Sarwahita
Not a member yet
276 research outputs found
Sort by
Pembuatan Foto Udara untuk Mendukung Digitalisasi Nagari Sikucua Barat Kabupaten Padang Pariaman
Legal certainty over nagari administrative areas is a crucial element in the nagari governance system. A base map in the form of imagery is needed to streamline the process of confirming and determining boundaries between bordering nagari. Drone technology is an effective solution in taking aerial photographs that can be used as a base image for drawing administrative boundaries. Nagari Sikucua Barat, located in Padang Pariaman Regency, currently does not have a clear legal basis for its administrative boundaries. This service activity aims to provide accurate and up-to-date base imagery to support the drawing of administrative boundaries legally and technically. In addition, this activity also increases the capacity of the village government in utilizing geospatial technology in order to systematically manage regional information. The result of this activity is the availability of the latest aerial imagery up to December 2024, replacing the previous High Resolution Upright Imagery (CTRT) which only includes data up to 2018. The impact of this activity includes increasing the efficiency of nagari administration, integrating assets and resources into a spatial data-based information system, and strengthening the legal basis of territorial boundaries. The service assistance will continue until the nagari has an interactive, integrated, and user-friendly information system to support data-based decision-making more accurately and transparently.
Abstrak
Kepastian hukum terhadap wilayah administrasi nagari merupakan elemen krusial dalam sistem pemerintahan nagari. Peta dasar berupa citra sangat diperlukan untuk mengefisiensi proses penegasan dan penetapan batas antar nagari sempadan. Teknologi drone menjadi solusi efektif dalam pengambilan foto udara yang dapat digunakan sebagai citra dasar untuk penarikan garis batas wilayah administrasi. Nagari Sikucua Barat, yang terletak di Kabupaten Padang Pariaman, hingga saat ini belum memiliki dasar hukum yang jelas terkait batas wilayah administrasinya. Kegiatan pengabdian ini bertujuan menyediakan citra dasar yang akurat dan mutakhir guna mendukung penarikan garis batas wilayah administrasi secara legal dan teknis. Selain itu, kegiatan ini juga meningkatkan kapasitas pemerintah nagari dalam pemanfaatan teknologi geospasial agar dapat mengelola informasi wilayah secara sistematis. Hasil kegiatan ini adalah tersedianya citra udara terbaru hingga Desember 2024, menggantikan Citra Tegak Resolusi Tinggi (CTRT) sebelumnya yang hanya mencakup data hingga tahun 2018. Dampak kegiatan ini meliputi peningkatan efisiensi administrasi nagari, integrasi aset dan sumber daya ke dalam sistem informasi berbasis data spasial, serta penguatan dasar hukum batas wilayah. Pendampingan pengabdian akan berlanjut hingga nagari memiliki sistem informasi yang interaktif, terintegrasi, dan ramah pengguna guna mendukung pengambilan keputusan berbasis data secara lebih akurat dan transparan
Peningkatan Produktivitas UKM Cahya Interior Decoration (CID) Melalui Pemanfaatan Teknologi Mesin Pelapis High Pressure Laminated (HPL)
UKM Cahya Interior Decoration (CID) in Kabupaten Madiun faces challenges in the High Pressure Laminated lamination process on multiplex wood, which is currently performed manually. This process requires 5 minutes per m², resulting in prolonged production times and low efficiency. The community service initiative aims to design and implement an HPL laminating machine that can enhance the time efficiency of the lamination process. The developed machine integrates a spring adjustment mechanism and roll press, and is equipped with a ½ hp motor and a 1:30 gearbox, enabling the lamination process to be completed in only 0.75 minutes per m². Designed to be compact and efficient, the machine is capable of increasing the production capacity from 3 to 4 products per day. Furthermore, the machine has successfully reduced the total production time per product from 135 minutes to 101 minutes, leading to an increase in the monthly product output from 78 to 104 units. The implementation of this HPL laminating machine technology has significantly improved both efficiency and production capacity, thereby enhancing CID’s competitiveness and its ability to meet higher market demand. It is hoped that this technology can be adopted by similar industries to support the development of small manufacturing enterprises.
