128 research outputs found

    Pengaruh Pgpr (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) Dan Pupuk Kandang Kambing Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Kedelai (Glycine Max L.)

    Get PDF
    Kedelai (Glycine max L.) merupakan tanaman sumber protein yang mudah diperoleh dan memiliki kandungan protein yang tinggi. Kebutuhan kedelai di Indonesia pada tahun 2019 mencapai 2.967.695 ton tahun-1 , sedangkan produksi kedelai pada tahun 2019 sebesar 424.189 ton tahun-1 (Kementan, 2020). Penambahan pupuk kandang kambing dapat mengimbangi penggunaan pupuk anorganik. Salah satu upaya dalam memaksimalkan pupuk kandang kambing yang tidak cepat tersedia yaitu dengan menggunakan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) yang merupakan kelompok mikroorganisme tanah yang menguntungkan. Tujuan dari penelitian ini yaitu mempelajari interaksi antara konsentrasi PGPR dan dosis pupuk kandang kambing pada tanaman kedelai serta mendapatkan konsentrasi PGPR dan dosis pupuk kandang kambing yang tepat terhadap pertumbuhan dan hasil pada tanaman kedelai. Hipotesis dari penelitian ini yaitu terdapat interaksi dengan pemberian PGPR dan pupuk kandang kambing pada tanaman kedelai, pemberian PGPR pada level tertentu memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil pada tanaman kedelai dan pemberian pupuk kandang kambing memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil pada tanaman kedelai. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Juli hingga September 2023 di Kecamatan Junrejo, Kelurahan Dadaprejo, Kota Batu, Jawa Timur. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu RAK faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama yaitu konsentrasi PGPR diberikan sebanyak 3 kali yaitu pada 14, 28 dan 42 HST dengan konsentrasi 15 ml l-1 , konsentrasi 20 ml l-1 . Faktor kedua yaitu perlakuan pengaplikasian pupuk kandang kambing yang diberikan 1 kali pada saat pengolahan lahan dengan dosis 10 ton ha-1 , 15 ton ha-1 . Kedua faktor tersebut dikombinasikan sehingga diperoleh 9 kombinasi perlakuan dengan 3 kali ulangan sehingga didapatkan 27 unit percobaan. Setiap perlakuan terdiri dari 56 tanaman, sehingga total tanaman dalam percobaan sebanyak 1.512 tanaman. Variabel pengamatan yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, umur berbunga, umur terbentuk polong, jumlah polong per tanaman, bobot polong per tanaman, bobot biji per tanaman, bobot kering tanaman dan hasil panen. Hasil data pengamatan dianalisis dengan menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) atau uji F Hitung pada taraf 5%. Jika hasil analisis ragam menunjukkan adanya perbedaan nyata, maka dilakukan uji BNJ (Beda Nyata Jujur) dengan taraf 5% untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara pemberian konsentrasi PGPR dan pupuk kandang kambing. Pengaplikasian konsentrasi PGPR 20 ml l-1 dapat meningkatkan variabel pertumbuhan tanaman kedelai mulai dari tinggi tanaman, jumlah daun, umur berbunga, umur terbentuk polong dan luas daun. Peningkatan pada variabel hasil meliputi jumlah polong per tanaman, bobot polong per tanaman, bobot kering total per tanaman dan bobot biji per tanaman. Pemberian dosis pupuk kandang kambing 15 ton ha-1 mampu meningkatkan variabel pertumbuhan tanaman kedelai diantaranya tinggi tanaman, jumlah daun dan luas daun. Peningkatan pada variabel hasil diantaranya yaitu jumlah polong per tanaman, bobot polong per tanaman, bobot kering total per tanaman dan bobot biji per tanaman

    Pertumbuhan dan Produksi Kedelai Hitam (Glycine max L. Merill) pada Berbagai Jenis Pupuk Kandang dan Konsentrasi Plant Growth Promoting Rhizobacteria

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penggunaan jenis pupuk kandang dan berbagai konsentrasi plant growth promoting rhizobacteria (PGPR) terhadap pertumbuhan dan produksi kedelai hitam (Glycine max L. Merill). Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola faktorial. Faktor pertama adalah jenis pupuk kandang (tanpa pupuk, pupuk kandang ayam dan pupuk kandang kambing) dan faktor kedua adalah konsentrasi PGPR (PGPR komersial 5 ml/l air, 0 ml/l air, 5 ml/l air, 12,5 ml/l air, dan 20 ml/l air). Parameter pertumbuhan yang diamati meliputi tinggi tanaman dan jumlah daun. Parameter produksi yang diamati yaitu jumlah polong, berat polong dan bobot 100 biji. Data dianalisis dengan analisis ragam dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (Duncan’s Multiple Range Test). Hasil penelitian menunjukkan jenis pupuk kandang mampu meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah polong, berat polong dan bobot 100 biji. Peningkatan konsentrasi PGPR hanya meningkatkan tinggi tanaman. Tidak menunjukkan adanya interaksi antara jenis pupuk kandang dan konsentrasi PGPR dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi kedelai hitam. Kata kunci : pupuk kandang ayam, pupuk kandang kambing, PGPR, kedelai hita

    PENGARUH WAKTU APLIKASI PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) DAN JENIS PUPUK KANDANG TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KEDELAI HITAM (Glycine max L.)

