Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal
Not a member yet
    172 research outputs found

    PREFERENSI LEBAH Tetragonula laeviceps TERHADAP TANAMAN SUMBER PAKAN PADA LAHAN PERTANIAN

    No full text
    Pengetahuan tentang aspek tanaman penyedia makanan (bee forage) diperlukan dalam budidaya lebah Tetragonula laeviceps untuk memperoleh hasil yang maksimal, salah satunya adalah apakah bunga di sekitar sarang merupakan pilihan utama bagi lebah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui (1) preferensi lebah T. laeviceps terhadap tanaman pertanian yang menjadi sumber pakan; (2) morfologi bunga dan polen tanaman pertanian yang menjadi sumber pakan; (3) pengaruh faktor lingkungan (suhu, kelembaban, intensitas cahaya) terhadap frekuensi kunjungan lebah T. laeviceps pada tanaman sumber pakan. Metode yang digunakan adalah survei dengan teknik scan sampling untuk menentukan sampel dan continuous recording dalam melakukan pencatatan data. Data frekuensi kunjungan T. laeviceps dianalisis secara deskriptif kuantitatif, data karakteristik morfologi serbuk sari dianalisis secara deskriptif kualitatif, dan data pengaruh faktor lingkungan terhadap frekuensi kunjungan lebah dianalisis dengan uji regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebah T. laeviceps lebih menyukai tanaman sawi (360 kali kunjungan) dari pada tanaman buncis (tidak ada kunjungan) sebagai sumber pakan. Tanaman sawi (Brassica rapa) memiliki tipe bunga aktinomorf berukuran 15,9mm, berwarna kuning terang, dengan putik dan benang sari yang terbuka. Serbuk sarinya berukuran 7μm. Tanaman buncis (Phaseolus vulgaris) memiliki tipe bunga zigomorf berukuran 1,3cm, berwarna ungu pucat dengan putik dan benang sari yang tertutup. Serbuk sarinya berukuran 35μm. Faktor lingkungan tidak menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan terhadap frekuensi kunjungan lebah T. laeviceps pada tanaman sawi baik secara simultan (0,511) maupun terpisah (suhu=0,535; intensitas cahaya=0,217, dan kelembaban=0,581)

    Inventarisasi Keanekaragaman Bambu (Bambusoideae) di Pulau Rupat, Kecamatan Rupat, Kabupaten Bengkalis

    No full text
    Pulau Rupat adalah pulau kecil di wilayah Sumatra yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi. Salah satu flora di Pulau Rupat adalah bambu. Bambu memiliki kemampuan beradaptasi tinggi terhadap kondisi asam pada lahan gambut, tetapi informasi tentang spesies bambu di Pulau Rupat belum pernah dilaporkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman spesies dengan mengidentifikasi dan memeriksa berdasarkan kunci identifikasi karakter morfologi. Metode penelitian yang digunakan adalah survey eksploratif. Hasil inventarisasi mengidentifikasi total sembilan spesies dari empat genus (Bambusa vulgaris, Bambusa vulgaris var. striata, Bambusa heterostachya, Bambusa multiplex, Gigantochloa sp., Gigantochloa cf. velutina, Gigantochloa hasskarliana, Schizostachyum brachycladum, Schizostachyum zollingeri, Thyrsostachys  siaminensis). Sebanyak sepuluh aksesi bambu diamati karakter vegetatifnya. Hasil skoring 53 karakter tersebut dianalisis menggunakan program NTSYSPC 2.02 untuk mengetahui pengelompokkannya. Hasil penelitian menunjukkan koefisien kemiripan berkisar 48%-77%

    Keanekaragaman dan Morfologi Semut Yang Berasosiasi Dengan Kutu Tempurung Pada Karet di Pembibitan

