Jurnal Perikanan UNRAM (Universitas Mataram)
Not a member yet
    278 research outputs found

    POTENSI EKSTRAK DAN SKRINING FITOKIMIA Caulerpa sp. SEBAGAI ANTIBAKTERI Vibrio parahaemolyticus DARI PERAIRAN SOCAH, BANGKALAN-MADURA

    Get PDF
    Prevelensi penyakit vibriosis yang menjadi penyebab kegagalan produksi budidaya udang vannamei pada dekade ini disebabkan oleh infeksi bakteri patogen Vibrio parahaemolyticus. Fenomena ini membutuhkan alternatif solusi untuk mengurangi resiko kegagalan panen salah satunya dengan menyediakan herbal kaya senyawa fitokimia berbahan sumberdaya hayati laut sebagai anti bakteri Vibrio parahaemolyticus misalnya anggur laut (Caulerpa sp.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa bioaktif yang terdapat dalam ekstrak Caulerpa sp. dan potensi aktivitas antibakteri ekstrak Caulerpa sp. terhadap bakteri Vibrio parahaemolyticus. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode difusi cakram dengan media Zobell Agar 2216E. Pengukuran zona hambat menggunakan jangka sorong dengan 3 waktu pengukuran (3x24 jam). Konsentrasi ekstrak Caulerpa sp. yang digunakan yaitu 10.000 ppm, 20.000 ppm, 40.000 ppm, 80.000 ppm, kontrol positif (kloramfenikol), kontrol negatif (aquades) dan kontrol tanpa perlakuan. Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak Caulerpa sp. mengandung senyawa alkaloid, triterpenoid, dan saponin. Aktivitas antibakteri menunjukkan terdapat perbedaan nyata pengaruh konsentrasi ekstrak Caulerpa sp. terhadap Vibrio parahaemolyticus (Sig<0,05). Zona hambat tertinggi terdapat pada konsentrasi 80.000 ppm (kategori sedang) pada waktu pengamatan 24 jam (diameter zona hambat 4,22 mm ยฑ0,22 mm).Prevelensi penyakit vibriosis yang menjadi penyebab kegagalan produksi budidaya udang vannamei pada dekade ini disebabkan oleh infeksi bakteri patogen Vibrio parahaemolyticus. Fenomena ini membutuhkan alternatif solusi untuk mengurangi resiko kegagalan panen salah satunya dengan menyediakan herbal yang kaya senyawa fitokimia berbahan sumberdaya hayati laut sebagai anti bakteri Vibrio parahaemolyticus misalnya anggur laut (Caulerpa sp.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa bioaktif yang terdapat dalam ekstrak Caulerpa sp. dan potensi aktivitas antibakteri ekstrak anggur laut (Caulerpa sp.) terhadap bakteri Vibrio parahaemolyticus. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode difusi cakram dengan media Zobell Agar 2216E. Pengukuran zona hambat menggunakan jangka sorong dengan 3 waktu pengukuran (3x24 jam). Konsentrasi ekstrak anggur laut (Caulerpa sp.) yang digunakan yaitu 10.000 ppm, 20.000 ppm, 40.000 ppm, 80.000 ppm, kontrol positif (kloramfenikol), kontrol negatif (aquades) dan kontrol tanpa perlakuan. Uji bedanyata setiap konsentrasi terhadap kemampuan antibakteri bakteri dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis dilanjut uji Mann-Whitney. Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak anggur laut (Caulerpa sp.) mengandung senyawa alkaloid, triterpenoid, dan saponin. Aktivitas antibakteri menunjukkan terdapat perbedaan nyata pengaruh konsentrasi ekstrak anggur laut (Caulerpa sp.) terhadap Vibrio parahaemolyticus (Sig<0.05). Zona hambat tertinggi terdapat pada konsentrasi 80.000 ppm (kategori sedang) pada waktu pengamatan 24 jam (diameter zona hambat 4.22 mm ยฑ0.22 mm). Zona hambat terendah teridentifikasi pada konsentrasi 20.000 ppm (kategori lemah) pada waktu pengamatan 72 jam (diameter zona hambat sebesar 0.52 mm ยฑ0.55 mm)

