Relasi manusia dan alam (tinjauan ekoteologi dalam tradisi sesuci diri di Candi Jolotundo Desa Seloliman Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya unsur mitologi penciptaan Gunung Semeru, Gunung Penanggungan dan peran air suci (tirtha) di Gunung Penanggungan dalam pelaksanaan tradisi sesuci diri di Desa Seloliman Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto. Adapun tujuan dalam penelitian ini yaitu memahami relasi manusia dan alam dalam tradisi sesuci diri di candi Jolotundo Desa Seloliman Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto dan mengetahui makna sesuci diri dalam perspektif ekoteologi. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan kualitatif, teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Penelitian ini mengacu pada konsep manusia dalam prespektif Jawa, fenomenologi eksistensialistik Martin Heidegger dan Ekoteologi. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa, dalam perspektif falsafah Jawa, tradisi sesuci diri dilakukan guna mendekatkan diri terhadap Tuhan, terutama dalam prosesi hening. Proses hening merupakan tahap dimana seseorang melakukan refleksi diri serta mencapai harmoni dengan Tuhan dan alam. Dalam perspektif fenomenologi eksistensialistik, kemampuan memahami Jolotundo sebagai ruang laku spiritual memberikan pemahaman terhadap pelaku spiritual akan kepentingannya dalam dunia ini, dan relasi ontologisnya dengan alam dan dunianya. Dalam perspektif ekoteologi, sesuci diri telah mengalami akulturasi budaya dalam setiap metode dan maknanya, hal ini menandakan bahwa setiap agama yang terakulturasi dalam tradisi sesuci diri mempunyai makna universal tentang eksistensi alam

Similar works

This paper was published in Digital Library of UIN Sunan Ampel.

Having an issue?

Is data on this page outdated, violates copyrights or anything else? Report the problem now and we will take corresponding actions after reviewing your request.