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu aplikasi PGPR dan jenis pupuk kandang terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai hitam serta interaksi antara kedua perlakuan tersebut. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sidorejo, Kecamatan Langsa Lama, Kota Langsa, pada bulan Februari sampai dengan Juli 2021. Penelitian ini menggunakan Rancang Acak Kelompok (RAK) pola faktorial yang terdiri dari 2 faktor : faktor pertama yaitu waktu aplikasi PGPR (W) yang terdiri dari 3  taraf, yaitu: W0 = tanpa aplikasi PGPR, W1 = 10 dan 20 HST dan W2 = 15 dan 30 HST. Faktor kedua yaitu : jenis pupuk kandang (K) yang terdiri dari 4 taraf, yaitu: K0 = tanpa pupuk kandang, K1 = pupuk kandang sapi (60 gr/polybag), K2 = pupuk kandang ayam (60 gr/polybag) dan K3 = pupuk kandang kambing (60 gr/polybag). Parameter yang diamati : tinggi tanaman, umur berbunga, jumlah cabang produktif, jumlah polong per tanaman, berat biji kering, berat 100 biji kering dan produksi per hektar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu aplikasi PGPR berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman umur 28 HST, jumlah cabang produktif, jumlah polong per tanaman, berat biji kering, berat 100 biji kering dan produksi per hektar. Interaksi perlakuan waktu aplikasi PGPR dengan jenis pupuk kandang terbaik diperoleh pada perlakuan W2 = 15 dan 30 HST dan K3 = pupuk kandang kambing (60 gr/polybag)

    Pengaruh Penggunaan Pupuk Organik dan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt.)

    Get PDF
    Jagung manis (Zea mays saccharata Sturt.) merupakan salah satu jenis jagung yang digemari masyarakat karena memiliki rasa yang manis, mudah diolah, dan memiliki kandungan gizi tinggi. Akan tetapi produktivitas jagung manis di Indonesia dari tahun 2016 hingga 2020 masih mengalami fluktuasi.  Salah satu faktor penyebabnya yaitu budidaya tanaman jagung manis masih didominasi penggunaan pupuk anorganik. Penggunaan pupuk anorganik yang berlebihan dapat mengurangi kesuburan tanah dan tanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari interaksi penggunaan pupuk organik dan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis. Penelitian dilakukan pada bulan Februari-Juni 2022 di Lahan Percobaan Jatimulyo Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Kota Malang. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan faktor I ialah dosis pupuk organik (tanpa pupuk organik, pupuk hijau C. juncea 20 ton ha-1, pupuk kandang kambing 20 ton ha-1, dan pupuk hijau C. juncea 10 ton ha-1 + pupuk kandang kambing 10 ton ha-1) dan faktor II ialah konsentrasi PGPR (tanpa PGPR, PGPR 10 ml l-1, dan PGPR 20 ml l-1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pupuk hijau dan pupuk kandang serta PGPR memberikan interaksi yang mampu meningkatkan tinggi tanaman, luas daun, bobot kering tanaman, bobot segar tongkol, panjang dan diameter tongkol, serta hasil panen per hektar. Pemberian pupuk hijau 10 ton ha-1 + pupuk kandang 10 ton ha-1 dan PGPR 20 ml l-1 menunjukkan hasil panen tongkol sebesar 10,18 ton ha-1 dan mencapai 34% lebih tinggi jika dibandingkan hasil panen jagung manis tanpa pemberian pupuk organik dan PGPR

    Aplikasi PGPR Akar Bambu Dan Konsentrasi Pupuk Organik Cair Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil (Vigna radiata L. R. Wilczek. var. vima-2)

