Rona Teknik Pertanian
Not a member yet
    196 research outputs found

    Prediksi Laju Dan Zona Tingkat Bahaya Erosi Pada Pelapukan Batuan Vulkanik Di Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat

    Get PDF
    Abstrak.Penelitian ini dilakukan di Desa Cililin, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Daerah ini memiliki morfologi beragam, mulai dari bergelombang (645 mdpl) dengan kemiringan lereng 200 sampai sangat curam (1065 mdpl) dengan kemiringan lereng 450. Tujuan penelitian ini untuk memprediksikan besarnya laju erosi dengan menggunakan Metode USLE dan mengetahui zona tingkat bahaya erosi. Jenis penelitian ini adalah penelitian survey deskriptif dengan populasi seluruh lahan di wilayah penelitian. Penetapan lokasi sampling menggunakan area sampling, sedangkan analisa hasil data menggunakan metode USLE (Universal Loss Soil Equation) serta skoring dan bobot pada setiap parameter lahan serta dengan cara overlay peta, sehingga diperoleh klasifikasi tingkat bahaya erosi. Hasil yang diperoleh untuk prediksi laju erosi di daerah penelitian yaitu sangat ringan sampai sedang, sedangkan untuk zona tingkat bahaya erosi diperoleh 3 satuan, yaitu Zona tingkat bahaya erosi ringan dengan luas 151,4 ha. Berada pada daerah perbukitan bergelombang, dengan tataguna lahan berupa pesawahan. Jenis tanah pelapukannya adalah lempung pasiran. Zona tingkat bahaya erosi menengah dengan luas 408,4 ha. Umumnya merupakan daerah perbukitan bergelombang hingga curam sampai perbukitan curam, dengan tataguna lahan berupa pesawahan, tegalan dan perkebunan. Jenis tanah pelapukannya adalah lempung pasiran, lempung lanauan dan pasir tufaan serta Zona tingkat bahaya erosi berat dengan luas 580,2 ha. Umumnya merupakan daerah perbukitan sangat curam 70%, dengan tataguna lahan berupa tegalan, perkebunan, dan hutan. Di daerah ini disusun oleh tanah pelapukan jenis pasir tufaan.Prediction of Rate and Zone of Erosion Danger Level In Volcanic Rock Weathering In Cililin District, West Bandung DistrictAbstract.The research is done in Cililin village, Cililin sub district, Bandung Barat Regency. The are has various morphology condition from wavy hills, elevation 645 msl and slope 200 to very steep hills with elevation 1065 msl and slope 450. The aims of research is to predict the magnitude of the erosion rates which used the USLE method. The type of research is descriptive survey with population in the all land of the research area. Determination of the location sample is used in the sampling area, whereas data analysis is used USLE method, scoring and weight each land parameter to obtain the erosion hazard classification. The result showed that the predict of erosion rate in the research area is very low to moderate and the classification of erosion hazard consist of Low erosion hazard (151,4 ha), flat to wavy hill morphology, paddies landuse area. Soil type is sandy clay. Moderate erosion hazard (408,4 ha), wave hills to steep hills, paddies and plantation. Soil type is sandy clay, silty clay tuffaceous sand. High erosion hazard (580,2 ha), steeply hills, slope 70 %, plantation and forest landsuse, soil type is tuffaceous sand

    Simulasi Sebaran Suhu oleh Pendinginan Evaporatif pada Rumah Tanaman Tropika Basah untuk Persemaian Eukaliptus