    No full text
    Tanaman karet merupakan sumber utama bahan karet alam dan komoditas perkebunan yang mempunyai peran penting di Indonesia. Hampir 20.000 Ha perkebunan karet di Indonesia sudah berumur lebih dari 30 tahun. Proses replanting perkebunan tua dengan menggunakan beberapa klon unggul yang diharapkan dapat meningkatkan produksi karet, disisi lain menimbulkan permasalahan baru yakni tingginya serangan hama dan penyakit. Salah satu hama yang menyerang adalah hama kutu tempurung. Kutu tempurung merupakan hama dari golongan serangga ordo Hemiptera dan famili Coccidae. Kutu tempurung menjadi hama yang lebih berbahaya dengan kehadiran semut. Beberapa spesies semut memiliki hubungan simbiosis dengan kutu tempurung. Untuk mengetahui spesies semut maka dilakukan penelitian keanekaragaman dan morfologi semut yang berasosiasi dengan kutu tempurung pada tanaman karet di pembibitan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan april sampai bulan Juni 2018 di Nagari Sungai Dareh dan Kurnia Selatan. Lokasi pengamatan berupa pembibitan karet dengan klon PB 260 yang berumur 5 bulan. Pada hamparan pembibitan dipilih 3 blok dengan jumlah bibit 300 batang. Pada blok yang sudah ditentukan dipilih tanamn sampel secara langsung. Penentuan tanaman sampel digunakan untuk mengoleksi semut yang berasosiasi dengan kutu tempurung. Berdasarkan pengamatan semut yang terkoleksi sebaanyak 5 subfamili dan 13 spesies. Kelimpahan semut yang paling banyak berasosiasi dengan kutu tempurung yakni D. affinis (1018) dengan indeks keanekaragaman (0.18), indeks kemerataan (0.07) dan indeks nilai penting (0.98). Selain itu diketahui terdapat hubungan antara kelimpahan semut dengan kelimpahan kutu tempurung pada tanaman karet di pembibitan

    Multiplikasi Tunas Pisang Ambon Dua Tandan pada Pemberian Kinetin dalam Kultur In Vitro

    Get PDF
    Kultur in vitro dapat dilakukan untuk mengatasi kendala dalam penyediaan bibit pisang ambon dua tandan melalui multiplikasi tunas. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui respon multiplikasi tunas tanaman pisang ambon dua tandan pada pemberian kinetin dalam kultur in vitro, untuk menentukan konsentrasi kinetin yang paling efektif untuk memacu multiplikasi tunas tanaman pisang ambon dua tandan dalam kultur in vitro. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan perlakuan K0 0 ppm, K1 1 ppm, K2 2 ppm, dan K3 3 ppm, masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Parameter yang diamati adalah jumlah tunas, panjang tunas, jumlah akar, dan panjang akar. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Analisis Ragam (ANOVA) pada tingkat kepercayaan 95% dan 99% dan dilanjutkan menggunakan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kinetin memberikan pengaruh nyata terhadap panjang akar namun tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas, panjang tunas, dan jumlah akar. Kinetin 2 ppm (K2) merupakan konsentrasi yang paling efektif untuk parameter panjang akar

    Implikasi Pemanfaatan Lahan terhadap Tingkat Keanekaragaman Jenis Tanaman di Kawasan Kabupaten Kuningan Jawa Barat

    Get PDF
    The plant diversity has become of one indicated maintained, preserved and it has impact to environmental quality, and of course has value to human wellbeing dimension, which it has used to a demand of living the human. Beside of plant diversity has key a role of important in preserving of natural system condition by sustainable. Therefore aim this study to know how the plant diversity (H’), therefor methods which is used to vegetation analyses, by the plotting of sample area is 20x20 m, which are 3 subdistrict in Kuningan district area as representative of research samples methods. This result of research has inventories at least ±43 plants species in all area research, in which every area has had difference of index plant diversity level, in which Kadugede subdistrict area has highest level, than one the other subdistrict area, which is value H’= 2.30, and the lower of diversity index value is Cimahi H’= 1.49 and Ciawegebang H’= 1.14 level. Preserving and maintaining of plant diversity is one of all ways or strategies to increasing of quality ecosystem or carrying capacity and its conservation goals of sustainable developing in urban or rural area

    Identifikasi Keanekaragaman Tanaman Bunga sebagai Sumber Pakan Lebah Madu di Kawasan Hutan Desa Batu Dulang, Kecamatan Batu Lanteh, Sumbawa

    Get PDF
    Ketersedian tanaman bunga menjadi kunci penting untuk sumber pakan lebah dan madu yang dihasilkan di masyarakat Sumbawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis jenis tumbuhan bunga yang berpotensi menjadi sumber pakan lebah madu di kawasan hutan, Desa Batu Dulang, Sumbawa. Metode penelitian menggunakan analisis vegetasi dengan petak ukur kuadran yang berukuran 1 m x 1 m. Data tanaman yang diperoleh dianalisis dengan indeks keanaekaragaman Shanon-Wienner (H’), indeks kemerataan Shanon (E’) dan indeks dominansi Simpson (D). Hasil penelitian diperoleh data sebanyak 216 individu tanaman bunga dari 28 spesies tanaman dan terbagi dalam 12 famili. Sebanyak 23 spesies berhasil diidentifikasi, sedangkan 4 spesies belum bisa diidentifikasi. Jenis tanaman bunga terbanyak >10 individu tanaman ditemukan pada 8 spesies dengan tanaman Kirinyuh (Chromolaena odorata) sebagai spesies terbanyak dan 4 spesies tanaman dengan jumlah paling sedikit. Hasil analisis indeks keanekaragaman (H’), kemerataan (E’) dan dominansi (D) tanaman berturut turut yaitu 2.97, 0.89, dan 0.067. Nilai tersebut menunjukkan tingkat keanekaragaman tanaman yang sedang melimpah, kemerataan yang tinggi dan dominansi tanaman yang rendah. Tingginya keanaekaragaman tanaman akan memberikan dampak positif pada ketersediaan sumber pakan lebah madu yang cukup melimpah. Tentu pula harus dengan didukung oleh kondisi hutan yang terjaga kelestariannya dengan melibatkan masyarakat lokal. Penelitian selanjutnya akan difokuskan pada waktu berbunga dari tanaman sumber pakan lebah melalui kalender pembungaan sehingga diketahui tingkat kecukupan pakan bagi lebah dan kuantitas madu yang dihasilkan dalam setahun