Abstrak
UKM Cahya Interior Decoration (CID) di Kabupaten Madiun menghadapi tantangan dalam proses pelapisan HPL pada kayu multiplex yang dilakukan secara manual. Proses ini memerlukan waktu 5 menit per m², menyebabkan durasi produksi yang lama dan efisiensi yang rendah. Inisiatif pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk merancang dan menerapkan mesin pelapis HPL yang dapat meningkatkan efisiensi waktu pelapisan. Mesin yang dikembangkan mengombinasikan elemen penyesuaian pegas (spring adjustment) dan roll press, serta dilengkapi dengan motor ½ hp dan gearbox 1:30 yang memungkinkan pelapisan selesai dalam waktu hanya 0,75 menit per m². Mesin ini dirancang dengan ukuran yang kompak dan efisien, serta mampu meningkatkan kapasitas produksi dari 3 menjadi 4 produk per hari. Selain itu, mesin ini juga berhasil mengurangi waktu total produksi per produk dari 135 menit menjadi 101 menit, yang berdampak pada peningkatan jumlah produk bulanan dari 78 menjadi 104 unit. Penerapan teknologi mesin pelapis HPL ini memberikan dampak signifikan dalam meningkatkan efisiensi dan kapasitas produksi, sehingga meningkatkan daya saing dan kemampuan CID untuk memenuhi permintaan pasar yang lebih tinggi. Teknologi ini diharapkan dapat diadopsi oleh industri sejenis guna mendukung pengembangan industri manufaktur kecil
International Community Development: Edukasi IMS dan HIV/AIDS pada Remaja Santri di Pondok Pesantren, Johor Bahru, Malaysia
Community development programs have the potential to enhance adolescents' awareness of the risks associated with sexually transmitted infections (STIs) and the preventive measures that can be taken to mitigate those risks, including HIV/AIDS. The International Community Development program was organized by the Research Centre on Global Emerging and Re-emerging Infectious Diseases (RC-GERID) of Universitas Airlangga. The topic of the program was the prevention of STIs and HIV/AIDS among adolescent boarding school students. The objective of this activity is to enhance the student's knowledge and comprehension of STIs and HIV/AIDS, as well as the measures that can be taken to prevent the transmission of infectious diseases. The participants were 100 Madrasah Tahfidz Al-Quran An-Nur students in Johor Bahru, Malaysia. The methodology employed in this activity comprised pre-test and post-test questionnaires completed by participants, lectures, question-and-answer sessions, and discussions. The results demonstrated a statistically significant increase in knowledge and understanding of STIs, HIV/AIDS, and infection prevention among adolescent students, with an average increase of 22.0% in pre-test and post-test scores. This indicates that the educational material was effectively conveyed to the participants. The activity was conducted in an orderly, conducive, and interactive manner. Further community service with similar activities to be better than now
Abstrak
Remaja merupakan kelompok yang rentan terhadap IMS dengan jumlah terbesar mengidap HIV/AIDS. Program pengabdian masyarakat dapat membantu meningkatkan kesadaran remaja tentang risiko dan langkah pencegahan penyakit IMS dan HIV/AIDS. International Community Development ini diselenggarakan oleh Research Center on Global Emerging and Re-emerging Infectious Diseases (RC-GERID) Universitas Airlangga, dengan topik pencegahan IMS (Infeksi Menular Seksual) dan HIV/AIDS pada remaja santri pondok pesantren. Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa mengenai IMS dan HIV/AIDS serta langkah pencegahan penyakit infeksi. Peserta kegiatan yaitu remaja santri di Madrasah Tahfidz Al-Quran An-Nur, Johor Bahru, Malaysia yang berjumlah 100 orang. Metode dalam kegiatan ini yaitu pengisian pre-test dan post-test oleh peserta, ceramah, tanya jawab dan diskusi. Hasil menunjukan bahwa adanya peningkatan pengetahuan dan pemahaman tentang IMS, HIV/AIDS, dan pencegahan infeksi pada remaja santri, dengan kenaikan nilai pre-test dan post-test sebesar 22,0%. Hal ini berarti materi edukasi tersampaikan dengan baik kepada peserta. Kegiatan berlangsung dengan tertib, kondusif, dan interaktif. Pengabdian masyarakat selanjutnya dengan kegiatan serupa agar lebih baik dari sekarang
