23,295 research outputs found
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Impor Kentang di Indonesia Tahun 2005-2012
Kentang dikenal sebagai salah satu komoditas utama pangan. Namun jumlah produksi kentang di Indonesia masih tergolong rendah dikarenakan rendahnya produksi bibit kentang berkualitas unggul. Dalam penelitian berjudul Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Impor Kentang Di Indonesia Tahun 2005-2012 ini dimaksud untuk mengetahui apakah ada hubungan secara simultan dan parsial serta variabel mana yang berpengaruh dominan terhadap impor kentang Indonesiaantara konsumsi kentang, produksi kentang, PDB (Produk Domestik Bruto), dan kurs dollar Amerika Serikat. Untuk memcahkan masalah digunakan teknik analisis linier berganda, uji F, uji t dan uji asumsi klasik dengan menggunakan program spss. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh Konsumsi Kentang, Produksi Kentang, PDB (Produk Domestik Bruto) dan Kurs Dollar Amerika Serikat tahun 2005-2012. Secara simultan Konsumsi Kentang berpengaruh signifikansi terhadap volume impor kentang Indonesia tahun 2005-2012. Sedangkan produksi kentang dan kurs dollar Amerika Serikat, dan Produk Domestik Bruto (PDB) tidak berpengaruh secara signifikan
Analisis Komparatif USAhatani Kentang Atlantik dan Kentang Granola di Kecamatan Sempol
Kentang merupakan tanaman sayuran unggulan yang memiliki potensi untuk berkembang di Indonesia, maka tujuan penelitian ini adalah : (1) Menganalisis perbedaan biaya produksi antara USAhatani kentang atlantik dan kentang granola. (2) Menganalisis perbedaan keuntungan antara USAhatani kentang atlantik dan kentang granola, dan (3) Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi produksi USAhatani kentang. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Data yang terkumpul di analisis menggunakan uji-z dan Cobb-Dauglas. Berdasarkan hasil penelitian dapat di simpulkan : (1) Ada perbedaan biaya produksi antara USAhatani kentang atlantik dan kentang granola namun secara statistik tidak berbeda nyata pada taraf kepercayaan 90%. Biaya produksi kentang granola lebih tinggi yaitu sebesar Rp 22.500.279 sedang kentang atlantik lebih rendah yang sebesar Rp 22.146.941. (2) Ada perbedaan keuntungan antara USAhatani kentang atlantik dan kentang granola, secara statistik berbeda nyata pada taraf kepercayaan 99%. Keuntungan USAhatani kentang granola lebih tinggi yaitu sebesar Rp 37.027.999/ha dibandingkan kentang atlantik yang sebesar Rp15.700.553/ha dan .(3) faktor-faktor yang berpengaruh dan signifikan terhadap produksi USAhatani kentang adalah bibit, pupuk, tenaga kerja dan varietas, sedangkan faktor luas lahan dan pestisida berpengaruh positif tetapi secara statistik tidak signifikan terhadap produksi USAhatani kentang di Kecamatan Sempol, Kabupaten Bondowoso
Efektivitas Kebijakan Perbenihan Kentang
Kebijakan sistem perbenihan kentang bertujuan untuk mendorong produksi dan peredaran benih kentang bermutu, serta mendorong petani lebih banyak mengadopsi penggunaan benih kentang bermutu. Berbagai produk hukum terkait sistem perbenihan kentang sudah dibuat. Sebagian besar peraturan yang ada ditujukan agar benih, termasuk benih kentang, diproduksi secara baik sesuai standar dan prosedur resmi. Walaupun demikian masih ada peraturan yang menghambat, misalnya pembatasan pemilikan modal asing dalam industri perbenihan yang merupakan disinsentif bagi investor asing. Dalam rangka otonomi maka pemerintah daerah diberi peran lebih besar dalam hal pengusulan varietas, impor dan ekspor benih, dan pendaftaran produsen benih. Berbagai daerah juga berupaya membuat kebijakan yang mendorong produksi benih kentang bermutu melalui pendirian pusat pengembangan benih kentang. Berbagai peraturan yang ada, lembaga-lembaga penghasil benih sumber, dan banyaknya produsen benih kentang belum bisa merangsang sebagian besar petani untuk menggunakan benih kentang bermutu. Disamping itu juga belum sepenuhnya peraturan ditegakkan, misalnya larangan peredaran benih tidak bersertifikat dan impor benih kentang yang berlangsung terus-menerus. Perlu kebijakan yang membuat industri benih kentang lebih efisien, yaitu produksi benih kentang lebih banyak, harganya lebih murah, dan tersedia sepanjang tahun bagi petani, tetapi produsen masih mendapatkan untung yang wajar
Pengembangan Sentra Produksi Bibit (Penangkaran) Kentang Bermutu melalui Aplikasi Teknologi Bioseluler di Kabupaten Solok
Tujuan kegiatan ini adalah memberdayakan petani menjadi produsen bibit kentang unggul bermutu tinggi melalui alih teknologi bioseluler (kultur jaringan tanaman), sehingga petani dapat memenuhi kebutuhan bibitnya sendiri. Melalui kemampuannya untuk memproduksi bibit kentang bermutu, maka akan tercipta kegiatan di sektor penangkaran bibit kentang dan dapat meningkatkan pendapatan petani. Kegiatan terdiri atas tiga subprogram. Subprog¬ram pertama adalah produksi dan distribusi propagul kentang (umbi mini/G0) kepada petani penangkar (tahun pertama). Subprogram kedua adalah produksi umbi propagul kentang G1 – G2 (Tahun kedua dan ketiga). Subprogram ketiga adalah sosialisasi, pembinaan, dan demonstrasi plot (setiap tahun). Kegiatan ini merupakan kemitraan antara Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Fakultas Pertanian UMMY Solok, Dinas Pertanian Kabupaten Solok, dan Kelompok Tani Harapan Baru sebagai penggguna teknologi. Kegiatan yang sudah dilakukan pada Tahun I (2017): 1) perbanyakan planlet kentang, 2) pembuatan screen house untuk aklimatisasi dan produksi umbi G0/G1, 3) workshop/sosialisasi penangkaran benih kentang, 4) sekolah lapang produksi umbi kentang G0/G1, 5) pelatihan penguatan kelembagaan petani penangkar kentang, 6) pelatihan sertifikasi benih kentang, dan 7) pelatihan pembuatan pestisida hayati.