    ANALISIS ASPEK TEKNIS DAN FINANSIAL BUDIDAYA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) DALAM SISTEM INTENSIF

    Get PDF
    Budidaya intensif udang vaname (Litopenaeus vannamei) telah menjadi tren utama dalam industri akuakultur di Indonesia. Kesuksesan dalam proses budidayanya berada pada aspek teknis dan finansial. Perhatian lebih lanjut harus diberikan pada kendala teknis yang dihadapi serta manajemen finansial yang cermat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek teknis dan finansial dari budidaya udang vaname dalam sistem intensif untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang efisiensi dan potensi keuntungannya. Penelitian dilaksanakan dari Desember 2017 sampai dengan April 2018 di Serang, Provinsi Banten. Metode penelitian yang digunakan adalah observasi dengan fokus kajian pada aspek teknis dan finansial budidaya intensif udang vaname, serta analisis data secara deskriptif. Tingkat kelangsungan hidup udang dalam sistem intensif mencapai 75-85% sedangkan tingkat konversi pakan mencapai 1,2-1,8. Meskipun demikian, kendala teknis yang dihadapi meliputi tingginya tingkat kanibalisme dan risiko infeksi penyakit yang berdampak pada produktivitas dan tingkat kelangsungan hidup udang. Dalam penelitian ini, terdapat temuan bahwa rata-rata berat udang pada petak 2D dan 4C menunjukkan standar yang lebih unggul dibandingkan dengan petak 3A. Selain itu, pertumbuhan udang yang paling pesat teramati pada petak 4C. Selanjutnya, hasil analisis finansial yang dilakukan, khususnya analisis laba/rugi, mengindikasikan bahwa petak 2D mencatatkan keuntungan, sementara petak 4C dan 3A mengalami kerugian. ย Budidaya intensif udang vaname (Litopenaeus vannamei) telah menjadi tren utama dalam industri akuakultur di Indonesia. Kesuksesan dalam proses budidayanya berada pada aspek teknis dan finansial. Perhatian lebih lanjut harus diberikan pada kendala teknis yang dihadapi serta manajemen finansial yang cermat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek teknis dan finansial dari budidaya udang vaname dalam sistem intensif untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang efisiensi dan potensi keuntungannya. Penelitian dilaksanakan dari Desember 2017 sampai dengan April 2018 di Serang, Provinsi Banten. Metode penelitian yang digunakan adalah observasi dengan fokus kajian pada aspek teknis dan finansial budidaya intensif udang vaname, serta analisis data secara deskriptif. Tingkat kelangsungan hidup udang dalam sistem intensif mencapai 75-85% sedangkan tingkat konversi pakan mencapai 1,2-1,8. Meskipun demikian, kendala teknis yang dihadapi meliputi tingginya tingkat kanibalisme dan risiko infeksi penyakit yang berdampak pada produktivitas dan tingkat kelangsungan hidup udang. Dalam penelitian ini, terdapat temuan bahwa rata-rata berat udang pada petak 2D dan 4C menunjukkan standar yang lebih unggul dibandingkan dengan petak 3A. Selain itu, pertumbuhan udang yang paling pesat teramati pada petak 4C. Selanjutnya, hasil analisis finansial yang dilakukan, khususnya analisis laba/rugi, mengindikasikan bahwa petak 2D mencatatkan keuntungan, sementara petak 4C dan 3A mengalami kerugian.

    PEMANFAATAN SILASE DAUN KELOR (Moringa oleifera) DALAM FORMULASI PAKAN TERHADAP EFISIENSI NUTRIEN DAN PERTUMBUHAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

