Article thumbnail

ANALISIS PENGGUNAAN FIRAA (フィラー) PADA PENUTUR ASING DALAM ACARA WAWANCARA ORANG ASING

By . Vegy Januarika

Abstract

Saat berdialog dengan penutur asli bahasa Jepang, tidak jarang penutur asing menggunakan firaa. Bagaimana penggunaan firaa pada penutur asing tidak dapat dijelaskan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui penggunaan firaa pada penutur asing yang berfokus pada bentuk-bentuk dan fungsinya dalam acara Wawancara Orang Asing. Acara ini dipilih sebagai instrumen penelitian karena menyajikan dialog wawancara antara penutur asli dan penutur asing. Teori yang dijadikan sebagai acuan dalam penelitian ini adalah teori tentang bentukbentuk dan fungsi penggunaan firaa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi pasif dengan dokumen berupa video, yaitu dengan mengumpulkan percakapan dan mereduksi data firaa pada acara Wawancara Orang Asing episode 17. Kemudian data dikaji berdasarkan teknik analisis data menurut Miles dan Huberman dalam Sugiyono (2015: 246) yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) bentuk-bentuk penggunaan firaa pada penutur asing dalam acara Wawancara Orang Asing ada sebanyak 11 bentuk dari 30 bentuk yang digunakan pada penutur asli dengan jumlah penggunaan sebanyak 76 kali dan bentuk yang paling banyak digunakan adalah bentuk aa, 2) persentase penggunaan bentuk firaa pada penutur asing adalah sebesar 37% dari jumlah bentuk firaa pada penutur asli, 3) tidak semua bentuk firaa pada penutur asli digunakan oleh penutur asing yang dibuktikan dengan munculnya dua bentuk firaa yaitu bentuk shitauchi (cek) dan tabun, 4) fungsi firaa yang digunakan oleh penutur asing ada 6 yaitu: (1) fungsi untuk mempertahankan hak bicara; (2) fungsi sebagai penghasil waktu; (3) fungsi untuk pergantian pembicara; (4) fungsi sebagai shirage; (5) fungsi untuk menunjukkan keragu-raguan; (6) fungsi sebagai pemahaman bersama, 5) fungsi penyesuaian dengan lawan bicara sedikit lebih banyak dari fungsi penyesuaian wacana, dan 6) tidak terdapat fungsi firaa untuk memulai topik dan ucapan pada percakapan berjenis dialog wawancara

Topics: Bahasa Jepang
Year: 2018
OAI identifier: oai:repository.unj.ac.id:1495

Suggested articles


To submit an update or takedown request for this paper, please submit an Update/Correction/Removal Request.