    Get PDF
    oai:jurnal.usk.ac.id:article/42886Abstrak. Persemaian Eukaliptus di rumah tanaman tropis basah menghadapi tantangan suhu yang tinggi, yang dapat mencapai 37C, jauh di atas rentang suhu ideal (25-31C). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas pendinginan evaporatif dalam mengontrol suhu rumah tanaman. Simulasi dilakukan menggunakan perangkat lunak Ansys Discovery pada model rumah tanaman berukuran 8 m x 4 m x 4 m dengan ventilasi di dinding dan atap. Kecepatan aliran udara yang disimulasikan bervariasi antara 0,9 m/s hingga 5 m/s. Hasil menunjukkan bahwa tanpa pendinginan evaporatif, suhu rumah tanaman cenderung serupa dengan suhu lingkungan, yang tidak mendukung pertumbuhan optimal Eukaliptus. Dengan pendinginan evaporatif, suhu di dalam rumah tanaman dapat diturunkan hingga 26-28C, terutama pada kecepatan aliran udara 3 m/s atau lebih. Sistem pendinginan evaporatif terbukti efektif dalam menyeragamkan suhu, menjadikannya solusi yang direkomendasikan untuk mendukung keberhasilan persemaian Eukaliptus di kawasan tropis basah.Simulation of Temperature Distribution by Evaporative Cooling in a Wet Tropical Greenhouse for Eucalyptus NurseryAbstract.Eucalyptus nurseries in wet tropical greenhouses face the challenge of high temperatures, which can reach 37C, well above the ideal temperature range (25-31C). This study aims to analyse the effectiveness of evaporative cooling in controlling greenhouse temperature. Simulations were conducted using Ansys Discovery software on an 8 m x 4 m x 4 m greenhouse model with vents in the walls and roof. The simulated airflow velocity varied from 0.9 m/s to 5 m/s. Results show that without evaporative cooling, the greenhouse temperature tends to be similar to the ambient temperature, which does not favour optimal growth of Eucalyptus. With evaporative cooling, the temperature inside the greenhouse can be reduced to 26-28C, especially at airflow velocities of 3 m/s or more. Evaporative cooling systems are proven to be effective in uniforming temperatures, making them a recommended solution to support the success of Eucalyptus nurseries in wet tropical regions

    Isolasi Bakteri Pendegradasi Keratin pada Pengomposan Limbah Bulu Ayam

    Get PDF
    Abstrak.Bulu ayam merupakan limbah dari sisa indsutri rumah Pemotongan ayam (RPA). Pengolahan limbah bulu ayam (LBA) dapat dilakukan secara fisik (tekanan hidrolisis, penguapan, pembakaran), menggunakan bahan kimia (larutan asam kuat, larutan alkali). Metode tersebut tidak ramah lingkungan dan dapat menimbulkan polusi. Alternatif pengolahan LBA adalah penggunaan mikroorganisme yaitu bakteri pendengradasi dari kompos bulu ayam. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan isolat bakteri yang berpotensi sebagai agen biodegradator keratin dalam kompos bulu ayam. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksplorasi dengan mengambil sampel hari ke-10 pengomposan dari campuran kotoran ayam (KA) dan bulu ayam (BA) serta sampel campuran kotoran sapi (KS) dan bulu ayam (BA) masing-masing perbandingan 1 : 1 (w/w). Isolasi bakteri dari limbah bulu ayam yang dikombinasikan dengan limbah ternak memiliki kelimpahan 1,4x109 - 16x109. Isolat yang didapatkan sebanyak 47 isolat yang menunjukkan aktivitas proteolitik yang terdiri dari 40 isolat berasal dari campuran KS dan BA serta 7 isolat berasal dari campuran KA dan BA. Dari 47 isolat yang memiliki indeks zona bening ideal sebanyak 11 isolat dengan persentase 23%. Indeks zona bening yang ideal berkisar dari 4,86 0,73 sampai 2,40 0,59.Isolation of Keratin Biodegradators from Chicken Feather Waste in Composting ProcessAbstract. Chicken feathers are waste from the chicken slaughterhouse (RPA) industry. Processing of chicken feather waste (LBA) can be done physically (pressure hydrolysis, evaporation, burning) or with chemicals (strong acid solutions, alkali solutions). This method is not environmentally friendly and can cause pollution. An alternative to LBA processing is using microorganisms, namely degrading bacteria from chicken feather compost. This research aims to obtain bacterial isolates that have the potential to act as keratin biodegrading agents in chicken feather compost. The research method used was an exploratory method by taking samples on the 10th day of composting from a mixture of chicken manure (KA) and chicken feathers (BA) as well as samples of a mixture of cow manure (KS) and chicken feathers (BA), each in a ratio of 1: 1 ( w/w). Bacterial isolation from chicken feather waste and livestock waste had an abundance of 1,4x109 - 16x109 CFU's/gram of compost material. The isolates obtained were 47 isolates that showed proteolytic activity, consisting of 40 isolates coming from a mixture of KS and BA and 7 isolates coming from a mixture of KA and BA. The proteolytic clear zone index ranged from 1.04 0.03 to 4.86 0.73. The 47 isolates obtained had 11 isolates as ideal clear zone index with the percentage 23%. The ideal clear zone index ranges from 4.86 0.73 to 2.40 0.59