    Get PDF
    Daun kelor (Moringa oleifera) merupakan bahan baku lokal yang memiliki kandungan protein nabati sebesar 21,49% sehingga dapat dijadikan alternatif dalam penyusunan formulasi pakan buatan. Potensi penggunaan daun kelor sebagai bahan baku dalam formulasi pakan dapat dilakukan dalam bentuk silase. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penggunaan dan persentase silase daun kelor dalam formulasi pakan terhadap efisiensi nutrient dan pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus). Penelitian dilakasana dengan menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Penelitian dilakukan dengan mengindetifiksi potensi silase daun kelor, persiapan pakan perlakuan dan uji biologi terkait efesiensi nutrient dan pertumbuhan ikan nila. Hasil penelitian menunjukan pemanfaatan silase daun kelor memiliki potensi yang sama seperti pakan komersial terhadap efisiensi nutrient dan pertumbuhan ikan nila. Nilai efisiensi nutrient tidak menunjukan perbedaan signifikan antara pakan formulasi silase dan tanpa silase daun terhadap rasio konversi pakan dan retensi energi (P>0.05), sebaliknya mengalami perbedaan signifikan terhadap rasio efisiensi protein (P<0.05). Pertumbuhan ikan nila yang diperoleh tidak menunjukan perbedaan signifikan antara formulasi silase dan tanpa formulasi terhadap pertumbuhan bobot mutlak, Laju Pertumbuhan Spesifik (LPS) dan tingkat kelangsungan hidup (P>0.05), hal ini menujukan bahwa kualitas pakan formulasi silase sama dengan pakan tanpa formulasi tapi memiliki tingkat rasio efisiensi protein yang rendah. ย Daun kelor (Moringa oleifera) merupakan bahan baku lokal yang memiliki kandungan protein nabati sebesar 21,49% sehingga dapat dijadikan alternatif dalam penyusunan formulasi pakan buatan. Potensi penggunaan daun kelor sebagai bahan baku dalam formulasi pakan dapat dilakukan dalam bentuk silase. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penggunaan dan persentase silase daun kelor dalam formulasi pakan terhadap efisiensi nutrient dan pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus). Penelitian dilakasana dengan menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Penelitian dilakukan dengan mengindetifiksi potensi silase daun kelor, persiapan pakan perlakuan dan uji biologi terkait efesiensi nutrient dan pertumbuhan ikan nila. Hasil penelitian menunjukan pemanfaatan silase daun kelor memiliki potensi yang sama seperti pakan komersial terhadap efisiensi nutrient dan pertumbuhan ikan nila. Nilai efisiensi nutrient tidak menunjukan perbedaan signifikan antara pakan formulasi silase dan tanpa silase daun terhadap rasio konversi pakan dan retensi energi (P>0.05), sebaliknya mengalami perbedaan signifikan terhadap rasio efisiensi protein (P<0.05). Pertumbuhan ikan nila yang diperoleh tidak menunjukan perbedaan signifikan antara formulasi silase dan tanpa formulasi terhadap pertumbuhan bobot mutlak, Laju Pertumbuhan Spesifik (LPS) dan tingkat kelangsungan hidup (P>0.05), hal ini menujukan bahwa kualitas pakan formulasi silase sama dengan pakan tanpa formulasi tapi memiliki tingkat rasio efisiensi protein yang rendah.

    ANALISIS PERBANDINGAN SEKAM PADI SEBAGAI SUBTITUSI ES DALAM PENYIMPANAN IKAN

    Get PDF
    Ikan merupakan bahan pangan yang cepat mengalami pembusukan. Pembusukan tersebut menyebabkan mutu ikan cepat menurun. Proses pembusukan ikan juga berlangsung sangat cepat pasca kematiannya. Berbagai cara telah dilakukan untuk mempertahankan kesegaran ikan dalam penyimpanan misalnya dengan menggunakan es dan alat pendingin. Akan tetapi, alat-alat tersebut memiliki harga yang sangat mahal dan es merupakan zat yang mudah mencair. Merujuk pada permasalahan di atas, untuk mencari alternatif lain maka diperlukan percobaan-percobaan yang dapat digunakan untuk mengurangi jumlah es pada nilai tertentu untuk penyimpanan ikan seperti sekam padi. Sekam padi dapat memperlambat proses pencairan es sehingga es yang kita gunakan dalam pendinginan ikan tidak cepat mencair, proses pendinginan juga dapat berlangsung lebih lama. Penelitian ini bertujuan untuk mengobservasi penggunaan sekam padi untuk mengurangi jumlah es pada nilai tertentu dalam penyimpanan ikan guna mempertahankan mutu ikan. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif. Responden penelitian bertindak sebagai penilai sifat organoleptik sebanyak 10 orang. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ikan yang diberikan perlakuan es dan sekam padi dengan perbandingan 1 : 1 : 1 memiliki nilai organoleptik paling tinggi jika dibandingkan dengan ikan yang diberikan perlakuan lainnya. Hal ini terjadi karena adanya keseimbangan antara jumlah es dan sekam padi sehingga ikan yang disimpan dengan menggunakan perbandingan ini akan lebih lama dalam proses penyimpanan. ย Ikan merupakan bahan pangan yang cepat mengalami pembusukan. Pembusukan tersebut menyebabkan mutu ikan cepat menurun. Proses pembusukan ikan juga berlangsung sangat cepat pasca kematiannya. Berbagai cara telah dilakukan untuk mempertahankan kesegaran ikan dalam penyimpanan misalnya dengan menggunakan es dan alat pendingin. Akan tetapi, alat-alat tersebut memiliki harga yang sangat mahal dan es merupakan zat yang mudah mencair. Merujuk pada permasalahan di atas, untuk mencari alternatif lain maka diperlukan percobaan-percobaan yang dapat digunakan untuk mengurangi jumlah es pada nilai tertentu untuk penyimpanan ikan seperti sekam padi. Sekam padi dapat memperlambat proses pencairan es sehingga es yang kita gunakan dalam pendinginan ikan tidak cepat mencair, proses pendinginan juga dapat berlangsung lebih lama. Penelitian ini bertujuan untuk mengobservasi penggunaan sekam padi untuk mengurangi jumlah es pada nilai tertentu dalam penyimpanan ikan guna mempertahankan mutu ikan. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif. Responden penelitian bertindak sebagai penilai sifat organoleptik sebanyak 10 orang. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ikan yang diberikan perlakuan es dan sekam padi dengan perbandingan 1 : 1 : 1 memiliki nilai organoleptik paling tinggi jika dibandingkan dengan ikan yang diberikan perlakuan lainnya. Hal ini terjadi karena adanya keseimbangan antara jumlah es dan sekam padi sehingga ikan yang disimpan dengan menggunakan perbandingan ini akan lebih lama dalam proses penyimpanan

