oaioai:repository.ubaya.ac.id:34933

Pengukuran Beban Kerja Mental dalam Proses Perkuliahan Mahasiswa Jurusan Teknik Industri Ubaya dengan Metode Nasa-TLX

Abstract

Dalam proses perkuliahan, mahasiswa tidak hanya mengalami beban kelja fisik tetapi juga mengalami beban kerja mental. Namun, selama ini pengukuran beban kerja mental kurang diperhatikan, padahal beban kerja mental dapat mempengaruhi performansi (IPS, IPK, danjumlah sks) mahasiswa. Dengan dilakukan pengukuran beban kerja mental mahasiswa, maka dapat dilakukan penyeimbangan beban kelja menta! di setiap semester dan dapat diketahui faktor apa saja yang mempengaruhi beban kerja mental mahasiswa. Universitas Surabaya (Ubaya) merupakan salah satu universitas swasta yang telah dikenal oleh masyarakat luas, dan telah diakui mempunyai mutu pendidikan yang baik. Salah satu fakultas yang menjadi unggulan Ubaya adalah Fakultas Teknik, terutama Jurusan Teknik Industri (TI). Hingga sekarang ini, belum pernah dilakukan pengukuran beban kerja mental pada mahasiswa TI Ubaya. Oleh karena itu, pada penelitian kali ini akan dilakukan pengukuran beban kerja mental dengan metode subyektif National Aeronautics and Space Administration Task Load Index (NASA-TLX) yang mempunyai 6 faktor penilaian yaitu tuntutan fisik, tuntutan mental, tekanan waktu, usaha, performansi, dan tingkat frustasi. Metode NASA-TLX dapat membantu menentukan nilai beban kerja mental mahasiswa TI Ubaya dalam Weighted Work Load (WWL). Setelah dilakukan penyebaran kuesioner kepada 145 mahasiswa TI Ubaya yang terdiri dari mahasiswa angkatan 2002 sampai dengan 2006, maka dapat dilakukan perhitungan WWL. WWL didapatkan dari total perkalian antara masing-masing bobot faktor dengan rating faktor. Dari perhitungan tersebut, dapat diketahui bahwa nilai rata-rata WWL mahasiswa TI Ubaya di setiap semester berfluktuatif. Nilai WWL terendah pada semester 1 (93,21), kemudian meningkat di semester 2 (103,66), dan semakin meningkat di semester 3 (106,94). WWL menurun pada semester 4 (103,45), namun meningkat lagi di semesterS (109,97), kemudian pada semester 6 menurun lagi (105,03). WWL yang tertinggi yaitu pada semester 7 (111,13), namun menurun lagi di semester 8 (103,04). . Langkah selanjutnya yaitu pengujian crosstab untuk mengetahui adanya asosiasi antara WWL dengan faktor pembanding yang dapat mempengaruhi beban kelja mental mahasiswa. Faktor pembanding tersebut antara lain jenis kelamin, mata kuliah Kerja Praktik (KPl, KP2, dan TA), tipe kepribadian (Adversity Quotient), jumlah mata kuliah kuantitatif, dan kualitatif. Dari berbagai pengujian crosstab yang dilakukan, hanya mata kuliah KP yang mempunyai asosiasi dengan WWL. Pengujian regresi linier juga dilakukan untuk mencari faktor pembanding yang mempengaruhi WWL. Dari faktor-faktor pembanding, hanya jumlah sks, jumlah jam praktikum, dan jumlah mata kuliah kuantitatif yang mempengaruhi WWL, serta WWL hanya mempengaruhi IPS. Usulan yang dapat diberikan adalah penyesuaian jumlah sks dan jumlah mata kuliah kuantitatif yang diambil oleh mahasiswa, serta penyesuaian waktu pelaksanaan sidang proposal Tugas Akhir (T A). Selain itu, diharapkan agar hasil pengukuran beban kerja mental dijadikan dasar dalam melakukan evaluasi kurikulum. Kurikulum di TI Ubaya saat ini sudah dianggap baik oleh sebagian besar responden. Hal tersebut dapat dibuktikan juga setelah dilakukan benchmark kurikulum TI Ubaya dengan kurikulum TI UK Petra dan TI ITS temyata diantara tiga universitas tersebut memiliki susunan kurikulum yang relatif sama. Sehingga susunan kurikulum yang digunakan di Ubaya saat ini sudah seperti susunan kurikulum yang seharusnya ada di jurusan TI

Similar works

Full text

thumbnail-image

University of Surabaya Institutional Repository

Provided a free PDF
oaioai:repository.ubaya.ac.id:34933Last time updated on 7/10/2019View original full text link

Having an issue?

Is data on this page outdated, violates copyrights or anything else? Report the problem now and we will take corresponding actions after reviewing your request.