    KARAKTERISTIK MORFOLOGI LEBAH TANPA SENGAT (APIDAE: MELIPONINAE) ASAL PANDEGLANG, BANTEN

    No full text
    Lebah tanpa sengat (stingless bees) (Apidae: Meliponinae) merupakan lebah sosial, berukuran tubuh kecil dan berperan besar dalam penyerbukan tanaman. Pada penelitian ini dideskripsikan morfologi dan morfometri dan arsitektur sarang lebah tanpa sengat asal Pandeglang, Banten. Lebah tanpa sengat tersebut berukuran kecil, berwarna hitam, dan pintu masuk sarang yang berukuran lebar, tidak seperti pintu masuk sarang pada umumnya. Pengamatan morfologi meliputi warna tubuh, antena, tungkai, mandibula, dan sayap. Pengukuran morfometri dilakukan terhadap 35 karakter tubuh dari 30 individu lebah pekerja sebagai ulangan. Berdasarkan karakter morfologi dan morfometri, lebah yang diamati termasuk Tetragonula cf. laeviceps. Warna tubuh dominan hitam, malar space sempit, mesoscutum tanpa hairbands, sayap monoton dan transparan. Panjang tubuh 3,77-4,39 mm, dan jumlah hamuli 5-6. Pintu masuk sarang berbentuk bulat-lonjong dengan diameter 3,6-4,3 cm dengan panjang pintu masuk 6,9 cm. Tekstur pintu masuk sarang keras dan berwarna hitam pada pangkalnya dan lembut dan berwarna coklat pada ujungnya. Arsitektur  sarang dari pintu masuk ke arah belaknag, terdiri atas sel-sel polen, sel-sel anakan, dan sel-sel madu

    Aktivitas Protease, Amilase dan Lipase Digesti Ikan Medaka (Oryzias javanicus) yang Tertangkap di Segara Anakan Cilacap

    Get PDF
    Medaka fish (Oryzias javanicus) originating from Segara Anakan, Cilacap Regency has the potential as a bio-indicator of brackish water. The study of the physiological character of this species has not been done before, so that there needs to be basic information for domestication. The purpose of this study was to determine changes in protease, amylase and lipase digestive activity of medaka fish from Segara Anakan at different body sizes and salinity. The study was conducted by survey method. A sample of 567 medaka fish taken from three locations with different salinities (10 ± 1, 15 ± 1 and 20 ± 1 ppt) at the time of sampling, were used in this study. Medaka fish is grouped into three different sizes, namely (1) 0.063±0.01g (small), (2) 0.153±0.03 g (medium), and (3) 0.287±0.03 g (large). Measurements of enzyme activity were carried out by spectrophotometric methods. The results showed that body size and salinity were significantly different (P<0.05) on protease, amylase and lipase digestive activity of medaka fish. Large medaka fish shows higher digestive enzyme activity compared to the small body size in each salinity. However, amylase and lipase show same activity between different body sizes at 15±1 ppt. The higher the salinity, the lower the activity of protease, amylase and lipase. However, the salinity of 10±1-20±1 ppt shows the same amylase activity (small and medium size) and lipase (small size). Conclusion from the results of this study is the protease, amylase and lipase digestive activity of medaka fish that originating from Segara Anakan, Cilacap has been increased with increasing body size and decreasing environmental salinity. The results of this study are expected to contribute to the enrichment of fish biology, especially medaka fish.Ikan  medaka (Oryzias javanicus) yang berasal dari Segara Anakan Cilacap memiliki potensi sebagai biondikator perairan payau. Kajian karakter fisiologi O javanicus belum banyak dilakukan sehingga perlu ada informasi dasar untuk domestikasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perubahan aktivitas protease, amilase dan lipase digesti ikan medaka pada ukuran tubuh berbeda yang ditangkap dari Segara Anakan, Kabupaten Cilacap pada salinitas yang berbeda.  Penelitian dilakukan dengan metode survey. Sampel ikan medaka diambil dari 3 stasiun dengan salinitas yang berbeda (10, 15 dan 20 ppt) dan diulang sebanyak 3 kali. Ikan medaka dikelompokkan menjadi 3 ukuran berbeda, yaitu (1) 0,063±0.01g (kecil), (2) 0,153±0.03 g (sedang), serta (3) 0,287±0.03 g (besar). Pengukuran aktivitas enzim dilakukan dengan metode spektrofotometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran tubuh dan salinitas yang berbeda berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap aktivitas protease, amilase dan lipase digesti ikan medaka. Ikan medaka berukuran besar menghasilkan aktivitas enzim digesti lebih tinggi dibandingkan dengan ukuran tubuh kecil pada masing-masing salinitas. Namun pada salinitas 15 ppt, amilase dan lipase menunjukkan aktivitas yang seragam di antara ukuran tubuh berbeda. Semakin tinggi salinitas maka aktivitas protease, amilase dan lipase menjadi semakin rendah. Namun, pada salinitas 10-20 ppt menunjukkan aktivitas amilase (ukuran kecil dan sedang) dan lipase (ukuran kecil) yang sama. Simpulan dari hasil penelitian ini adalah aktivitas protease, amilase dan lipase organ digesti ikan medaka yang berasal dari Segara Anakan, Cilacap mengalami peningkatan seiring dengan semakin meningkatnya ukuran tubuh dan menurunnya salinitas lingkungan