    Pengaruh Tingkat Kematangan Dan Lama Penyimpanan Terhadap Karakteristik Mutu Fisik Buah Lemon Lokal (Citrus X Limon) Pada Kondisi Penyimpanan Dingin

    Get PDF
    Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh tingkat kematangan dan lama penyimpanan terhadap karakteristik mutu fisik buah lemon lokal (Citrus x limon) pada kondisi penyimpanan dingin. Kondisi penyimpanan dingin ditujukan untuk mensimulasikan kondisi penyimpanan buah lemon lokal di supermarket/swalayan di Kota Medan. Penelitian ini dilakukan secara eksperimen menggunakan rancangan acak lengkap faktorial. Faktor pertama adalah tingkat kematangan: hijau (H), hijau-kuning (HK) dan kuning (K). Faktor kedua adalah lama penyimpanan (hari): 0, 2, 4, 6, 8, 10 dan 12 hari. Parameter yang dianalisis terdiri dari: susut bobot, susut ukuran dan kekerasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kematangan buah lemon lokal (Citrus x limon) memberi pengaruh berbeda nyata terhadap susut bobot yang berkisar antara 8,9388% - 10,6499%, susut ukuran buah (membujur) 3,16 mm 4,94 mm dan kekerasan 4,65 5,53 kg/cm2. Lama penyimpanan buah lemon lokal (Citrus x limon) memberi pengaruh berbeda nyata terhadap susut bobot yang berkisar antara 0,0000% - 17,0168%; susut ukuran buah (membujur) 0,00 mm -7,19 mm; susut ukuran buah (melintang) 0,00 mm - 4,08 mm. Interaksi tingkat kematangan dan lama penyimpanan buah lemon lokal (Citrus x limon) memberi pengaruh berbeda nyata terhadap kekerasan buah.The Effect Of Maturity Level And Storage Duration On The Physical Quality Of Local Lemon (Citrus X Limon) Under Cold Storage ConditionsAbstract.This study aims to study the effect of maturity level and storage duration on the physical quality characteristics of local lemon fruit (Citrus x limon) under cold storage conditions. Cold storage conditions are intended to simulate the storage conditions of local lemon fruit in supermarkets in Medan City. This study was conducted experimentally using a completely randomized factorial design. The first factor is the ripeness level: green (H), green-yellow (HK) and yellow (K). The second factor is the storage time (days): 0, 2, 4, 6, 8, 10 and 12 days. The parameters analyzed consisted of: weight loss, size loss and hardness. The results showed that the ripeness level of local lemon fruit (Citrus x limon) had a significantly different effect on weight loss ranging from 8.9388% - 10.6499%, fruit size loss (longitudinal) 3.16 mm - 4.94 mm and hardness 4.65 - 5.53 kg / cm2. The storage period of local lemons (Citrus x limon) had a significantly different effect on weight loss ranging from 0.0000% - 17.0168%; fruit size loss (longitudinal) 0.00 mm -7.19 mm; fruit size loss (transverse) 0.00 mm - 4.08 mm. The interaction between the level of ripeness and the storage period of local lemons (Citrus x limon) had a significantly different effect on fruit hardness

    Penetapan Prioritas Pengelolaan Aset Menggunakan e-PAKSI di Daerah Irigasi Way Sekampung