Peningkatan Kemampuan Guru dalam Mengembangkan Modul Ajar dan Asesmen Berdiferensiasi sebagai Implementasi Kurikulum Merdeka di Deli Serdang
Differentiated learning is an effective strategy for implementing the Kurikulum Merdeka in upper junior high school. This strategy is applied to address several classroom challenges, such as monotonous learning, limited learning resources, a lack of instructional media, and low student motivation. The primary objective of this initiative is to enhance teachers' ability to develop learning modules and assessments tailored to students' characteristics. Through this training, teachers can independently create instructional modules that can be implemented in classroom learning. To achieve this goal, the community service team from the postgraduate school of at Universitas Negeri Medan has designed a series of activities, including preparation, training implementation, mentoring, evaluation, and refinement. The applied method has resulted in learning modules and assessments developed by subject teachers. These modules and assessments are designed based on students' initial abilities and characteristics, leading to improvements in learning outcomes, higher-order thinking skills (HOTS), and student motivation in the learning process. Furthermore, these modules and assessments have become essential instructional tools that teachers utilize in their daily classroom teaching.
Abstrak
Pembelajaran berdiferensiasi merupakan salah satu strategi yang tepat dalam implementasi kurikulum merdeka di sekolah lanjutan tingkat pertama. Strategi ini diterapkan untuk mengatasi beberapa permasalahan di kelas seperti pembelajaran yang monoton, keterbatasan sumber belajar, minimnya media pembelajaran, dan kurangnya minat belajar siswa. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan modul dan asesmen pembelajaran yang berbasis pada karakteristik peserta didik. Melalui pelatihan ini guru-guru dapat menghasilkan modul ajar yang dikembangkan sendiri sehingga dapat diimplementasikan dalam pembelajaran di kelas. Untuk mencapai tujuan tersebut, tim abdimas Pascasarjana Universitas Negeri Medan telah merancang tahapan kegiatan mulai dari persiapan, pelaksanaan pelatihan, pendampingan, evaluasi dan perbaikan. Berdasarkan metode yang diterapkan telah diperoleh hasil kegiatan berupa modul ajar dan asesmen dari setiap guru mata pelajaran. Modul dan asesmen pembelajaran tersebut disusun berdasarkan kemampuan awal dan karakteristik siswa sehingga berdampak pada peningkatan hasil belajar, keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) dan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran. Modul dan asesmen tersebut telah menjadi perangkat pembelajaran yang digunakan guru dalam melaksanakan pembelajaran setiap hari di dalam kelas
Penerapan Peningkatan Kapasitas Produksi Pengupasan Sabut Kelapa Menggunakan Mesin Pengupas Semi-Otomatis pada Kelompok Tani Perak Jaya di Provinsi Riau
Coconut fiber is an agricultural waste that has high economic value if processed properly. The manual process of peeling coconut fiber takes a long time and a lot of energy, so it is not efficient in high production scale. This study aims to increase the production capacity of coconut fiber peeling through the development and implementation of a semi-automatic coconut fiber peeling machine. This machine is designed to combine the cutting and releasing mechanism of the fiber efficiently by utilizing an electric motor and a simple mechanical control system. Testing was carried out by comparing the production capacity between the manual method and the use of a semi-automatic peeling machine. The results showed that the use of a semi-automatic machine was able to increase production capacity up to 3 times compared to the manual method, with faster processing time and reduced operator fatigue levels. These findings provide a practical solution for the coconut processing industry to improve production efficiency and market competitiveness.