    HISTOLOGI PERKEMBANGAN ORGAN LARVA YELLOWFIN TUNA (Thunnus albacares)

    Get PDF
    Yellowfin tuna merupakan komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Kendala utama dalam budidaya yaitu terjadi kematian massal pada stadia awal pemeliharaan larva. Pengamatan terkait perkembangan awal organ larva yellowfin tuna secara histologi perlu dilakukan untuk mendapat informasi dasar dalam pengembangan teknik pemeliharaan larva. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan organ penglihatan, penciuman, gelembung renang dan sistem pencernaan larva secara histologi. Sampel larva diambil sebanyak 15 ekor pada umur satu hari (D1), D3, D5, D7, D10 dan D13. Metode histologi yang digunakan adalah metode Bouins. Sampel direndam selama 4โ€“6 jam pada larutan bouins, dipindahkan ke dalam larutan berisi alkohol 70% untuk didehidrasi dengan konsentrasi bertingkat hingga 100%. Sampel dijernihkan dalam xylene dan diresapkan dalam paraffin, dipotong dengan microtom dan pewarnaan dengan haematoxylin dan eosin. Hasil menunjukkan pada D1 sistem pencernaan berbentuk tabung lurus sederhana, sistem penglihatan, penciuman dan gelembung renang belum terbentuk sempurna. Hari ke 3 saluran pencernaan mulai terbentuk, organ telinga dalam, penciuman, mata, esofagus, lambung dan ginjal juga sudah mulai terbentuk. Retina dan pigmen mata sudah berkembang lebih baik, gelembung renang juga sudah terbentuk dan organ penciuman semakin jelas pada umur D5. Organ-organ larva terus berkembang seiring dengan pertumbuhan dan pertambahan umur larva. Berdasarkan perkembangan penglihatan, penciuman, pencernaan larva yellowfin tuna sudah bisa diberikan pakan pertama pada hari ke 3 setelah menetas.Yellowfin tuna merupakan komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Kendala utama dalam budidaya yaitu terjadi kematian massal pada stadia awal pemeliharaan larva. Pengamatan terkait perkembangan awal organ larva yellowfin tuna secara histologi perlu dilakukan untuk mendapat informasi dasar dalam pengembangan teknik pemeliharaan larva. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan organ penglihatan, penciuman, gelembung renang dan sistem pencernaan larva secara histologi. Sampel larva diambil sebanyak 15 ekor pada umur satu hari (D1), D3, D5, D7, D10 dan D13. Metode histologi yang digunakan adalah metode Bouins. Sampel direndam selama 4โ€“6 jam pada larutan bouins, dipindahkan ke dalam larutan berisi alkohol 70% untuk didehidrasi dengan konsentrasi bertingkat hingga 100%. Sampel dijernihkan dalam xylene dan diresapkan dalam paraffin, dipotong dengan microtom dan pewarnaan dengan haematoxylin dan eosin. Hasil menunjukkan pada D1 sistem pencernaan berbentuk tabung lurus sederhana, sistem penglihatan, penciuman dan gelembung renang belum terbentuk sempurna. Hari ke 3 saluran pencernaan mulai terbentuk, organ telinga dalam, penciuman, mata, esofagus, lambung dan ginjal juga sudah mulai terbentuk. Retina dan pigmen mata sudah berkembang lebih baik, gelembung renang juga sudah terbentuk dan organ penciuman semakin jelas pada umur D5. Organ-organ larva terus berkembang seiring dengan pertumbuhan dan pertambahan umur larva. Berdasarkan perkembangan penglihatan, penciuman, pencernaan larva yellowfin tuna sudah bisa diberikan pakan pertama pada hari ke 3 setelah menetas

    DETERMINASI STATUS MUTU AIR DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) SERAYU MENUJU PENGELOLAAN DAS BERKELANJUTAN