    Get PDF
    Abstrak.Daerah Irigasi Way Sekampung merupakan daerah irigasi terbesar di Provinsi Lampung dengan luas 76.006 Ha. Daerah Irigasi Way Sekampung terbagi menjadi 7 sub daerah irigasi berdasarkan saluran induk (Feeder Canal), yaitu Feeder Canal I melayani Daerah Irigasi Sekampung Bunut, Sekampung Batanghari, Raman Utara, dan Batanghari Utara; sedangkan Feeder Canal II melayani Daerah Irigasi Punggur Utara, Bekri, dan Rumbia Barat. Pemerintah menghadapi kendala dalam operasi dan pemeliharaan daerah irigasi karena keterbatasan dana, yang sering kali tidak cukup untuk mencakup seluruh wilayah irigasi. Oleh karena itu, perlu dilakukan penetapan prioritas pengelolaan aset di Daerah Irigasi Way Sekampung agar penanganan yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan memberikan manfaat maksimal. Penetapan prioritas pengelolaan aset di Daerah Irigasi Way Sekampung ini menggunakan aplikasi android bernama e-PAKSI (elektronik Pengelolaan Aset dan Kinerja Sistem Irigasi). Pendekatan modern ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan, serta mendukung pengurangan penggunaan lembar kerja lapangan (paperless). Berdasarkan hasil analisis skala prioritas didapatkan hasil secara berurutan adalah bangunan pelengkap, bangunan pengatur, saluran sekunder, saluran primer dan bendung.Determination of asset management priorities using e-PAKSI in the Way Sekampung Irrigation AreaAbstract.Way Sekampung Irrigation Area is the largest irrigation area in Lampung Province with an area of 76,006 Ha. The Way Sekampung Irrigation Area is divided into 7 sub-irrigation areas based on the feeder canal, namely Feeder Canal I serves the Sekampung Bunut, Sekampung Batanghari, North Raman, and North Batanghari Irrigation Areas; while Feeder Canal II serves the Punggur Utara, Bekri, and West Rumbia Irrigation Areas. The government faces obstacles in the operation and maintenance of irrigation areas due to limited funds, which are often insufficient to cover the entire irrigation area. Therefore, it is necessary to determine the priority of asset management in the Way Sekampung Irrigation Area so that the handling carried out is in accordance with needs and provides maximum benefits. Determination of asset management priorities in the Way Sekampung Irrigation Area uses an android application called e-PAKSI (electronic Management of Assets and Irrigation System Performance). This modern approach aims to improve the efficiency and effectiveness of implementation, as well as support the reduction of the use of field worksheets (paperless). Based on the results of the priority scale analysis, the results obtained in sequence are complementary buildings, regulatory buildings, secondary channels, primary channels and dams

    Pengaruh Lama Perendaman dan Suhu Penyimpanan pada Penanganan Cabai Merah (Capsicum annum L.) Menggunakan Sistem Ozonisasi