Abstrak
Sabut kelapa merupakan limbah pertanian yang memiliki nilai ekonomis tinggi jika diolah dengan baik. Proses pengupasan sabut kelapa secara manual memerlukan waktu yang lama dan tenaga yang besar, sehingga tidak efisien dalam skala produksi yang tinggi. Pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi pengupasan sabut kelapa melalui pengembangan dan implementasi mesin pengupas sabut kelapa semi-otomatis. Mesin ini dirancang untuk memadukan mekanisme pemotongan dan pelepasan sabut secara efisien dengan memanfaatkan motor listrik dan sistem kendali mekanis yang sederhana. Pengujian dilakukan dengan membandingkan kapasitas produksi antara metode manual dan penggunaan mesin pengupas semi-otomatis. Hasil Pengabdian ini menunjukkan bahwa penggunaan mesin semi-otomatis mampu meningkatkan kapasitas produksi hingga 3 kali lipat dibandingkan metode manual, dengan waktu proses yang lebih cepat dan tingkat kelelahan operator yang berkurang. Temuan ini memberikan solusi praktis bagi industri pengolahan kelapa untuk meningkatkan efisiensi produksi dan daya saing pasar
The Implementasi Pelatihan Computer Vision dan (IoT) untuk Meningkatkan Kompetensi Industri 4.0 pada Siswa SMK Negeri 9 Bandar Lampung
Developing the competence of vocational students in the field of Artificial Intelligence (AI) is a critical need to face industrial transformation 4.0. This research aims to implement a training kegiatan pelatihan on Computer Vision and Internet of Things (IoT) based on Edge Computing at SMK Negeri 9 Bandar Lampung. The kegiatan pelatihan was implemented for 6 months involving 30 students of class XII. Computer Vision is a technology that enables computers to understand and process visual information from images or videos, such as object, face, or motion recognition. Edge Computing-based Internet of Things (IoT) refers to a network of interconnected devices that process data locally (at the edge of the network) to reduce latency and cloud load. The implementation method used a mixed method approach through the stages of preparation, implementation, and evaluation. The training focused on developing practical skills using low-cost microcontroller devices for AI implementation in industry. The results showed a significant increase in student competence, with an average post-test score increase of 82% compared to the pre-test. A total of 85% of participants successfully developed AI implementation projects that are applicable to industry. The main challenges in implementation included limited infrastructure and variations in participants' basic skills. The kegiatan pelatihan produced a learning module that can be replicated in similar institutions, as well as an edge computing implementation model for AI learning at the vocational secondary level. The research contributes to the development of affordable practical AI learning methods for vocational education institutions.
Abstrak
Pengembangan kompetensi siswa SMK dalam bidang Artificial Intelligence (AI) menjadi kebutuhan kritis menghadapi transformasi industri 4.0. Penelitian ini bertujuan mengimplementasikan kegiatan pelatihan pelatihan Computer Vision dan Internet of Things (IoT) berbasis Edge Computing di SMK Negeri 9 Bandar Lampung. Kegiatan pelatihan dilaksanakan selama 6 bulan dengan melibatkan 30 siswa kelas XII. Computer Vision adalah teknologi yang memungkinkan komputer untuk memahami dan memproses informasi visual dari gambar atau video, seperti pengenalan objek, wajah, atau gerakan. Internet of Things (IoT) berbasis Edge Computing mengacu pada jaringan perangkat yang saling terhubung dan memproses data secara lokal (di tepi jaringan) untuk mengurangi latensi dan beban cloud. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan mixed method melalui tahapan persiapan, implementasi, dan evaluasi. Pelatihan berfokus pada pengembangan kemampuan praktis menggunakan perangkat mikrokontroler berbiaya rendah untuk implementasi AI dalam industri. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan pada kompetensi siswa, dengan rata-rata kenaikan nilai post-test sebesar 82% dibanding pre-test. Sebanyak 85% peserta berhasil mengembangkan proyek implementasi AI yang aplikatif untuk industri. Tantangan utama dalam pelaksanaan meliputi keterbatasan infrastruktur dan variasi kemampuan dasar peserta. Kegiatan pelatihan ini menghasilkan modul pembelajaran yang dapat direplikasi di institusi sejenis, serta model implementasi edge computing untuk pembelajaran AI di tingkat menengah kejuruan. Penelitian memberikan kontribusi pada pengembangan metode pembelajaran AI praktis yang terjangkau untuk institusi pendidikan kejuruan
Program Tutorial Kaligrafi Jepang pada Nihon Club SMA/Sederajat di Bandung
The Japanese Calligraphy tutorial program at 7th Nihongo Club of Senior High Schools/Equivalent in Bandung aims to increase insight about Japanese calligraphy techniques (Shodo) and to find out the extent of students' interest in traditional Japanese culture, especially Japanese calligraphy. The implementation of the activity uses the Community Based Participatory Research (CBPR) approach method, which is a collaborative pattern between the community and the world of higher education that is action-oriented with service learning. After the tutorial carried out, the target audience gains the latest knowledge and skills about Shodo (Japanese calligraphy). The results of this activity are that participants can understand basic kanji calligraphy techniques, namely kaisho, with a focus on four material skills, namely mastering line and tome techniques on kanji 一, kanji 十. Then master the technique of making a combination of horizontal and vertical lines, and can make hidari harai and hane on kanji 口 and kanji 行. Participants can also master the technique of making kagi hane on kanji 円、kanji 先. In addition, participants can also master the technique of making migi harai on the kanji 本 and kanji 永. Participants also showed a high interest in Japanese calligraphy, this can be seen from the answers to the satisfaction questionnaire which stated that participants wanted to learn additional material on Japanese kanji calligraphy.
Abstrak
Program tutorial Kaligrafi Jepang pada 7 Nihongo Club SMA/Sederajat di kota Bandung ini bertujuan untuk untuk menambah wawasan mengenai Shodo atau teknik kaligrafi Jepang yang merupakan budaya tradisional Jepang dan mengetahui sejauh mana minat siswa terhadap budaya tradisional Jepang, khususnya kaligrafi Jepang. Pelaksanaan kegiatan menggunakan metode pendekatan Community Based Participatory Research (CBPR), yaitu pola kolaborasi antara komunitas dengan dunia pendidikan tinggi yang berorientasi aksi dengan service learning. Setelah kegiatan tutorial dilaksanakan khalayak sasaran mendapatkan pengetahuan dan keterampilan terbaru mengenai Shodo (kaligrafi Jepang). Hasil dari kegiatan ini peserta dapat memahami teknik kaligrafi kanji tingkat dasar yaitu kaisho, dengan fokus keterampilan empat materi yaitu menguasai teknik garis dan tome pada kanji 一, kanji 十. Kemudian menguasai teknik membuat garis kombinasi antara horizontal dan vertikal, dapat membuat hidari harai dan hane pada kanji 口dan kanji 行. Peserta juga dapat menguasai teknik membuat kagi hane pada kanji 円、kanji 先 dan menguasai teknik membuat migi harai pada kanji 本 dan kanji 永. Selain itu berdasarkan jawaban kuesioner sekitar 60% peserta juga menunjukkan minat tinggi terhadap kaligrafi Jepang dan menyatakan ingin belajar materi tambahan mengenai kaligrafi kanji Jepang
Pelatihan Pembuatan Otomatisasi Berbasis Arduino di MA Al Madinah Nogosari Boyolali