    Get PDF
    Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu sebagian besar telah mengalami kerusakan dan pencemaran lingkungan yang mengakibatkan menurunnya kualitas air. Masalah utama di DAS Serayu diakibatkan oleh aktivitas masyarakat, industri, dan pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi dan status mutu DAS Serayu berdasarkan parameter fisika-kimia perairan menggunakan metode Storet. Pengambilan sampel air dilakukan pada 18 stasiun dengan teknik purposive random sampling, kemudian dianalisis secara eksitu. Hasil menunjukkan bahwa status mutu DAS Serayu termasuk dalam kategori kelas C atau tercemar sedang dengan nilai -18. Nilai parameter COD, DO, dan fosfat terpantau tidak sesuai standar peruntukan yang telah ditetapkan. Sebagian besar DO kurang memenuhi standar, dimana nilai terendah berada pada stasiun 3 dengan nilai sebesar 0,58 mg/L. Nilai tertinggi COD sebesar 129,2 mg/L terdapat pada stasiun 8; dan nilai fosfat tertinggi berada pada stasiun 4 sebesar 0,58 mg/L. Berdasarkan hasil penelitian, kondisi DAS Serayu perlu dimonitor secara berkala. Selain itu, perlu adanya upaya pengendalian atau strategi dalam pengelolaan DAS Serayu dengan mengikutsertakan keterlibatan semua pihak, termasuk komunitas masyarakat lokal.Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu sebagian besar telah mengalami kerusakan dan pencemaran lingkungan yang mengakibatkan menurunnya kualitas air. Masalah utama di DAS Serayu diakibatkan oleh aktivitas masyarakat, industri, dan pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mendeterminasi tingkat pencemaran di DAS Serayu dilihat dari parameter fisika dan kimia berdasarkan metode Storet. Pengambilan sampel air dilakukan pada 18 stasiun dengan teknik purposive random sampling, kemudian dianalisis secara insitu dan eksitu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa parameter perairan melampaui standar mutu, seperti chemical oxygen demand (COD), dissolved oxygen (DO), dan fosfat pada beberapa lokasi penelitian. tingkat pencemaran DAS Serayu berdasarkan metode Storet termasuk kategori tercemar ringan untuk keperluan perikanan.  Berdasarkan hasil penelitian, DAS Serayu perlu selalu dimonitor. Selain itu, perlu adanya upaya pengendalian atau strategi dalam pengelolaan DAS Serayu dengan mengikutsertakan keterlibatan semua pihak, termasuk komunitas masyarakat lokal

    TEKNOLOGI BUDIDAYA RUMPUT LAUT Gelidium sp. DENGAN SUBSTRAT BERBEDA DI TAMBAK

    Get PDF
    Rumput laut Gelidium sp. merupakan jenis alga merah penghasil agar yang banyak diminati di beberapa negara karena memiliki kualitas yang lebih baik untuk membuat agar bacto dan agarose dan mampu hidup pada berbagai substrat perairan seperti pasir, pecahan karang dan substrat yang memiliki sumber nutrien yang lebih baik. Gelidium sp. ini memiliki karakteristik hidup pada lingkungan berpasir dan berbatu, sehingga perlu dilakukan uji coba dengan menggunakan beberapa substrat ditambak yang sesuai dengan karakterisrik lingkungan hidupnya. Penelitian ini bertujuan menentukan substrat dasar perairan yang layak untuk budidaya rumput laut Gelidium sp. pada Desa Bori Masunggu, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang didesain menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan, perlakuan tersebut adalah : (1) Substrat berpasir (S.P), (2) Substrat Berlumpur (S.L), (3) Substrat pasir berlumpur (S.PB) - (Pasir 75% dan lumpur 25%) (4) Substrat lumpur berpasir (S.LB) โ€“ (Lumpur 75% dan pasir 25%). Parameter yang diamati dalam pnelitian ini adalah laju pertumbuhan harian Gelidium sp. serta kualitas air sebagai parameter pendukung penelitian. Nilai laju pertumbuhan harian Gelidium sp. yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis ragam (anova) untuk melihat pengaruh pada perlakuan, dan apabila terdapat pengaruh (P<0,05) maka dilanjutkan dengan uji W-Tuckey dengan menggunakan bantuan aplikasi SPSS yang dilengkapi dengan analisa grafik dengan menggunakan bantuan Ms. Excel sedangkan data kualitas air selama masa pemeliharaan diolah menggunakan Ms. Excel berbentuk grafik dan dibahas secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian perlakuan substrat terbaik untuk meningkatkan laju pertumbuhan harian rumput laut jenis Gelidium sp adalah subsrat pasir berlumpur yang mampu meningkatkan laju pertumbuhan harian hingga 19,74 sampai ada minggu ke-8.Rumput laut Gelidium sp. merupakan jenis alga merah penghasil agar yang banyak diminati di beberapa negara karena memiliki kualitas yang lebih baik untuk membuat agar bacto dan agarose dan mampu hidup pada berbagai substrat perairan seperti pasir, pecahan karang dan substrat yang memiliki sumber nutrien yang lebih baik. Gelidium sp. ini memiliki karakteristik hidup pada lingkungan berpasir dan berbatu, sehingga perlu dilakukan uji coba dengan menggunakan beberapa substrat ditambak yang sesuai dengan karakterisrik lingkungan hidupnya. Penelitian ini bertujuan menentukan substrat dasar perairan yang layak untuk budidaya rumput laut Gelidium sp. pada Desa Bori Masunggu, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang didesain menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan, perlakuan tersebut adalah : (1) Substrat berpasir (S.P), (2) Substrat Berlumpur (S.L), (3) Substrat pasir berlumpur (S.PB) - (Pasir 75% dan lumpur 25%) (4) Substrat lumpur berpasir (S.LB) โ€“ (Lumpur 75% dan pasir 25%). Parameter yang diamati dalam pnelitian ini adalah laju pertumbuhan harian Gelidium sp. serta kualitas air sebagai parameter pendukung penelitian. Nilai laju pertumbuhan harian Gelidium sp. yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis ragam (anova) untuk melihat pengaruh pada perlakuan, dan apabila terdapat pengaruh (P<0,05) maka dilanjutkan dengan uji W-Tuckey dengan menggunakan bantuan aplikasi SPSS yang dilengkapi dengan analisa grafik dengan menggunakan bantuan Ms. Excel sedangkan data kualitas air selama masa pemeliharaan diolah menggunakan Ms. Excel berbentuk grafik dan dibahas secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian perlakuan substrat terbaik untuk meningkatkan laju pertumbuhan harian rumput laut jenis Gelidium sp adalah subsrat pasir berlumpur yang mampu meningkatkan laju pertumbuhan harian hingga 19,74 sampai ada minggu ke-8