    No full text
    Abstrak. Cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan tanaman pertanian yang strategis untuk dibudidayakan karena permintaan cabai yang sangat besar dan banyak konsumen yang mengkonsumsi cabai. Cabai merah memiliki umur simpan yang relatif pendek dan memiliki sifat yang mudah rusak. Kerusakan tersebut dipengaruhi oleh kadar air yang sangat tinggi yaitu 90 % dari kandungan cabai merah itu sendiri. Metode ozon mampu meluruhkan kontaminasi pestisida dan bakteri serta logam berat yang menempel pada buah/sayur sehingga aman dikonsumsi bagi kesehatan. Lama perendaman ozonisasi 10 menit, 15 menit dan 20 menit berpengaruh nyata terhadap susut bobot, dan uji sensori yaitu warna dan tekstur, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap vitamin C. Dari hasil penelitian susut bobot terendah terdapat pada perlakuan tanpa perendaman ozon yaitu 43,70 % dengan 10 oC, volume iodin tertinggi terdapat pada perlakuan perendaman ozon 20 menit pada suhu 10 oC yaitu 0,50 ml, nilai sensori warna dan tekstur pada perlakuan perendaman ozon 20 menit lebih disukai daripada perlakuan perendaman ozon lainnya dengan suhu 10 oC. Dari hasil penelitian penyimpanan cabai merah dengan perlakuan yang terbaik adalah penyimpanan suhu 10 oC dengan perlakuan perendaman ozon 20 menit dengan susut bobot 49,27 %, vitamin C 0,43 ml iodin, nilai sensori warna 3,68 dan nilai sensori tekstur 3,36.The Effect Of Soaking Duration In Ozonization System And Storage TemperatureOn The Quality And Shelf Life Of Red Chili (Capsicum annum L.)Abstract. Red chili (Capsicum annuum L.) is a strategic agricultural crop for cultivation because the demand for chili is very large and many consumers consume chili. Red chilies have a relatively short shelf life and are easily damaged. The damage is affected by a very high water content, which is 90% of the content of the red chili itself. The ozone method is able to dissolve pesticide and bacterial contamination as well as heavy metals attached to fruits/vegetables so that they are safe for health consumption. Ozonization immersion time of 10 minutes, 15 minutes and 20 minutes had a significant effect on weight loss, and sensory tests, namely color and texture, but had no significant effect on vitamin C. From the results of the research, the lowest weight loss was found in the treatment without ozone immersion, namely 43.70%. with 10 oC, the highest volume of iodine was found in the 20 minute ozone immersion treatment at 10 oC, namely 0.50 ml, the color and texture sensory values in the 20 minute ozone immersion treatment were preferred over other ozone immersion treatments with a temperature of 10 oC. From the results of research on red chili storage with the best treatment is storage at 10 oC temperature with ozone immersion treatment for 20 minutes with a weight loss of 49.27%, vitamin C 0.43 ml of iodine, color sensory value 3.68 and texture sensory value 3.36

    Pengaruh Pemberian Bahan Organik Dan Kapur Pada Lahan Kering Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Kedelai

    Get PDF
    Abstrak.Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui pertumbuhan dan produksi kedelai akibat pemberian bahan organik dan kapur pada lahan kering menggunakan metode berupa RAK faktorial, dua faktor perlakuan yaitu kapur sebesar 0 ton ha-1, 0.8 ton ha-1 dan 1.6 ton ha-1, serta bahan organik sebesar 0 ton ha-1, 6 ton ha-1 dan 12 ton ha-1, pengulangan sebanyak 3 (tiga) kali. Sehingga dari pelaksanaan ini diperoleh hasil bahwa dengan pemberian bahan organik pertumbuhan dan produksi kedelai mencapai 1,409 ton ha-1 dibandingkan tanpa pemberian bahan organik yaitu 1,242 ton ha-1dan pada perlakuan kapur diperoleh 1,356 ton ha-1serta tanpa pemberian kapur 1,278 ton ha-1The Effect Of Applying Organic Materials And Lime To Dry Lands On The Growth And Production Of SoybeanAbsract.This research was conducted with the aim of determining the growth and production of soybeans due to the treatment of organic matter and lime on dry land using a factorial randomized block design method with two treatment factors, namely dolomite lime at levels of 0 ton ha-1, ton ha-1 and 1.6 ton ha-1, and organic matter at levels of 0 ton ha-1, 6 ton ha-1 and 12 ton ha-1, repeated three times. From this implementation, the results obtained that with organic matter treatment, soybean growth and production reached 1,409 ton ha-1 compared to without organic matter, which was 1.241 ton ha-1 and in lime treatment, 1.356 ton ha-1 were obtained and without lime 1.278 ton ha-1

    Analisis Antropometri dan Lingkungan Fisik Ruang Penggilingan Gabah Untuk Mengurangi Resiko Kerja

