Analisis Perencanaan Dan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Jamu Pada PT. Gujati 59 Utama, Sukoharjo, Jawa Tengah

Abstract

Sejak jaman dahulu, nenek moyang kita telah mengkonsumsi jamu guna menjaga kesehatan, kecantikan dan mengobati penyakit. Jamu sebagai obat tradisional berbahan alami merupakan warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi yang menyentuh aspek ekonomi dan sosial masyarakat dan dipercaya bermanfaat untuk kesehatan. Peningkatan permintaan terhadap obat alami atau jamu berkaitan dengan perubahan pola hidup masyarakat Indonesia secara perlahan mulai kembali ke alam atau back to nature. Ketersediaan bahan baku untuk pembuatan jamu tradisional di Indonesia cukup melimpah. Hal ini menunjukkan bahwa dalam ketersediaan bahan baku pembuatan jamu, setiap industri jamu tidak tergantung terhadap impor. Perkembangan industri jamu di Indonesia telah ada sejak lama dan tetap tumbuh hingga saat ini. Provinsi Jawa Tengah sebagai pusat industri jamu terbesar di Indonesia. Salah satu kabupaten yang memiliki persebaran industri jamu terbanyak yaitu Kabupaten Sukoharjo. PT. Gujati 59 Utama merupakan salah satu industri jamu yang yang berlokasi di Desa Gupit, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Permasalahan yang sering dihadapi oleh perusahaan yaitu dalam perencanaan kebutuhan bahan baku jamu hanya berdasarkan pada jumlah bahan baku yang dibutuhkan untuk setiap proses produksi, sehingga kurang memperhatikan resiko ketidakpastian pasokan bahan baku jamu di tingkat pemasok yang cenderung berfluktuasi. Selain itu, pemenuhan kebutuhan bahan baku jamu untuk kegiatan produksi seringkali mengalami kekurangan persediaan (stock out) bahan baku. Pada penelitian ini bahan baku jamu yang akan dioptimalkan adalah bahan baku yang mengalami stock out yaitu bangle, dan bahan baku yang paling banyak digunakan sepanjang tahun yaitu jahe semi. Tujuan penelitian ini adalah 1) menganalisis perencanaan kebutuhan bahan baku jamu yang diterapkan oleh PT. Gujati 59 Utama dan 2) menganalisis besarnya jumlah pembelian bahan baku jamu secara ekonomis pada PT. Gujati 59 Utama. Penelitian dilaksanakan di PT. Gujati 59 Utama yang beralamat di Jl. Raya Solo, Wonogiri No.59 (Km 26.5) Desa Gupit, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Lokasi dipilih karena PT. Gujati 59 Utama merupakan salah satu industri jamu yang produknya telah lama beredar di Indoneisa, bermutu tinggi, teregistrasi BPOM, aman dan berkhasiat untuk solusi kesehatan keluarga. Penentuan responden ditentukan secara non probability sampling menggunakan metode purposive typical case sampling. Sehingga, ditetapkan teknik pengambilan responden dengan memilih informan kunci (key informan). Informan kunci pada penelitian ini yaitu satu orang Kepala Divisi, satu orang Divisi Planning Production viii and Inventory Control (PPIC), serta satu orang Kepala Divisi Gudang untuk memperoleh informasi mengenai bagaimana pengendalian persediaan bahan baku dalam gudang yang diterapkan oleh perusahaan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Box Jenkins dan Simple Exponential Smoothing (SES) untuk memperkirakan kebutuhan bahan baku jahe semi dan bangle periode satu tahun kedepan dan Economic Order Quantity (EOQ) untuk menganalisis tingkat pemesanan bahan baku yang ekonomis, safety stock, lead time, reorder point, serta persediaan maksimal dan minimal yang berdampak pada biaya persediaan. Hasil penelitian mengenai analisis perencanaan menggunakan metode Box Jenkins dan SES dipilih Holt-Winters Additive Seasional sebagai metode terbaik, dilihat dari nilai MAD, RMSE, MSE dan SSR terkecil. Pada metode tersebut pada data jahe semi diperoleh nilai MAD sebesar 114,2327, nilai RMSE sebesar 143,6519, nilai MSE sebesar 20635,8684 dan nilai SSR sebesar 1073066. Sedangkan pada bahan baku bangle, diperoleh nilai MAD sebesar 32,1459, nilai RMSE sebesar 41,9485, nilai MSE sebesar 1759,68 dan nilai SSR sebesar 91503,37. Nilai error terendah menunjukkan bahwa hasil peralaman tersebut mendekati kenyataan. Kemudian diperoleh besarnya kebutuhan bahan baku untuk periode satu tahun kedepan (02 Januari 2017 – 31 Desember 2017) mengalami penurunan untuk jahe semi dari 12.431 kg menjadi 11.929,54 kg, sedangkan untuk bangle mengalami peningkatan dari 2.550 kg menjadi 2.832,87 kg. Hasil peramalan ini kemudian digunakan dalam menentukan tingkat pemesanan bahan baku yang ekonomis di periode mendatang. Berdasarkan hasil penelitian mengenai persediaan bahan baku menggunakan metode EOQ menghasilkan frekuensi pemesanan jahe semi sebanyak dua kali per minggu dengan waktu tunggu 0,11 minggu dan bangle sebanyak satu kali perminggu dengan waktu tunggu 0,27 minggu. Jumlah pemesanan ekonomis yang sebaiknya dilakukan oleh persahaan yaitu 110,81 Kg untuk jahe semi dan 63,2 Kg untuk bangle, sehingga dapat menghemat biaya persediaan. Pada jahe semi, perusahaan dapat menghemat biaya persediaan hingga Rp 12.630.456 atau 92,45% dan Rp 5.356.825 atau 93,12% untuk penghematan pada bahan baku bangle. Persediaan pengaman yang dihasilkan untuk jahe semi sebesar 79,99 Kg dan bangle sebesar 33,14 Kg. Pembelian bahan baku optimal akan berkelanjutan jika perusahaan melakukan pembelian saat persediaan jahe semi berada di tingkat 83,69 Kg dan bangle pada tingkat 35,24 Kg. Persediaan maksimal pada jahe semi yang sebaiknya diterapkan oleh perusahaan yaitu 190 Kg dan bangle yaitu 96,34 Kg. Persediaan minimal yang seharusnya dimiliki oleh perusahaan yaitu 5,11 Kg untuk jahe semi dan 2,91 Kg untuk bangle

Similar works

Full text

thumbnail-image
oai:repository.ub.ac.id:4687Last time updated on 4/5/2020View original full text link

This paper was published in bkg.

Having an issue?

Is data on this page outdated, violates copyrights or anything else? Report the problem now and we will take corresponding actions after reviewing your request.