Kata Kunci: Bibit kentang, Penangkar, Bioselule
Evaluasi Daya Saing Komoditas Kentang Di Sentra Produksi Pangalengan Kabupaten Bandung
Untuk mengembangkan agribisnis kentang dalam negeri yang mempunyai daya saing tinggi sehingga dapat mengurangi ketergantungan impor, diperlukan adanya dukungan kebijakan dari pemerintah dengan melakukan promosi dan penyampaian informasi yang relevan kepada para pelaku USAha. Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung merupakan salah satu sentra produksi kentang di Indonesia. Daerah ini mampu memasok kentang hingga ke pasar ekspor sehingga memegang peranan penting bagi daya saing kentang Indonesia di pasar global. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi daya saing kentang di sentra produksi tersebut. Penelitian bersifat eksploratif dengan menggunakan data primer berupa data USAhatani serta input dan output produksi kentang sentra produksi Pangalengan, Kabupaten Bandung. Data sekunder dikumpulkan dari BPS, Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Direktorat Jenderal Hortikultura, dan literatur-literatur lain yang menunjang. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan policy analysis matrix (PAM). Dari hasil analisis diperoleh hasil bahwa pada skala USAha rerata per hektar biaya produksi kentang di Pangalengan sebesar Rp50.876.255,00 pada harga privat dan Rp48.270.838,00 pada harga sosial. Keuntungan yang dihasilkan sebesar Rp34.353.294,00 pada harga privat dan Rp18.948.129,00 pada harga sosial. Usahatani kentang di Pangalengan sangat layak untuk diusahakan dengan nilai R/C ratio sebesar 1,68 pada harga privat dan 1,39 pada harga sosial. Usahatani kentang di Pangalengan masih mempunyai keunggulan komparatif dengan nilai DRCR sebesar 0,36 dan kompetitif dengan nilai PCR 0,24. Usahatani kentang tidak lagi memiliki keunggulan kompetitif apabila harga output turun hingga 41% atau harga input naik 87%
Pemuliaan Kentang Produk Rekayasa Genetik Tahan terhadap Penyakit Busuk Daun (Phytophthora Infestans) dan Aman Pangan di Indonesia
Pemanfaatan tanaman kentang produk rekayasa genetik (PRG) dalam pemuliaan tanaman melalui persilangan dengan Atlantic dan Granola telah menghasilkan enam galur PRG hasil silangan yang terseleksi. Sebelum komersialisasi, kentang PRG harus dikaji keamanan pangan dan lingkungannya. Penulisan bertujuan memberikan informasi mengenai tanaman kentang PRG di Indonesia yang tahan terhadap penyakit busuk daun Phytophthora infestans dan telah dinyatakan aman untuk di-konsumsi oleh manusia. Analisis stabilitas menunjukkan bahwa gen RB stabil terintegrasi selama empat generasi klonal ber-urutan dalam genom tanaman kentang PRG dengan satu sisipan gen. Hasil studi komposisi dan nutrisi, glikoalkaloid total, dan anti nutrisi pada kentang PRG Katahdin SP951 dan galur-galur silangannya bersifat sepadan dengan Katahdin non-PRG. Studi toksisitas menunjukkan bahwa pemberian pakan suspensi umbi kentang dan suspensi tepung kentang Katahdin SP951 dan galur-galur silangan tidak berdampak terhadap mortalitas, bobot badan, dan tanda-tanda klinis pada mencit. Protein RB tidak memiliki homologi yang tinggi dengan protein toksin sehingga tidak bersifat toksik. Studi alergenisitas dengan Simulated Gastric Fluid dan Simulated Intestinal Fluid menunjukkan bahwa protein umbi kentang Katahdin SP951 dan galur-galur silangan terdegradasi kurang dari 5 menit inkubasi setelah perlakuan enzim pepsin atau tripsin. Protein RB tidak mempunyai sekuen asam amino yang homolog dengan protein alergen, sehingga tidak berpotensi menimbulkan alergi. Kentang Katahdin SP951 telah dinyatakan aman untuk dikonsumsi melalui Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan tahun 2016. Tanaman kentang PRG tahan P. infestans yang dapat mengurangi 50% aplikasi fungisida, dan telah mendapat sertifikat aman pangan dan aman lingkungan diharapkan dapat menjadi pilihan untuk dimanfaatkan petani