    No full text
    Abstrak. Penggilingan gabah merupakan proses pengolahan gabah kering menjadi beras dengan bantuan mesin yang dikontrol penuh oleh pekerja pada stasiun tertentu. Manusia sebagai pekerja tengah berada pada ruang penggilingan dengan banyak resiko seperti bising dan getaran yang ditimbulkan oleh mesin tersebut dan antropometri yang belum terjamin kesesuaiannya dengan pekerja yang mengoperasikan mesin tersebut sehingga perlu dikaji berdasarkan kajian ergonomika. Penelitian bertujuan untuk menganalisa antropometri mesin dengan pekerja serta lingkungan fisik untuk mengurangi resiko kerja. Metode penelitian menggunakan metode eksperimental yang dikaji langsung pada ruang penggilingan beras di Desa Batu Putik Lombok Timur. Parameter yang dikaji yaitu antropometri, tingkat kebisingan, getaran mekanis, suhu dan tingkat pencahayaan. Data hasil penelitian dianlisis menggunakan matematika sederhana dengan bantuan mikrosoft excel kemudian dibandingankan dengan Nilai Ambang Batas (NAB) pada setiap parameter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antropometri pada 3 stasiun yang dikaji yaitu stasiun pertama tempat gabah dimasukkan berada 200 cm artinya hopper tersebut berada di atas kepala operator, stasiun kedua output gabah pecah 50% memiliki ketinggian 92 cm dan stasiun ketiga yaitu output beras bersih siap untuk dikemas memiliki tinggi 92 cm. Sedangkan hasil analisis dari lingkungan fisik menunjukkan bahwa suhu di atas NAB dan pecahayaan di bawah NAB, sedangkan getaran mekanis dan tingkat kebisingan berada di atas Nilai Ambang Batas NAB. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ruang produksi penggilingan gabah dapat dikatakan belum memenuhi standar ergonomika.Anthropometric and Physical Environmental Analysis of Grain Milling Rooms to Reduce Work RisksAbstract. Grain milling is the process of processing dry grain into rice with the help of machines that are fully controlled by workers at certain stations. Humans as workers are in the milling room with many risks such as noise and vibrations caused by the machine and anthropometers that are not yet guaranteed to be suitable for the workers operating the machine so this needs to be studied based on ergonomics studies. The research aims to analyze the anthropometry of machines and workers and the physical environment to reduce work risks. The research method used experimental methods which were studied directly in the rice milling room in Batu Putik Village, East Lombok. The parameters studied are anthropometry, noise level, mechanical vibration, temperature and lighting level. The research data was analyzed using simple mathematics with the help of Microsoft Excel and then compared with the threshold value (NAB) for each parameter. The results of the research show that the anthropometry at the 3 stations studied, namely the first station where the grain is inserted is 2 meters, meaning the hopper is above the operator's head, the second station, the output of 50% broken grain has a height of 92 cm and the third station, namely the output of clean rice ready to be packaged, has a height of 92 cm. cm. Meanwhile, the results of analysis of the physical environment show that the temperature is above NAB and lighting is below NAB, while mechanical vibrations and noise levels are above the threshold value NAB. So it can be concluded that the grain milling production room can be said to not meet ergonomic standard

    Sinkronisasi Penggunaan Lahan dan Pola Ruang (Studi Kasus: Kabupaten Simeulue)

    No full text
    Abstrak.Perubahan penggunaan lahan adalah proses perubahan dari penggunaan lahan sebelumnya menjadi penggunaan lahan lain yang bersifat permanen maupun sementara. Kabupaten Simeulue telah menetapkan Qanun Nomor 2 Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Simeulue Tahun 2014-2034. Penggunaan lahan harus memperhatikan arahan pemanfaatan lahan yang tertuang dalam pola ruang. Sinkronisasi atau keselarasan penggunaan lahan dengan pola ruang yang telah ditetapkan dalam dokumen RTRW perlu dilakukan agar tidak terjadi penyimpangan/ketidakselarasan pada penggunaan lahan. Analisis keselarasan penggunaan lahan menggunakan geoprocessing, dengan menggunakan data shapefile penggunaan lahan Tahun 2021, dan data shapefile pola ruang Tahun 2014-2034. Kelas keselarasan dibagi menjadi tiga kelas, yaitu selaras, tidak selaras, dan transisi/belum selaras. Luas Penggunaan lahan yang selaras dengan pola ruang seluas 152.808,65 Ha (71,91%), sedangkan luas penggunaan lahan yang tidak selaras dengan pola ruang seluas 13.054,01 Ha (6,14%), dan penggunaan lahan yang belum selaras atau transisi seluas 46.649,34 Ha (21,95%).Land Use Synchronization and Spatial Patterns (Case Study: Simeulue District)Abstract.Land use change is the process of changing from previous land uses to other land uses that are permanent or temporary. Simeulue Regency has established Qanun Number 2 of 2014 concerning the Regional Spatial Plan of Simeulue Regency for 2014-2034. Land use must pay attention to land use directions contained in spatial patterns. Synchronization or alignment of land use with spatial patterns that have been determined in the RTRW document needs to be done so that there are no deviations / misalignments in land use. Land use alignment analysis using geoprocessing, using land use shapefile data for 2021, and spatial pattern shapefile data for 2014-2034. The alignment class is divided into three classes, namely aligned, misaligned, and transitional/unaligned. Land use area that is in harmony with spatial patterns is 152,808.65 Ha (71.91%), while land use area that is not in harmony with spatial patterns is 13,054.01 Ha (6.14%), and land use that is not aligned or transitional is 46,649.34 Ha (21.95%)

