Article thumbnail

SABDARAJA DALAM EKONOMI POLITIK MEDIA (Analisis Wacana Kritis Tentang Ekonomi Politik Media Pada Pemberitaan Sabdaraja Terkait Suksesi Tahta Kraton Yogyakarta di SKH Kedaulatan Rakyat edisi Mei-Juli 2015)

By DIAH RUKMINI

Abstract

Penelitian ini merupakan analisis wacana kritis tentang polemik sabdaraja dalam tubuh Kraton Yogyakarta pada surat kabar lokal di Yogyakarta yakni, SKH Kedaulatan Rakyat. Polemik bermula saat Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai Raja Yogyakarta mengeluarkan Sabdaraja sebanyak empat kali pada tahun 2015. Sabda Sultan yang disebut dengan Dhawuhraja berkaitan dengan persoalan suksesi tahta Raja di Kraton Yogyakarta. Polemik ini menimbulkan adanya Pro dan Kontra muncul dari rayi dalem. Peran media menjadi penting dalam menyampaikan informasi terkait polemik Sabdaraja. SKH Kedaulatan Rakat sebagai media massa yang dikenal dekat dengan Kraton menjadi medan pertarungan wacana kedua belah pihak. Penelitian ini bermaksud mengungkap bagaimana koran lokal mengkonstruksi pemberitaan polemik sabdaraja terkait suksesi penerus tahta Raja serta membongkar kepentingan ekonomi – politik media cetak tersebut dalam memberitakan polemik internal Kraton Yogyakarta.Penelitian ini bersifat kualitatif menggunakan paradigma kritis dengan metode penelitian analisis wacana kritis (AWK)Norman Fairclough. Teknik pengumpulan data menggunakan analisis teks media dan menggabungkan wawancara mendalam. Berdasarkan analisis terhadap wacana, ditemukan adanya relasi kuasa dominasi dalam konteks wacana sabdaraja. Wacana yang mendominasi terlihat pada citra baik Sultan HB X yang selalu ditampilkan sebagai aktor tunggal. Terlihat adanya wacana sampingan yang sebenarnya merupakan hasil penyelarasan terhadap kepentingan yang dominan. Pada tahap praktek wacana ditemukan adanya interpretasi dalam diri produsen teks. Interpretasi terhadap apa yang menjadi selera pembaca yang menjadi pilihan redaksional dalam mengangkat tema dalam pemberitaannya. SKH Kedaulatan Rakyat menampilkan narasumber yang dianggap sebagai tokoh yang berpengaruh di Yogyakarta. Selain itu, pemilihan penggunaan bahasa jawa dalam pemberitaannya menjadi pilihan yang didasari pertimbangan ekonomi karena merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan khalayak dan mempertahankan lembaga media di tengah pasar media lokal di Yogyakarta dengan hadirnya koran-koran lokal baru. Pada level sosiokultural terlihat bahwa selain faktor kedekatan secara sejarah. Terlihat lebih menonjol faktor ekonomi mendominasi secara kontekstual dan mampu mengalahkan faktor penekan lain seperti politik dan budaya Penelitian ini berangkat dari kerangka teori ekonomi politik media yang diartikan sebagai studi tentang relasi sosial, tentunya relasi kekuasaan yang saling berkaitan dalam sistem produksi, distribusi, dan konsumsi sumber daya komunikasi. Teori ekonomi politik media juga diartikan sebagai pendekatan kritik sosial yang berfokus pada hubungan antara struktur ekonomi dan dinamika industri media dan konten ideologi media. Hasil penelitian menunjukan, SKH Kedaulatan Rakyat tidak berdiri secara tegas. Cenderung condong ke salah satu kubu. SKH Kedaulatan Rakyat cenderung berada di kubu Sultan dengan mengkomodir wacana yang saling berseberangan. SKH Kedaulatan Rakyat mengidentifikasikan dirinya pada kelompok pendukung sabdaraja. cara media dalam memberitakan polemik suksesi ini menunjukan rentannya independensi media. Kata Kunci : Ekonomi Politik Media, Analisis Wacana, Sabdaraja Diah Rukmini S221408004 Sabdaraja in Political Economic of a Mass Media (Critical Discourse Analysis About Sabdaraja News on Related To The Succession of The King Throne Yogyakarta Palace on Kedaulatan Rakyat Newspaper Edition Mei – July 2015) Pembimbing I : Prof. Drs. Pawito, Ph.D Pembimbing II : Dra. Prahastiwi Utari M,Si, Ph.D, Tesis: Program Studi Magister Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Sebelas Maret Surakarta. ABSTRACT The study represented an analysis of critical discourse of the sabdaraja polemics of yogyakarta palace in local newspaper in Yogyakarta that is Kedaulatan Rakyat newspaper. Polemic begin moment issuing that Sultan Hamengku Buwono X as the King’s of Yogyakarta Palace spoken sabdaraja for four times throughout in 2015. The Sabdaraja wich are called with ‘dhawuhraja’ associated with the sucession of the king throne in Yogyakarta Palace. This polemics has creating pro and contra appear from ‘rayi dalem’. the role of the media becomes important as a medium to delivered the sabdaraja information to audiens. Kedaulatan Rakyat newspaper is one of the mass media wich have a close relations with Yogyakarta Palace, has become the medium for the battle of discourse by Sultan and ‘rayi dalem’. It intended to uncover how local newspaper constructed the reporting of the sbdaraja polemic about the sucession of the king throne, while at the same time to disclose political-economic interest of local newspaper in reporting the internal polemics on Yogyakarta palace. It was qualitative research with critical paradigm and critical discourse analysis (CDA) Norman Fairclough method. Data was collected using media text analysis combined with in-dept interview. Based on textual analysis, there are found that have the existance of power relations a dominant influence throught the sabdaraja. dominations the discourse seen in the good image of the Sultan HB X is always featured as a single actor. Both shown are fully capable to assert their influence toward other discourse being forced to be linear with dominant discourse. At the discourse practice level kind of interpretation in text producent’s mind. Interpretation about what their audience want created SKH Kedaulatan Rakyat editorial in the theme of preaching. SKH Kedaulatan Rakyat feturing resource persons who are considered to have influence in Yogyakarta. The selection of javanese language usage choice was made by media institusion based on economics consideration to assert their market domination in front of new market are several new local newspaper in Yogyakarta At the sosiocultural level, in addition to historical situadness. More prominent economics factor dominated contextually and able to pressuring factors such as politic an cultural. This research started from political-economic theories of media, meaning that it examined about examined social relations, especially power relations that related to production system, distribution anda comsumption of communication resources. Political-economics theories of media was define as critical social approach focusing on the relationship between economics structure and ideological content of media. The result of the study showed that the SKH Kedaulatan Rakyat is did not standing firmly. SKH Kedaulatan Rakyat tends to sopport both of the Sultan by accomodating both discourse. SKH Kedaulatan Rakyat was identified themselve as support group Sabdaraja. the reporting method of the polemics by sucessions the King throne was indicative of the susceptibility of media independence. Keyword: Political And Economic, Discouse Analysis, Sabdaraj

Topics: H Social Sciences (General), HB Economic Theory
Year: 2018
OAI identifier: oai:generic.eprints.org:41259/core478

To submit an update or takedown request for this paper, please submit an Update/Correction/Removal Request.

Suggested articles