    EFESIENSI TEPUNG KARKAS LALAT BLACK SOLDIER FLY TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias gariepinus)

    Get PDF
    Ikan Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus) merupakan jenis ikan air tawar yang menjadi primadona di Indonesia karena memiliki pertumbuhan yang cukup cepat dibandingkan dengan jenis lainnya. Pakan merupakan salah satu komponen penting dalam kegiatan budidaya ikan untuk mendukung pertumbuhan. Kenaikanย  harga pakan ikan tanpa disertai kenaikan harga jual ikan merupakan permasalahan yang harus dihadapi oleh setiap pembudidaya. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya pencarian bahan baku dengan harga murah serta mudah. Karkas lalat black soldier memungkinkan sebagai alternatif pengganti tepung ikan. Saat ini karkas lalat black soldier belum banyak yang digunakan sebagai bahan baku untuk pakan ikan, padahal jenis insekta ini mengandung sumber protein yang relatif tinggi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengkaji potensi penambahan tepung karkas lalat black soldier untuk pertumbuhan dan kelulushidupan ikan Lele Sangkuriang. Karkas lalat black soldier memiliki potensi untuk dijadikan pengganti tepung ikan sebanyak 50%. Pakan uji yang diformulasikan mengandung protein 37-38%. Performa pakan uji dibandingkan dengan kontrol menggunakan uji Duncan. Setelah diaklimatisasi ikan lele Sangkuriang ukuran 5-7 cm yang ditebar secara acak ke dalam 15 akuarium berukuran 100 cm x 50 cm x 51 cm dengan padat tebar 25 ekor/m3 dan diberi pakan sebanyak 6% dari total bobot seluruh ikan uji selama 35 hari masa pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan ikan lele Sangkuriang berbeda nyata antara pakan uji formulasi KL 50% dengan pakan kontrol (P<0.05). Dengan penggunaan Tepung Karkas lalat black soldier dapat meningkatkan pertumbuhan bobot mutlak sebesar 3.26 g sampai 5.22 g dan kelangsungan hidup ikan lele sangkuriang 77.33 โ€“ 86.67%.Ikan Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus) merupakan jenis ikan air tawar yang menjadi primadona di Indonesia karena memiliki pertumbuhan yang cukup cepat dibandingkan dengan jenis lainnya. Pakan merupakan salah satu komponen penting dalam kegiatan budidaya ikan untuk mendukung pertumbuhan. Kenaikanย  harga pakan ikan tanpa disertai kenaikan harga jual ikan merupakan permasalahan yang harus dihadapi oleh setiap pembudidaya. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya pencarian bahan baku dengan harga murah serta mudah. Karkas lalat black soldier memungkinkan sebagai alternatif pengganti tepung ikan. Saat ini karkas lalat black soldier belum banyak yang digunakan sebagai bahan baku untuk pakan ikan, padahal jenis insekta ini mengandung sumber protein yang relatif tinggi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengkaji potensi penambahan tepung karkas lalat black soldier untuk pertumbuhan dan kelulushidupan ikan Lele Sangkuriang. Karkas lalat black soldier memiliki potensi untuk dijadikan pengganti tepung ikan sebanyak 50%. Pakan uji yang diformulasikan mengandung protein 37-38%. Performa pakan uji dibandingkan dengan kontrol menggunakan uji Duncan. Setelah diaklimatisasi ikan lele Sangkuriang ukuran 5-7 cm yang ditebar secara acak ke dalam 15 akuarium berukuran 100 cm x 50 cm x 51 cm dengan padat tebar 25 ekor/m3 dan diberi pakan sebanyak 6% dari total bobot seluruh ikan uji selama 35 hari masa pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan ikan lele Sangkuriang berbeda nyata antara pakan uji formulasi KL 50% dengan pakan kontrol (P<0.05). Dengan penggunaan Tepung Karkas lalat black soldier dapat meningkatkan pertumbuhan bobot mutlak sebesar 3.26 g sampai 5.22 g dan kelangsungan hidup ikan lele sangkuriang 77.33 โ€“ 86.67%