    Prediksi Konduktivitas Hidrolik Jenuh (Ks) Menggunakan Fungsi Pedoftransfer di Lahan Kering Kabupaten Sumbawa

    No full text
    Abstrak.Konduktivitas hidrolik jenuh (Ks) adalah parameter kunci untuk perencanaan irigasi, drainase, pemodelan limpasan permukaan dan fenomena erosi di daerah yang terbentuk oleh tanah. Pengukuran Ks di laboratorium membutuhkan biaya dan waktu yang lama sehingga menggunakan model pedotransfer (PTF) menjadi alternatif pilihan yang dapat digunakan dalam menentukan parameter hidrofisika tanah secara cepat. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi nilai konduktivitas hidrolik jenuh tanah (Ks) di lahan kering Kabupaten Sumbawa. Penelitian dilaksanakan dari bulan bulan Maret 2021 sampai dengan Agustus 2022 di Desa Jotang dan Desa Ongko, Kecamatan Empang, dan Desa Brora Kecamatan Lape, Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Metode penelitian menggunakan rancangan deskriptif komparatif terhadap karakter sifat fisika dan kimia tanah melalui pengambilan sampel tanah tidak terganggu menggunakan ring sampel untuk analisis tanah, serta perakitan file input dan simulasi menggunakan program model Soil, Plant, Atmosphere, Water Field and Pond Hydrology Model (SPAW) Version 6.02.75. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai Ks pada lokasi penelitian 0,10-0,40 in/jam. Penentuan Ks di lahan kering dapat menggunakan metode PTFs dengan masukan parameter minimal yaitu tekstur tanah (pasir dan liat), dan bahan organik.Prediction of Saturated Hydraulic Conductivity (Ks) Using Pedoftransfer Function in Drylands of Sumbawa RegencyAbstract.Saturated hydraulic conductivity (Ks) is a key parameter for irrigation planning, drainage, modeling of surface slip and erosion phenomena in areas formed by soil. Measuring Ks in the laboratory is costly and time-consuming so using a pedotransfer model (PTF) is an alternative option that can be used in determining soil hydrophysical parameters quickly. This study aims to predict the value of soil-saturated hydraulic conductivity (Ks) in the dry land of Sumbawa district. The research was carried out from March 2021 to August 2022 in Jotang Village and Ongko Village, Empang District, and Lape District Brora Village, Sumbawa District, West Nusa Tenggara Province. The research method uses comparative descriptive designs to characterize soil physical and chemical properties through uninterrupted soil sampling using sample rings for soil analysis, as well as assembly of input files and simulations using Soil, Plant, Atmosphere, Water Field and Pond Hydrology Model (SPAW) Version 6.02.75. The results of the analysis showed that the Ks value at the study site was 0.10-0.40 in/hour. Determination of Ks in dry soil can be done using PTFs method with input of minimum parameters namely soil texture (sand and clay), and organic material

    6

    full texts

    196

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Rona Teknik Pertanian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