    Get PDF
    Kacang hijau (Vigna radiata L. R. Wilzcek) merupakan tanaman pangan yang sering dikonsumsi masyarakat di Indonesia. Produksi tanaman kacang hijau mengalami kondisi yang fluktuatif. Upaya yang dapat dilakukan yaitu penambahan PGPR akar bambu dan pemupukan dengan pupuk organik cair. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh aplikasi PGPR akar bambu dan konsentrasi pupuk organik cair. Penelitian ini dilaksanakan  pada bulan     Januari-Maret 2023 di Krajan, Desa Soropadan, Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah Rancangan Acak Kelompok  dua faktor yaitu aplikasi PGPR akar bambu dan konsentrasi pupuk organik cair phospor. Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam  (ANOVA), apabila terdapat berbeda nyata diuji lanjut dengan uji beda nyata terkecil (BNT) 1% dan 5 % serta Orthogonal Polynomial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan aplikasi PGPR akar bambu 10 ml/l sangat berbeda nyata terhadap tinggi tanaman dan berbeda nyata terhadap luas daun. Perlakuan konsentrasi pupuk organik cair 0, 8, 12, 16 ml/l tidak berbeda nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, jumlah polong per tanaman, berat polong per tanaman, berat kering biji per tanaman, laju fotosintesis bersih, radiasi aktif fotosintesis, transpirasi, konduktansi stomata dan kadar protein. Tidak terdapat interaksi antara aplikasi PGPR akar bambu dan konsentrasi pupuk organik cair

    Pengaruh Aplikasi PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) dan Dosis Pupuk Kandang Ayam terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kubis Bunga (Brassica oleracea var. botritys L.)

    Get PDF
    Salah satu jenis tanaman sayuran yang mempunyai nilai gizi yang tinggi adalah kubis bunga. Produksi kubis bunga dari tahun 2011 hingga 2015 fluktuatif dengan data terakhir tahun 2015 sebesar 118.388 ton, sedangkan tahun 2014 sebesar 136.508 ton sehingga mengalami penurunan sebesar 13,27%. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dan mengetahui pengaruh aplikasi PGPR dan dosis pupuk kandang ayam terhadap pertumbuhan dan hasil kubis bunga. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret - Mei 2020 yang berlokasi di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya di daerah Jatimulyo kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang terdiri atas 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor I merupakan konsentrasi PGPR dengan 3 taraf perlakuan: 10 ml/L (P1), 20 ml/L (P2), dan 30 ml/L (P3) dan faktor II merupakan dosis pupuk kandang ayam dengan 3 taraf perlakuan: 10 ton ha-1 (D1), 20 ton ha-1 (D2), dan 30 ton ha-1 (D3). 10 ton ha-1 (D1). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA, jika terdapat pengaruh nyata maka dilanjutkan dengan uji BNT 5%. Hasil penelitian menunjukkan interaksi antara PGPR dan dosis pupuk kandang ayam terhadap tinggi tanaman dan indeks klorofil. Perlakuan PGPR (P3) memberikan pengaruh nyata terhadap diameter batang pada 42 dan 49 hst, dan bobot segar tanaman (P2), sedangkan dosis pupuk kandang ayam (D3) memberikan pengaruh nyata terhadap diameter batang pada 28, 35, 42, dan 49 hst dan umur muncul bung

    Pengaruh Pupuk Kotoran Kambing Dan Waktu Aplikasi Pgpr (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Cabai Rawit (Capsicum Frutescens L.)