    KERAGAMAN GENETIK GUPPY (Poecilia reticulata) MENGGUNAKAN METODE RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA)

    Get PDF
    Guppy (Poecilia reticulata) merupakan ikan hias yang memiliki variasi warna yang unik dan bentuk ekor yang menarik.ย  Puluhan bahkan mungkin ratusan strain sudah dihasilkan oleh pembudidaya di berbagai daerah.ย  Tujuan penelitian adalah mengetahui keragaman genetik beberapa strain Guppy dari Tangerang, Depok, dan Purwokerto.ย  Penelitian dilakukan dengan metode eksplorasi.ย  Lima belas individu Guppy dengan strain berbeda yaituย  Albino Full Red (AFR), Black Moscow, Lemongrass, HB Red, dan Platinum Red diamati keragaman genetiknya. Sampel Guppy diperoleh dari daerah Tangerang, Depok, dan Purwokerto.ย  Sampel DNA diekstraksi dari sirip ekor.ย  Analisis polimorfisme DNA menggunakan teknik RAPD dengan primer OPA-7 dan OPA-2.ย  Hasil RAPD-PCR dianalisis menggunakan software PyElph 1.4.ย ย  Hasil penelitian menunjukkan ukuran pita DNA pada primer OPA-7 berkisar 700-1300 bp dan primer OPA-2 berkisar 450-1500 bp.ย  Kedua primer menghasilkan masing-masing 5 pita DNA.ย  Analisis filogenetik pada kedua primer menghasilkan dua kelompok besar dan dua sub kelompok pada salah satu kelompok besar. Hasil analisis filogenetik menunjukkan distribusi strain secara acak dalam kelompok yang terbentuk.ย  Keragaman genetik ikan Guppy dengan teknik RAPD-PCR menggunakan primer OPA-7 dan OPA-2 pada penelitian ini belum dapat menghasilkan penanda genetik spesifik untuk kelima strain yang ditelitiGuppy (Poecilia reticulata) merupakan ikan hias yang memiliki variasi warna yang unik dan bentuk ekor yang menarik.ย  Puluhan bahkan mungkin ratusan strain sudah dihasilkan oleh pembudidaya di berbagai daerah.ย  Tujuan penelitian adalah mengetahui keragaman genetik beberapa strain Guppy dari Tangerang, Depok, dan Purwokerto.ย  Penelitian dilakukan dengan metode eksplorasi.ย  Lima belas individu Guppy dengan strain berbeda yaituย  Albino Full Red (AFR), Black Moscow, Lemongrass, HB Red, dan Platinum Red diamati keragaman genetiknya. Sampel Guppy diperoleh dari daerah Tangerang, Depok, dan Purwokerto.ย  Sampel DNA diekstraksi dari sirip ekor.ย  Analisis polimorfisme DNA menggunakan teknik RAPD dengan primer OPA-7 dan OPA-2.ย  Hasil RAPD-PCR dianalisis menggunakan software PyElph 1.4.ย ย  Hasil penelitian menunjukkan ukuran pita DNA pada primer OPA-7 berkisar 700-1300 bp dan primer OPA-2 berkisar 450-1500 bp.ย  Kedua primer menghasilkan masing-masing 5 pita DNA.ย  Analisis filogenetik pada kedua primer menghasilkan dua kelompok besar dan dua sub kelompok pada salah satu kelompok besar. Hasil analisis filogenetik menunjukkan distribusi strain secara acak dalam kelompok yang terbentuk.ย  Keragaman genetik ikan Guppy dengan teknik RAPD-PCR menggunakan primer OPA-7 dan OPA-2 pada penelitian ini belum dapat menghasilkan penanda genetik spesifik untuk kelima strain yang ditelit

    PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG KULIT MANGGIS (Garcinia mangostana) DALAM PAKAN UNTUK MENINGKATKAN KELANGSUNGAN HIDUP BENIH IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy) UKURAN 3-4 CM

    Get PDF
    Gurami (Osphronemus gouramy) merupakan komoditas ikan air tawar yang memiliki nilai ekonomi tinggi dengan permasalahan tingkat kematian yang tinggi pada tahap larva dan benih hingga 50-70%. Upaya pencegahan pada sistem budidaya sedang diarahkan pada penggunaan imunostimulan dari bahan alami salah satunya kulit Manggis karena mengandung senyawa xantone yang cukup kuat sebagai antioksidan, antiproliferartif, dan antimicrobial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan jenis tepung kulit manggis (Garcinia mangostana) yang berbeda pada pakan terhadap kelangsungan hidup benih ikan gurami (Osphronemus gouramy) berukuran 3-4 cm selama 30 hari. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan 4 perlakuan yakni penambahan tepung kulit Manggis sebanyak 0, 5, 10 dan 15gr/kg pakan. Data yang diamati adalah kelangsungan hidup benih ikan gurami dengan parameter pendukung kualitas air meliputi suhu dan DO. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan perhitungan analisis varians (ANOVA) dengan membandingkan nilai signifikansi uji F tabel pada taraf 5%. Rata-rata nilai kelangsungan hidup benih ikan gurami (Osphronemus gouramy) pada perlakuan A sebesar 34%, perlakuan B sebesar 58%, perlakuan C sebesar 68%, dan terakhir perlakuan D sebesar 84%. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh pemberian tepung kulit manggis (Garcinia mangostana) dimana pada perlakuan D dengan dosis 15 gr/kg pakan dapat meningkatkan kelangsungan hidup benih ikan gurami (Osphronemus gouramy) sebesar 84%. Data parameter kualitas air diperoleh suhu berkisar antara 27,2-28,6ยฐC dan kandungan oksigen terlarut (DO) yaitu 6,8-7,8 ppm. Saran untuk penelitian selanjutnya, yaitu menggunakan alternatif penambahan pakan alami yang berbeda dan ukuran benih ikan yang berbeda untuk menambah informasi bagi keberlanjutan budidaya.Gurami (Osphronemus gouramy) merupakan komoditas ikan air tawar yang memiliki nilai ekonomi tinggi dengan permasalahan tingkat kematian yang tinggi pada tahap larva dan benih hingga 50-70%. Upaya pencegahan pada sistem budidaya sedang diarahkan pada penggunaan imunostimulan dari bahan alami salah satunya kulit Manggis karena mengandung senyawa xantone yang cukup kuat sebagai antioksidan, antiproliferartif, dan antimicrobial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan jenis tepung kulit manggis (Garcinia mangostana) yang berbeda pada pakan terhadap kelangsungan hidup benih ikan gurami (Osphronemus gouramy) berukuran 3-4 cm selama 30 hari. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan 4 perlakuan yakni penambahan tepung kulit Manggis sebanyak 0, 5, 10 dan 15gr/kg pakan. Data yang diamati adalah kelangsungan hidup benih ikan gurami dengan parameter pendukung kualitas air meliputi suhu dan DO. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan perhitungan analisis varians (ANOVA) dengan membandingkan nilai signifikansi uji F tabel pada taraf 5%. Rata-rata nilai kelangsungan hidup benih ikan gurami (Osphronemus gouramy) pada perlakuan A sebesar 34%, perlakuan B sebesar 58%, perlakuan C sebesar 68%, dan terakhir perlakuan D sebesar 84%. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh pemberian tepung kulit manggis (Garcinia mangostana) dimana pada perlakuan D dengan dosis 15 gr/kg pakan dapat meningkatkan kelangsungan hidup benih ikan gurami (Osphronemus gouramy) sebesar 84%. Data parameter kualitas air diperoleh suhu berkisar antara 27,2-28,6ยฐC dan kandungan oksigen terlarut (DO) yaitu 6,8-7,8 ppm. Saran untuk penelitian selanjutnya, yaitu menggunakan alternatif penambahan pakan alami yang berbeda dan ukuran benih ikan yang berbeda untuk menambah informasi bagi keberlanjutan budidaya

    295

    full texts

    354

    metadata records
    Updated in lastย 30ย days.
    Jurnal Perikanan UNRAM (Universitas Mataram) is based in Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! ๐Ÿ‘‡