Currently, the development of the internet of things has contributed to the progress of industrial technology and one of them is the development of sensor technology through automation technology. The advancement of sensor technology has changed the pattern of human life towards digitalization. Sensor technology needs to be developed among young people, especially students, through knowledge of simple sensor technology so that students are interested and able to continue to develop their knowledge. Community service activities at MA Al Madinah aim for students to understand and be able to apply simple sensor technology based on Arduino. Simple automation training with Arduino is a community service activity at MA Al Madinah which is attended by students and as a form of stages of implementing module development. Module development through stages of needs analysis, design, development, implementation, and evaluation which aim to ensure that the module is suitable for use for training. The results of expert validation of the developed module obtained a very good category, the results of student assessments through limited training obtained very suitable for use, and the results of the training evaluation were very good, which is expected to be continued with more participants at MA Al Madinah Nogosari Boyolali
Abstrak
Saat ini perkembangan internet of things telah memberikan kontribusi pada kemajuan teknologi industri dan salah satunya perkembangan teknologi sensor melalui teknologi otomatisasi. Kemajuan teknologi sensor telah mengubah pola kehidupan manusia menuju digitalisasi. Teknologi sensor perlu ditumbuhkan kepada kalangan muda terutama para pelajar melalui pengetahuan teknologi sensor sederhana agar para pelajar tertarik dan mampu mengembangkan terus pengetahuannya. Kegiatan pengabdian di MA Al Madinah bertujuan peserta didik memahami dan mampu menerapkan tentang teknologi sensor sedehana berbasis Arduino. Pelatihan otomatisasi sederhana dengan Arduino merupakan kegiatan pengabdian di MA Al Madinah yang diikuti peserta didik dan sebagai bentuk tahapan penerapan pengembangan modul. Pengembangan modul melalui tahapan analisis kebutuhan, perancangan, pengembangan, implementasi, dan evaluasi yang bertujuan untuk memastikan modul layak digunakan untuk pelatihan. Hasil validasi ahli terhadap modul yang dikembangkan diperoleh kategori sangat baik, hasil penilaian peserta didik melalui pelatihan terbatas diperoleh sangat layak digunakan, dan hasil evaluasi pelatihan diperoleh sangat baik yang diharapkan diteruskan dengan peserta lebih banyak lagi di MA Al Madinah Nogosari Boyolali
Smart KMS Membantu Pemantauan Tumbuh Kembang Balita di Posyandu Kemala Ciracas
Posyandu is a prominent instance of Community-Based Health Initiatives (UKBM) inside the community. The efficacy and quality of Posyandu are contingent upon the function of the cadres. The cadre's responsibility is to manually manage and document child development data via KMS (Kartu Menuju Sehat). An electronic KMS, entitled Smart KMS, has been established using Community Service activities integrated Community Service Program(PKM-KKN) to offer data on toddler growth and development. Smart KMS offers monthly statistics on child growth, including graphs depicting child weight relative to age, child height relative to age, and child nutritional status based on weight and height. Access to Smart KMS is facilitated through two account types: admin accounts and toddler parent accounts. Smart KMS has been deployed at Posyandu Kemala Ciracas and is utilized by 63 toddlers. The findings of a service survey conducted with cadre respondents at Posyandu Kemala Ciracas indicate that Smart KMS is seen as highly effective in terms of usability, accessibility, advantages, and its role in toddler data gathering (value 93%). Posyandu cadres evaluated that the conducted activities positively influenced the enhancement of their skills and knowledge, the accessibility of facilities at Posyandu, and the advantages for Posyandu itself (value 92%). Therefore a necessity for ongoing initiatives and further support.
