planning and designing Creative Culinary Tourism in Tambak District are: (1) Producing designs that can accommodate community activities in developing local culinary businesses. (2) Producing designs that can increase the interest in learning in the community. (3) Producing designs that can accommodate community activities and visitors using an ecological approach. Based on the descriptive analysis method that comes from literature, observations and descriptions, the planning and design of ecological architecture is described in 4 principles, namely: (1) Use of local materials. (2) Application of energy saving. (3) Management of future use by maximizing green open space. (4) Maximizing system utility functions. The ecological concept is presented in Creative Culinary Tourism to create architecture that is in harmony with the natural and cultural environment, so that architecture is able to raise local potential through the materials, shapes and structure of the building mass in this tourist area
Wonogiri Trade Center dengan Penekanan Green Architecture dan Kontemporer
Wonogiri City is one of the regencies in the Solo Raya area that has several shopping centers spread across various areas. However, it does not yet have adequate facilities to accommodate and manage increased trading activities. The growth of modern shopping malls as commercial areas reflects the form of trade and entertainment activities in a city that include commerce and service. Wonogiri City has potential and competitiveness, so that economic development running well is needed to advance the regional economic sector. From the existence of this trade center planning aims to improve the quality of the economy, the quality of urban space and revive the area that is now abandoned. The method used in the design process is qualitative by going through the stages of observation, data analysis, setting design themes, design concepts, design schematic drawings. Design parameters in designing use a blend of Green Architecture principles and Contemporary Architecture principles. The design process resulted in the design of Wonogiri Trade Center that can support the smooth economy and increase regional income of Wonogiri City. Environmentally friendly and comfortable design design in accordance with the concept of Green Architecture and Contemporary
