Tindak Tutur Guru (Terapis) Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

Abstract

Abstrak: Penggunaan ragam tindak tutur dalam interaksi belajar mengajar merupakan salah satu hal yang biasa dilakukan oleh guru. Setiap jenis tutur tersebut mempunyai  fungsi yang    penting  dalam  interaksi  belajar  mengajar. Dengan demikian, guru (terapis) dapat mempergunakan jenis tuturan ilokusi secara bergantian yang disesuaikan dengan fungsi dan konteksnya.Penelitian ini di lakukan di SLB Autis Lab UM Malang yang berada di Jl. Surabaya No.6, Sumbersari, Kec. Lowokwaru, Kota Malang Jawa Timur 65115. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan jenis tuturan asertif, direktif, komisisf, ekspresif, dan deklaratif yang dipakai guru di dalam kelas saat pembelajaran bahasa pada anak bekebutuhan khusus (ABK). Data yang diperoleh berupa tuturan tuturan guru (terapis) bukan data angka dengan menggunakan hitungan statistik. Hal ini sesuai dengan hakikat penelitian kualitatif.Adapun jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif karena dilakukan pada beberapa subjek penelitian pada suatu latar belakang tertentu, yaitu tuturan guru (terapis) dalam pembelajaran bahasa di kelas. Oleh ssebab itu,, untuk menganalisis dattanya,  penelityan inni memakai cara kerja menggunakan teoti, yaitu teoti pragmatik dan teoti tindak tutur.Hasil penelitian mengenai tindak tutur guru dalam mengajarkan bahasa Indonesia pada ABK dilakukan dengan cara pengamatan angsung (observasi) dan dokumentasi di temukan tuturan guru (terapis) dalampembelajaran bahasa di kelas, guru (terappis) memakai tindakan tutuarn ilokusi dalam pembelajarannya. Tindak tutur ilokusi yang digunakan dalam pembelajaran di antaranya adalah tindak tutur asertif, direktif, ekspresif deklaratif dan komisif. Kedua, Tuturan yang digunakan untuk pembelajaran bahasa untuk ABK adalah tuturan asertif (memberitahukan), direktif  (perintah, larangan, ajakan, permintaan, dan nasehat), ekspresif (mengucapkan terimakasih dan memuji), deklatatif(menunjuk), dan komisif (memanjatkan doa). (1) Tuturan asertif yang digunakan didalam pengajaran bahasa pada ABK adalah tindakantuturan asertif memberitahukan. Tindak tutur asertif memberitahukan digunakan guru (terapis) untuk memberitahukan materi dan pelajaran kepada ABK saat kegiatan awal dan proses dalam pembelajaran. (2) Tindakan tuturan direktif  perintah, larangan, mengajakan, perminta an, dan nasehat. Guru (terapis) mengggunakan tindak tutur direktif agar ABK melakukan tindakan yang dimaksud oleh guru ( terapis ). Dalam bertuturan direktif  perintah guru ( terapis ) memakay tindak tutur direktif perintah dengan menggunakan kata “maju”, tindak tutur direktif larangan “Tidak”, tindak tutur direktif ajakan “Ayo”,  tuturan direktif permintaan“pindah”  disesuaikan dengan konteks, tuturan direktif nasehat “Belajar yang rajin ya!”  disesuaikan dengan konteks. (3) Tindak tutur ekspresif mengucapkan terimakasih dan memuji. Guru (terapis) menggunakan tindak tutur ekspresif  unruk mengekspresikan,  mengungkapkan, atau memberitahukan sikap psikologisnya. Dalam pembelajaran guru (terapis) menggunakan tuturan “terimakasih”  dan tuturan ekspresif memuji “pintar!“ unruk mengekspresikan,  mengungkapkan, atau memberitahukan sikap psikologisnya. (4) Tindak tutur deklaratif yang digunakan guru (terapis) di antaranya adalah tindak tutur deklatatif menunjuk. Guru (terapis) menggunakan tindak tutur deklaratif untuk menciptakan hal (status, keadaan dan sebagainya) yang baru. Dalam proses pembelajaran guru (terapis) menggunakan tuturan direktif menunjuk ”Nah, selanjutnya SD” disesuaikan dengan konteks. (5) Tindakan tuturan kimisif yang di gunakan guru ( terapis) di antaranya adalah tindak tutur komisif memanjatkan doa. Guru (terapis) menggunakan tuturan komisif untuk melibatkan pembicara pada beberapa tindakan yang akan datang. Padasaat akan memulay aktivitas didalam kellas guru  ( terapis) menggunakan tuturan komisif memanjatkan doa untuk mengharapkan kebaikan di masa mendatang dalam pembelajaran bahasa pada ABK.Kata kunci: Tindak tutur, Guru (Terapis), pembelajaran bahasa Indonesia, Anak berkebutuhan khusus (ABK)

Similar works

Full text

thumbnail-image

Jurnal Universitas Islam Malang

Provided a free PDF
oai:ojs.riset.unisma.ac.id:article/4411Last time updated on 10/17/2019View original full text link

This paper was published in Jurnal Universitas Islam Malang.

Having an issue?

Is data on this page outdated, violates copyrights or anything else? Report the problem now and we will take corresponding actions after reviewing your request.