    Get PDF
    Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) adalah salah satu tanaman hortikultura dari famili Solanaceae yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Menurut Direktorat Jenderal Hortikultura (2011), potensi cabai rawit dapat mencapai 9 ton ha-1 sedangkan produktivitas cabai rawit tersebut baik pada skala Nasional maupun Regional Jawa Timur masih berada dibawah potensi hasil untuk cabai rawit yang berkisar 12-20 ton ha-1 (Sujitno dan Dianawati, 2015). Produksi di lapangan menunjukkan masih dibawah potensi hasil. Salah satu faktor yang sering dihadapi dalam budidaya cabai rawit adalah jenis tanah dan musim. Sehingga dalam hal ini pada jenis tanah Aluvial yang mengandung 63% pasir, 21% debu dan 16% liat perlu ditambahkan bahan organik yang berfungsi untuk memperbaiki sifat fisik tanah (struktur tanah), sifat kimia tanah (daya tukar kation dan serapan unsur hara) dan sifat biologi tanah (menambah jasad renik). Penggunaan pupuk kimia yang berlebihan akan mengakibatkan penurunan kualitas tanah (pH), pemadatan tanah dan berkurangnya bahan organik. Berdasarkan kondisi tersebut upaya untuk meningkatkan bahan organik tanah, salah satunya dengan penambahan pupuk kotoran kambing. Pupuk kotoran kambing sebagai pupuk organik yang dapat menambah unsur hara juga dapat memperbaiki sifat fisik, sifat kimia, dan sifat biologi tanah. Selain itu, pemberian bahan organik juga dapat menjadi sumber makanan bagi bakteri, semakin tersedianya nutrisi bagi bakteri dalam PGPR maka bakteri tersebut akan sukses mengkloni bagian akar tanaman sehingga menguntungkan pertumbuhan tanaman (Widyati, 2013). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk kotoran kambing dan waktu aplikasi PGPR yang tepat untuk pertumbuhan dan hasil tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L.). Hipotesis pada penelitian ini adalah mempelajari interaksi dosis pupuk 20 ton ha-1 kotoran kambing dan waktu aplikasi PGPR 3 kali terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L.), waktu aplikasi PGPR 3 kali mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L.), Pemberian pupuk 20 ton ha-1 mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L.). Penelitian ini dilaksanakan di Dusun Sawahan, Desa Payaman, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri Jawa Timur dengan ketinggian lebih kurang 200 meter diatas permukaan laut pada bulan Desember 2017 sampai dengan Maret 2018. Penelitian ini bersifat faktorial yang menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 2 faktor, yaitu dosis pupuk kotoran kambing dan waktu aplikasi PGPR. Dosis pupuk kotoran kambing terdiri atas 3 taraf, yaitu K0 = 0 ton ha -1, K1 = 10 ton ha -1 dan K2 = 20 ton ha-1. Waktu aplikasi PGPR terdiri atas 4 taraf, yaitu P0 = Tanpa PGPR, P1 = Saat tanam, P2 = Saat tanam dan 7 hari setelah tanam dan P3 = Saat tanam, 7 dan 14 hari setelah tanam. Pada rancangan tersebut didapat 12 perlakuan kombinasi. Perlakuan kombinasi dari kedua faktorii tersebut diulang sebanyak 3 kali sehingga terdapat 36 petak percobaan dari 3 petak perlakuan kontrol. Parameter pengamatan non destruktif meliputi rata-rata tinggi tanaman, rata-rata jumlah daun, rata-rata jumlah cabang produktif per tanaman dan jumlah bunga total per tanaman, dan persentase fruit set. Variabel pengamatan hasil meliputi : total jumlah buah per tanaman (buah), total bobot segar buah per tanaman, berat segar buah cabai rawit (g/1,76 m2) dan hasil per hektar. Data yang didapatkan selanjutnya dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA). Apabila terjadi pengaruh nyata pada perlakuan maka dilakukan uji lanjut dengan menggunakan BNT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan interaksi antara perlakuan dosis pupuk kotoran kambing dan waktu aplikasi PGPR pada parameter jumlah bunga total per tanaman, persentase fruit set, total bobot buah per tanaman, berat segar buah cabai rawit (g/1,76 m2) dan hasil per hektar (ton ha-1). Total bobot buah per tanaman, berat segar buah cabai rawit (g/1,76 m2) dan hasil per hektar (ton ha-1) yang lebih tinggi didapatkan pada perlakuan kombinasi dosis pupup kotoran kambing K2 (20 ton ha-1) pada waktu aplikasi PGPR P3 (saat tanam, 7, 14 hst). Kombinasi perlakuan pupuk kotoran kambing K2 (20 ton ha-1) menghasilkan rerata yang baik dengan waktu aplikasi PGPR P3 (saat tanam, 7, 14 hst). Dosis pupuk kotoran kambing berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang produktif per tanaman. Perlakuan dosis pupuk kotoran kambing 20 ton ha-1 memiliki hasil yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Waktu aplikasi PGPR berpengaruh nyata terhadap jumlah cabang produktif. Perlakuan waktu aplikasi PGPR P3 (saat tanam, 7, 14 hst) memiliki hasil yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainny

    Pengaruh Pupuk Kotoran Kambing dan Waktu Aplikasi PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.)

    Get PDF
    Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) adalah salah satu tanaman hortikultura dari famili Solanaceae yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Produksi di lapangan menunjukkan masih dibawah potensi hasil. Salah satu faktor yang sering dihadapi dalam budidaya cabai rawit adalah jenis tanah dan musim. Berdasarkan kondisi tersebut upaya untuk meningkatkan bahan organik tanah, salah satunya dengan penambahan pupuk kotoran kambing dan PGPR. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk kotoran kambing dan waktu aplikasi PGPR yang tepat untuk pertumbuhan dan hasil tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L.). Penelitian ini dilaksanakan di Dusun Sawahan, Desa Payaman, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri pada bulan Desember 2017 sampai dengan Maret 2018. Penelitian ini bersifat faktorial yang menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 2 faktor, yaitu dosis pupuk kotoran kambing dan waktu aplikasi PGPR. Data yang didapatkan selanjutnya dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA). Apabila terjadi pengaruh nyata pada perlakuan maka dilakukan uji lanjut dengan menggunakan BNT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan interaksi antara perlakuan dosis pupuk kotoran kambing dan waktu aplikasi PGPR pada parameter jumlah bunga total per tanaman, persentase fruit set, total bobot buah per tanaman, berat segar buah cabai rawit dan hasil per hektar. Dosis pupuk kotoran kambing berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang produktif per tanaman. Waktu aplikasi PGPR berpengaruh nyata terhadap jumlah cabang produktif
    corecore