Abstrak
Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang paling dikenal di masyarakat. Kualitas dan efektifitas Posyandu bergantung pada peran kader. Tugas kader adalah mengelola dan mencatat data perkembangan anak secara manual menggunakan KMS (Kartu Menuju Sehat). Melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat terintegrasi Kuliah Kerja Nyata (PKM-KKN) telah dilakukan pengembangan KMS elektronik dengan nama Smart KMS yang menyediakan data tumbuh kembang balita. Pada Smart KMS tersedia data perkembangan anak setiap bulan, grafik berat badan anak berdasarkan umur, grafik tinggi badan anak berdasarkan umur, dan grafik status gizi anak berdasarkan berat dan tinggi badan. Terdapat dua jenis akun yang dapat digunakan untuk mengakses Smart KMS yaitu akun admin dan akun orang tua balita. Smart KMS telah diimplementasikan di Posyandu Kemala Ciracas dan digunakan oleh 63 balita. Dari hasil survey layanan dengan responden kader di Posyandu Kemala Ciracas, menunjukkan bahwa Smart KMS dinilai sangat baik dalam memberikan kemudahan penggunaan, aksesibilitas, manfaat, serta kontribusinya dalam pendataan balita (nilai 93%). Kader Posyandu juga menilai bahwa kegiatan yang dilakukan memberikan dampak positif bagi peningkatan keterampilan dan wawasan kader, ketersediaan fasilitas di Posyandu, serta manfaat bagi Posyandu itu sendiri (nilai 92%). Sehingga perlunya keberlanjutan kegiatan dan pendampingan lebih lanjut
Peningkatan Keterampilan Analisis Data Bagi Fungsional BPS di Kalimantan Barat Melalui Pelatihan SEM dengan AMOS
This Community Service activity is a form of cooperation between Statistics Study Program FMIPA UNTAN and BPS through training activities. The purpose of this PKM is to provide knowledge and insight to BPS functional employees about SEM (Structural Equation Modeling) using AMOS. This activities were carried out on Monday, August 14, 2023 in the Vicon room of the West Kalimantan provincial BPS office with 32 participants attending. The results of this training activity are expected to be applied by BPS functional employees in processing and analyzing data as research needs and work related to statistical data. The level of success in this training was measured through pre-test, post-test and participant satisfaction survey. A wilcoxon test was conducted with α = 0.05 and the result was p-value smaller than 0.01. So that the p-value < α which means rejecting H0 and it can be concluded that the average pretest score < average posttest score. In other words, the post-test results increased significantly, which means that the participants' abilities increased after the training. Based on the participant satisfaction survey, the results showed that all participants (100%) had never used AMOS software before. Overall, participants were satisfied (61.5%) and very satisfied (38.5%) with the training because they could increase their knowledge and the training materials delivered were in accordance with their needs, easy to understand and interesting, could be applied easily, and were delivered in order and systematically.
Abstrak
Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini merupakan salah satu wujud kerjasama Prodi Statistika FMIPA UNTAN dengan BPS melalui kegiatan pelatihan. Adapun tujuan PKM ini yaitu memberikan pengetahuan dan wawasan kepada pegawai fungsional BPS tentang teknik pengolahan dan analisis data SEM (Structural Equation Modelling) dengan menggunakan AMOS. Kegiatan PKM dilaksanakan pada hari Senin, 14 Agustus 2023 di ruang Vicon kantor BPS prov Kalbar dengan jumlah peserta yang hadir 32 orang. Hasil dari kegiatan pelatihan ini diharapkan dapat diterapkan oleh pegawai fungsional BPS dalam mengolah dan menganalisis data sebagai kebutuhan penelitian maupun pekerjaan yang berhubungan dengan data statistika. Tingkat keberhasilan pada pelatihan ini diukur melalui pemberian pretest, posttest dan survey kepuasan peserta. Dilakukan uji beda menggunakan uji wilcoxon dengan α = 0.05 dan didapatkan hasil yaitu berupa p-value lebih kecil dari 0.01. Sehingga p-value < α yang berarti tolak H0 dan dapat disimpulkan rata-rata nilai pretest < rata-rata nilai posttest. Dengan kata lain hasil posttest meningkat secara signifikan yang artinya kemampuan peserta meningkat setelah dilaksanakan pelatihan. Berdasarkan survey kepuasan peserta didapatkan hasil ternyata semua peserta (100%) belum pernah menggunakan software AMOS sebelum pelatihan. Secara keseluruhan peserta merasa puas (61,5%) dan sangat puas (38,5%) mengikuti pelatihan karena dapat menambah pengetahuan serta materi pelatihan yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan, mudah dipahami dan menarik, dapat diterapkan dengan mudah, dan disampaikan dengan urut dan sistematis