Seleksi Beberapa Klon Kentang (Solanum Tuberosum L.) dari Hasil Persilangan untuk Karakter Daya Hasil Tinggi pada Ekosistem Dataran Tinggi di Ciwidey
Areal pertanaman kentang cenderung semakin meningkat namun hasil yang dicapai petani masih relatif rendah sehingga diperlukan upaya pemuliaan untuk memperbaiki varietas yang ada. Tujuan penelitian ialah mendapatkan informasi tentang daya hasil 41 klon kentang yang berpotensi hasil tinggi pada ekosistem dataran tinggi Ciwidey. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung elevasi 1.400 m di atas permukaan laut. Rancangan Percobaan yang digunakan ialah Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan. Jumlah klon yang diuji meliputi 41 klon harapan, termasuk varietas pembanding Granola. Populasi tanaman per plot terdiri atas 10 individu tanaman. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa hasil kentang tertinggi diperoleh pada klon 29 (43,8 t/ha), 11 (38,2 t/ha), 31 (37,3 t/ha), 13 (36 t/ha), dan 35 (35,6 t/ha), sementara hasil varietas pembanding Granola hanya 23,4 t/ha. Klon 9, 22 dan 35 berpotensi sebagai bahan baku industri kripik kentang. Kegiatan ini menghasilkan klon-klon kentang unggul sebagai calon varietas baru yang memberikan kontribusi terhadap peningkatan produksi kentang di Indonesia
Peranan Kupem dalam Meningkatkan Produksi Kentang di Kabupaten Kerinci
Penelitian ini bertujuan (1) untuk mengetahui perbedaan tingkat produksi dan pendapatan USAhatani kentang yang memanfaatkan kredit dan tanpa kredit. (2) Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat produksi USAhatani kentang di Kabupaten Kerinci.Sampel diambil secara purposive sampling yakni petani yang mengusahakan tanaman kentang dengan menggunakan kredit dan tanpa kredit. Jumlah sampel sebanyak 32 orang yang terdiri dari 17 orang petani yang memanfaatkan kredit dan 15 orang yang tidak memanfaatkan kredit.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat produksi USAhatani dengan bantuan kredit (15.770 kg/ha) lebih tinggi daripada USAhatani tanpa kredit (10.390 kg/ha). Pada USAhatani kentang dengan kredit diperoleh R/C ratio sebesar 1,43 sedangkan USAhatani kentang tanpa kredit hanya sebesar 1,34. serta nilai B/C ratio sebesar 1,65. Artinya pendapat USAhatani kentang dengan kredit lebih besar dari pada tanpa kredit. Hasil sidik ragam dari fungsi produksi Cobb-Douglas menunjukkan bahwa produksi USAhatani kentang per hektar, secara bersama—sama dipengaruhi oleh jumlah bibit, pupuk, pestisida, tenaga kerja yang digunakan, status lahan yang digarap serta pemanfaatan kredit. Hasil uji parsial menunjukkan bahwa variabel yang berpengaruh terhadap jumlah produksi kentang per hektar adalah jumlah bibit, pupuk NPK, pupuk SP36 dan pestisida serta pemanfaatan kredit
PEMBANGUNAN SISTEM PAKAR DIAGNOSA HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN KENTANG DENGAN METODE CERTAINTY FACTOR
Indonesia merupakan Negara Agraris. Hal ini dapat dilihat dari kenyataan bahwa luas wilayah Indonesia yang meliputi daratan sebagian besar dimanfaatkan untuk areal pertanian. Dan mayoritas penduduk Indonesia bekerja sebagai petani. Mayoritas penduduk Indonesia juga mengkonsumsi kentang sebagai makanan pokok. Namun tidak dipungkiri juga jika Indonesia masih mengandalkan impor kentang dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan pangan di Indonesia.
Hal yang demikian membuat para petani Indonesia harus memutar otak untuk dapat lebih meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil pertaniannya. Salah satunya yaitu dengan cara mengetahui penyakit yang menyerang tanaman kentang mereka. Cara ini merupakan salah satu cara yang dapat memaksimalkan hasil panen kentang mereka.
Solusi dari permasalahan diatas yaitu dengan pembangunan sistem pakar untuk mengetahui hama dan penyakit pada tanaman kentang. Sistem pakar ini dibangun dengan basis desktop. Metode penelitiannya menggunanakan Metode Certainty Factor
- …