    Dampak Kerusakan Ekosistem Mangrove terhadap Keanekaragaman dan Populasi Perikanan di Teluk Youtefa Kota Jayapura Provinsi Papua

    Get PDF
    The mangrove ecosystem on the coast of Youtefa Bay is very beneficial for the survival of the Indigenous people in Enggros, Tobati and Nafri villages, as well as residents of Jayapura City and its surroundings. The purpose of this study was to calculate the diversity and population of fisheries in a polluted mangrove ecosystem. The research was conducted in the waters of mangrove ecosystem in Youtefa Bay, Jayapura City, Papua. Fish data were collected at 10 locations, using gill nets with a mesh size of 1.5 inches with a length of 150 meters and 2 inches with a length of 150 meters. Physical and chemical parameters of the waters were also measured in each location. Data analysis used the Shannon-Wiener diversity index, dominance index, fish abundance, and fish species composition. This study only found 12 species and 10 fish families, with an abundance of 188 individuals/ hectare living and associated with the waters of mangrove ecosystem. There is a reduction in the level of diversity and abundance of fish in the waters of the mangrove ecosystem in Youtefa Bay, due to damage to the ecosystem, conversion of ecosystems, and pollution that occurs in the decomposition of the mangrove ecosystem. These fishery resources will recover if the mangrove ecosystem is restored by increasing the area of the mangrove ecosystem and controlling waste

    Distribusi Kandungan Ion dan Klorofil Kedelai Kultivar Mahameru (Glycine max (L.) Merr.) yang Ditanam di Pantai Sodong Cilacap

    No full text
    Penelitian  dilakukan untuk mengetahui distribusi kandungan ion dan klorofil pada kedelai kultivar Mahameru. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana distribusi dari ion-ion Na+, Cl-, K+, Ca2+ dan Mg2+ pada akar, batang dan daun kedelai kultivar Mahameru yang ditanam dipantai Sodong Cilacap. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan rancangan RCBD (Randomized Completely Block Design) dengan tiga ulangan. Data dianalisis menggunakan DMRT (Duncan Multiple Range Test). Kedelai ditanam pada lahan pesisir pantai dengan jarak lima puluh meter dari tepi pantai, dibuat blok-blok ukuran  satu meter panjang dan dua meter lebar. Pengamatan dilakukan setelah tanaman berumur 30 hari setelah tanam. Kandungan ion  diamati  menggunakan AAS dan kandungan klorofil diamati menggunakan spektrofotometer. Variabel  yang diamati adalah kandungan klorofil a, b dan klorofil total; kandungan ion Na+, Cl-, K+, Ca2+ dan Mg2+ pada akar, batang dan daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan kandungan klorofil a, b dan klorofil total. Terjadi peningkatan kandungan ion Na+ pada bagian daun dan peningkatan ion Cl- pada bagian batang. Ketiga ion yang lain K+, Ca2+ dan Mg2+ terjadi penurunan. Kandungan ion yang paling rendah pada akar, batang dan daun adalah ion Mg2

    157

    full texts

    172

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